Peran Ayah dalam Pengasuhan Pengaruhi Masa Depan Anak

HATIYANGBERTELINGA.COM – Seorang ayah punya penting dalam mendidik anak di era pandemi, sebab perkembangan kognitif, kompetensi sosial anak-anak sejak dini dipengaruhi hubungan emosional yang diberikan ayah, kata Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi), Prof Dr Ir Netti Herawati, MSi.

Seorang ayah yang “ada tapi tiada” ketika berada di rumah karena kurang berinteraksi dengan anak dapat membuat buah hati merasa terlantar.

“Ayah dan ibu berbeda, konsep diri ayah pada anak tidak bisa digantikan ibu,” kata Netti dalam webinar kesehatan, Kamis (8/4/2021).

Dia mengajak para ayah untuk memposisikan diri sebagai “ayah” ketika berada di rumah, berkomitmen untuk mencurahkan perhatian kepada anak.

Meski lelah setelah bekerja, posisikan diri sebagai ayah yang siap bermain dan berinteraksi dengan buah hati, bukan seorang laki-laki dewasa yang penat gara-gara pekerjaan, kemudian tenggelam dalam dunianya sendiri dan tidak ingin diganggu oleh anak.

“Banyak ayah pulang ke rumah dengan wajah ditekuk dan merasa rumah adalah tempatnya tidak mau diganggu, karena di kantor dia sudah diganggu. Kemudian dia sibuk sendiri dan lupa konsep diri sebagai ayah,” ujar Netti.

Ketika ayah selesai bekerja, atau baru pulang ke rumah, yang ada di hadapan anak adalah bapak yang siap bermain dengannya.

Maka, saat kewajiban kantor sudah rampung, carilah anak dan panggil dengan kata-kata, suara dan intonasi yang baik serta menyenangkan untuk didengar.

Peran seorang ayah untuk anak penting sejak awal, bahkan ketika masa kehamilan sang ibu.

Interaksi antara ayah dan ibu akan mempengaruhi janin di dalam perutnya.

Oleh karena itu, Netti menegaskan seorang ayah harus menunjukkan kebahagiaan saat sedang bersama istri yang mengandung.

Buatlah interaksi yang menyenangkan, sebab interaksi negatif juga berdampak kepada janin.

“Kalau interaksi negatif, itu akan jadi pendidikan anak pertama, belajar kekerasan dari ayah. Begitu ada kata-kata keras, anak akan merespons.”

Setelah itu, ayah juga bisa berinteraksi langsung dengan janin dengan cara berbicara di dekat perut ibu yang mengandung.

Ketika anak sudah dilahirkan, Netti mengatakan jangan sia-siakan waktu untuk terus berinteraksi dan bermain dengan dengan buah hati.

Akan lebih baik bila ayah punya jadwal aktivitas tertentu dengan anak untuk menjalin kedekatan.

Caranya, bisa sesederhana membuat ayah bertugas jadi orang yang membangunkan anak setiap pagi dengan intonasi lembut.

Bisa juga seorang ayah membuat jadwal membaca buku untuk anak setiap tidur.

Lakukan secara rutin sehingga pengalaman itu akan tersimpan di dalam memori jangka panjang buah hati. Sebab, kualitas dan kuantitas interaksi dengan anak sama-sama penting.

Perhatikan mula masa-masa keemasan perkembangan, yakni usia 0-2 tahun. Itu adalah masa ketika anak merekam banyak hal untuk perkembangan otaknya, semua yang didengar akan tersimpan di dalam otak. Di masa itu, interaksi ayah dan ibu yang baik menjadi sangat penting.

“Anak jadi belajar cara komunikasi, tutur kata, intonasi, frekuensi suara tegas dan lembut direkam di otak.”

Interaksi ayah dan anak harus semakin intensif ketika buah hati mencapai usia 3-7 tahun.

Ajaklah anak bicara dengan kalimat sempurna dan lengkap sebagai contoh yang baik, juga luangkan waktu khusus untuk berinteraksi hanya dengan anak, misalnya mengajak anak untuk berolahraga bersama atau aktivitas lain yang lebih mengandalkan kekuatan fisik.

Seorang ayah hebat, ujar Netti, harus bisa mendidik mengasuh, membuat anak sehat lahir batin serta asupan gizinya terpenuhi, melindungi serta menyejahterakan istri serta buah hati di dalam keluarganya.


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Kiat Agar Anak Berani Laporkan Kekerasan dan Pelecehan Seksual

    Anak, orang tua, melaporkan tindak kekerasan, pelecehan, seksual, Psikolog klinis, Meiri Dias Tuti, M.Psi., Psikolog, Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia dalam Himpunan Psikologi Indonesia, Kiat Agar Anak Berani Laporkan Tindak Kekerasan dan Pelecehan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Spiritualitas

    Katolik Kutip 1 Timotius 2:1-4 dan Doa Santo Fransiskus Asisi Saat Doa Kebangsaan di Monas

    Katolik Kutip 1 Timotius 2:1-4 dan Doa Santo Fransiskus Asisi Saat Doa Kebangsaan di Monas

    Mengucapkan Hal yang Tersembunyi

    Mengucapkan Hal yang Tersembunyi

    Uskup Larantuka Ajak Umat Katolik Ziarah Rohani ke Bukit Fatima dan Kapela Gabriel Manek

    Uskup Larantuka Ajak Umat Katolik Ziarah Rohani ke Bukit Fatima dan Kapela Gabriel Manek

    Rosario Jadi Harta Diaspora Asal Flores Menurut Uskup Hans Monteiro

    Rosario Jadi Harta Diaspora Asal Flores Menurut Uskup Hans Monteiro

    Uskup Hans Monteiro Tegaskan Pelecehan Seksual Dosa Berat, Hukumannya Berat

    Uskup Hans Monteiro Tegaskan Pelecehan Seksual Dosa Berat, Hukumannya Berat

    Uskup Larantuka Harapkan Diaspora Flotim-Lembata Jadi Duta Damai

    Uskup Larantuka Harapkan Diaspora Flotim-Lembata Jadi Duta Damai

    Uskup Yohanes Hans Monteiro: Memahami Imago Dei Maka Kita Tidak Ada Perpecahan atau Perang

    Uskup Yohanes Hans Monteiro: Memahami Imago Dei Maka Kita Tidak Ada Perpecahan atau Perang

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading