Jakarta, hatiyangbertelinga.com – Mgr Yohanes Hans Monteiro berpesan kepada diaspora atau warga perantau asal Lembata dan Flores Timur (Flotim), baik asal kampung dan pulau serta agamanya, tidak tercabut dari akarnya, budaya yang penuh gotong royong dan persaudaraan untuk menjadi duta damai.
“Yang pertama bahwa masyarakat diaspora tidak tercabut dari akarnya,” kata Uskup Hans Monteiro dalam jumpa media usai Misa Syukur Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka dan Perjumpaan Diaspora Flores Timur–Lembata se-Jabodetabek di Jakarta, Minggu, 26 Juli 2026.
Uskup Hans Monteiro menyampaikan harapan kepada warga perantau untuk menjadi duta damai di tengah kehidupan majemuk di wilayah Jabodetabek, pada khususnya, serta Indonesia pada umumnya serta di manapun mereka berada.
“Satu harapan yang baru untuk menjadi duta damai di tengah kehidupan majemuk, pluralitas di sini (Jakarta dan sekitarnya), di situlah hadirnya masyarakat Flores pada umumnya, Larantuka – Flores Timur – Lembata pada khususnya menjadi duta damai,” kata Uskup Hans Monteiro.
Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro
Pada kesempatan itu, Uskup yang ditahbiskan pada 11 Februari 2026 di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Flores Timur itu juga menguraikan tentang arah pastoral Keuskupan Larantuka yang membicarakan pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman.
Arah pastoral ini menurutnya tepat karena keadaan ekonomi di Lembata dan Flores Timur yang masih sangat terbatas.
“Kita berusaha supaya dengan kemampuannya ada, rasa percaya diri ditumbuhkan, potensi yang ada dikembangkan. Untuk itu tema pertama pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman,” katanya.
Kunjungi juga: Uskup Yohanes Hans Monteiro: Memahami Imago Dei Maka Kita Tidak Ada Perpecahan atau Perang
Sementara itu, Ketua Panitia, Kolonel Yohanes Wain mengatakan, keterlibatan sesama perantau Lembata dan Flores Timur yang beragama Islam bukan suatu kebetulan. Hal itu, tuturnya, adalah cerminan langsung dari budaya etnis Lamaholot — etnis mayoritas yang mendiami Flores Timur dan Lembata — yang sejak zaman leluhur menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kesetaraan, dan toleransi sebagai filosofi hidup bersama (gemohing, semangat gotong royong lintas sekat), yang terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun hingga ke tanah rantau.
Dia juga bersyukur bahwa kegiatan itu dapat terselenggara dengan baik, meski kepanitiaan bekerja dalam waktu yang relatif singkat. Semua itu berkat kerja sama dan keterlibatan berbagai elemen perantau dari dua kabupaten tersebut.
Ribuan umat diaspora Keuskupan Larantuka di Jabodetabek, menghadiri misa syukur tahbisan episkopal Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Monteiro di Gedung Zeni Angkatan Darat, Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Ribuan umat tersebut merupakan perantau dari Kabupaten Lembata dan Flores Timur, yang merupakan wilayah Keuskupan Larantuka. Begitu tiba, Mgr Hans Monteiro langsung disambut dengan tarian perang Hedung dari Adonara, dan sapaan adat menggunakan dialek Lamaholot dan pengalungan selendang tenun dari para sesepuh perantau di Jakarta.
Kunjungi juga: Raja Larantuka: Semana Santa itu Tradisi Doa 13 Suku, Baik Jadi Ikon Katolik Nasional
Menariknya, dalam proses perarakan kedatangan itu, warga perantau Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam turut berpartisipasi menyambut Uskup Hans Monteiro, dan mengantarkannya ke ruang transit, sebelum memimpin perayaan ekaristi. Mereka juga berpartisipasi menampilkan kesenian kasidahan dalam resepsi seusai perayaan ekaristi.
Dalam perayaan ekaristi yang digelar secara konselebran bersama, Uskup Hans mengutip bacaan Injil hari itu tentang seorang petani penyewa ladang yang menemukan harta karun di tanah tersebut. Ia kemudian berupaya agar bisa mendapatkan tanah itu, salah satu caranya adalah dia menjual hartanya kemudian berusaha mendapatkan tanah yang mengandung harta karun tersebut.
Berdasarkan bacaan injil itu, menurutnya menemukan harta yang sesungguhnya adalah menemukan Yesus sebagai harta kekayaan yang paling dasariah dan utama. Harta itulah yang hendaknya dikejar oleh umat perantau Keuskupan Larantuka di Jabodetabek.
Kunjungi juga: Menag Mau Jadikan Semana Santa Larantuka sebagai Ikon Katolik Dunia
“Itulah yang kita kejar dan kita cari, yang akan melipat gandakan seluruh harta kehidupan kita di dunia ini. Bagi saudara-saudariku saya yakin dan percaya bahwa hari ini kita semua ada di sini bukan pertama-tama karena saya dipilih jadi Uskup Laratuka, orang baru yang datang di Jakarta ini, tetapi pertama-tama karena kita semua ingin menemukan dan mendapat berkat dari Tuhan untuk seluruh perjalanan hidup kita sampai dengan saat ini,” ucapnya.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan reflektif, apakah para umat diaspora Keuskupan Larantuka sudah menemukan harta karun yang paling berharga itu yakni Yesus, dalam interaksi dengan sesama manusia, ataukah pencarian itu tertutupi oleh harta duniawi menutupi keseluruhan hidup untuk berjumpa dengan orang lain, saudara-saudari sesama manusia yang merupakan mutiara-mutiara kecil dalam hidup ini.
“Mari kita menjadi mutiara-mutiara kecil untuk hidup sampai pada penemuan sukacita dalam kerajaan surga. Tuhan memberkati,” katanya.
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










