Narsistik Yesus Buat Hatiku Tenang

Matius 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan.

Sekilas kesan saya terhadap Yesus itu narsistik saat merefleksikan Matius 11:28-30, khususnya ayat 29 itu. Kenapa?

Narsis merupakan salah satu istilah populer yang sering dilontarkan oleh kalangan anak muda untuk mendeskripsikan seseorang yang terlalu percaya diri (pede) dan bangga akan diri sendiri.

Meskipun kata Narsisme pertama kali dipopulerkan oleh psikolog ternama, Sigmund Freud, namun dalam keterbatasan saya ini mengartikan nar.sis.tik sebagai kepedulian yang berlebihan pada diri sendiri atau percaya diri karena mengatakan bahwa dirinya lemah lembut dan rendah hati.

Akan tetapi, makna narsistik lebih luas mendalam bagi saya yang mengimani Yesus ialah cinta kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia (bdk. Yohanes 3:16), sehingga Kasih Allah itu menjadi bagian dari hidup-Nya untuk menjadi teladan saya dan umat manusia lainnya (lihat dan bdk. 1 Petrus 2:21).

Jadi saya menganggap Yesus itu narsistik dalam arti baik, positif, yang merupakan sikap iman saya kepada-Nya karena berkaitan dengan Kuk dalam refleksi kali ini.

Kata “Kuk” adalah palang kayu yang dipasang pada tengkuk sapi atau keledai agar mereka dapat menarik bajak atau kereta. Kuk merupakan lambang ketaatan dan kerja keras (AES-LAI, 2010).

Saya mengimani bahwa Yesus memasang Kuk yang ringan dan tidak melukai.

Maukah saya memikul Kuk yang Yesus pasang? dan maukah saya belajar pada-Nya yang lemah lembut dan rendah hati?

Ya, saya mau pikul Kuk dari Yesus. Saya mau belajar dari Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, maka hati saya mendapat ketenangan.

Demikianlah saya menyadari saat merasakan beban berat hingga saya mendapatkan ketenangan dari waktu ke waktu hingga menapaki tahun 2021 ini.

Bacaan injil kali ini menginspirasi saya untuk datang kepada Yesus bukan hanya di saat lemah, letih, lesu, lunglai dan berbeban berat saja, namun juga di saat gembira, bahagia, senang, dan suka cita saya mendatangi Yesus dengan doa ucapan syukur.

Para sahabat terkasih,
Yesus meminta kita yang letih lesu dan berbeban berat datang kepada-Nya. Sebab Yesus itu lemah lembut dan rendah hati. Ia memberikan kelegaan kepada hati, jiwa, dan hidup kita.

Maukah kita datang kepada Yesus?

+Dimuliakanlah Tuhan, detik ini dan selama-lamanya. Amin.+

Refleksi Awam oleh SY Melki SP di Bekasi Utara, PW S. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja, 15 Juli 2021.

Leave a Reply