Jakarta, hatiyangbertelinga.com – Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka mengaku perihatan terhadap persoalan pelecehan seksual yang terjadi di mana saja khususnya kepada anak di bawah umur dan pelakunya bukan hanya dari agama tertentu saja.
“Sebagai pemimpin Gereja saya merasa sangat perihatin dengan keadaan [pelecehan seksual] seperti itu, apalagi yang di bawah umur,” kata Uskup Hans menjawab pertanyaan hatiyangbertelinga.com pada jumpa media usai Misa Syukur Tahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka dan Perjumpaan Diaspora Flores Timur–Lembata se-Jabodetabek di Jakarta, Minggu, 26 Juli 2026.
Kunjungi juga: Gembala dan Domba Hilang
Kunjungi juga: Uskup Larantuka Harapkan Diaspora Flotim-Lembata Jadi Duta Damai
Uskup yang ditahbiskan pada 11 Februari 2026 di Larantuka itu diterpa persoalan pelecehan seksual yang terjadi di lembaga pendidikan keagamaan di wilayah Flores Timur belum lama ini.
Terkait pelecahan seksual yang terjadi itu, Uskup Hans dengan tegas menyatakan bahwa dalam Gereja Katolik perbuatan dan tindakan pelecehan seksual itu merupakan dosa besar dan hukumannya juga berat.
“Hal yang dapat saya sampaikan itu terkait pelecehan seksual itu adalah dosa yang berat dan di dalam Gereja Katolik punya hukuman yang berat, apalagi jika terkait berurusan dengan para imam itu hukumannya berat,” kata Uskup Hans Monteiro menegaskan.
Kunjungi juga: Uskup Yohanes Hans Monteiro: Memahami Imago Dei Maka Kita Tidak Ada Perpecahan atau Perang
Kunjungi juga: Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro
Dalam konteks dengan kehidupan kita sehari-hari, menurut Uskup Hans Monteiro, pendidikan seksual sangatlah penting untuk melindungi anak, mengenalkan batasan tubuh, dan mencegah kekerasan seksual.
“Yang kedua, apa yang terjadi di Larantuka – Flores Timur pada umumnya – Lembata, karena dampak dari migran, perantau terlalu banyak keluar, anak tinggal sendirian di rumah tanpa perhatian dari orang tua, kakek dan nenek sendiri yang ada di kampung itu seringkali terjadi. Anak menjadi korban karena perantauan,” kata Uskup agar menjadi perhatian bersama dalam pendidikan seksual.
“Terkait dengan kekerasan seksual, kekerasan seksual hari ini umum terjadi di mana-mana bukan karena dia beragama apa, tetapi itu pada umumnya terjadi. Sebagai pemimpin Gereja saya merasa sangat perihatin dengan keadaan seperti itu apalagi yang di bawah umur,” kata Uskup Keuskupan Larantuka itu.
Kunjungi juga: RIP Mgr. Petrus Turang, Prabowo Kenang Uskup Kerja untuk Rakyat Kecil
Kunjungi juga: Uskup Harjosusanto MSF: Orang Katolik yang Tidak Moderat, Berarti Ada yang Salah dalam Penghayatan Beragamanya
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.









