21 April 2024

Dalam Sohib Jesus: Gue Bahagia Difitnahin Segala yang Jahat

2

Hai bro n sis, apa kabar?

Jumpa lagi sama gue dalam refleksi awam edisi milenial.

Sharing gue kali ini terinspirasi dari Injil Matius 5:1-12 khususnya ayat 11.

“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Matius 5:11).

Ada tiga buah inspirasi yang gue bagikan untuk bro n sis dalam kesempatan kali ini.

Satu, berbahagia dan bersukacita karena sudah difitnah segala yang jahat.

Dua, mendoakan doa pengampunan kepada orang yang sudah memfitnah diri kita.

Tiga, berdamai dan bersahabat dengan orang yang telah fitnah kita.

Seperti apa tiga buah inspirasi tersebut lebih mendalam?

Gue akan mulai dengan sharing cerita dulu ya.

Jadi gini, sejak gue merefleksikan ayat 11 itu pada hari Jumat siang (4/6/2021), gue teringat percakapan yang terjadi pada tanggal 2 dan 3 Juni 2021 di salah satu grup WhatsApp.

“JAD” merupakan nama grup ketika terjadinya obrolan yang “memanas” antara senior dan yunior dalam grup itu.

Untuk mengetahui sekilas berkaitan dengan grup itu dapat dilihat refleksi awam sebelumnya yang berjudul:

“Ngubah Hati Najis Jadi Berkat”.

Dalam grup itu ada beberapa orang yang gue kenal, karena satu almamater kuliahnya.

Nah, dalam grup itu ada sebagian senior dan sebagian lagi ada yang yunior, termasuk gue yang beda tingkat angkatan tahun masuknya saja.

Sebagian lagi sisanya gue enggak kenal sama mereka.

Sejak awal (antara akhir Januari atau awal Februari 2021) gue sempat menaruh curiga waktu dimasukan ke dalam grup itu.

Curiganya gue karena waktu itu tiba-tiba seorang yunior menambahkan gue ke grup itu tanpa minta izin gue lebih dulu.

Ibarat seekor domba masuk dalam kandang serigala berbulu domba, demikianlah awal-awal gue saat berada di grup itu.

Gue pun mencoba untuk menyesuaikan diri hingga beberapa minggu terakhir ini.

Dalam WhatsApp Grup yang sering gonta-ganti nama dan foto profilnya itu beberapa kali menyinggung obat “Panadol dan “Salib Yesus” sesudah gue berada di dalamnya.

Namun awal Juni ini, entahlah, tiba-tiba gue jadi penasaran sama dua kata itu.

Saat itu dua orang jejaka yunior ngebahas tentang obat “Panadol dan “Salib Yesus” yang ditujukan ke gue.

Gue yang penasaran, lalu bertanya kepada mereka alasan dibalik pelabelan dua kata tersebut ke diri gue.

Gue sempat minta penjelasan ke mereka semua. Namun dalam grup itu hanya sedikit yang terungkap.

Ternyata, usut punya usut, ada dua oknum senior yang menceritakan kepada tiga yuniornya tentang diri gue berkaitan obat “Panadol dan “Salib Yesus”, tetapi tidak sesuai fakta sebenarnya bahkan berujung fitnah.

Pada hari itu, satu orang yunior tidak begitu merespons terhadap pertanyaan dari gue, tapi satu yunior lainnya malah capernya (cari perhatian) makin menjadi-jadi dengan menantang dan bikin kegaduhan dalam grup itu.

Sedangkan, dua oknum senior di grup itu, tanpa merasa bersalah justru malah mengirimkan gambar stiker, foto dan video seperti mengalihkan persoalan.

Siang hari, pada tanggal 3 Juni, seorang yunior perempuan WA ke gue untuk menanyakan polemik dalam percakapan di grup JAD.

Namun gue enggak begitu menggubrisnya, karena gue anggap yunior perempuan ini terlalu kepo, padahal dia ada di dalam grup yang sama.

Hingga sore hari suasana di grup JAD masih memanas, bahkan seorang yunior yang pecicilan itu makin bikin sensasi dengan mengganti nama grup JAD menjadi Panadol Extra.

Meskipun ada kabar sukacita dari seorang yunior lainnya, yang mengabarkan rencana pernikahannya pada hari Sabtu (5/6/2021), namun bagi gue suasana grup itu masih belum “clear” persoalannya.

Keesokan harinya, pada Jumat pagi (4 Juni 2021), gue melihat grup tersebut berganti nama lagi jadi “Avengers”.

Gue sempat lihat ada beberapa orang lain, gue enggak kenal karena pakai nomor kode negara asing, ditambahkan ke dalam grup itu.

Sementara itu, percakapan selama dua hari sebelumnya masih kurang baik relasi komunikasinya antara gue dan oknum-oknum anggota grup itu.

Gue yang merasa tidak nyaman akhirnya cabut diri, keluar dari grup tersebut karena menyadari, bahwa “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” (bdk. 1 Korintus 15:33).

Jumat siangnya, seorang yunior perempuan mengirimkan pesan WA pribadi ke gue untuk mengklarifikasi persoalan yang ada.

Intinya, yunior ini mengaku telah diberitahu oleh onkum yunior lainnya, bahwa gue dulu pernah mengonsumsi banyak obat panadol sampai teler karena stres.

What?? Sumpah loh? hahahaha,” kata gue seraya tertawa dalam hati saat baca isi WAnya itu.

Lalu gue balas chat yunior perempuan itu dengan bertanya, “siapa orang yang cerita begitu?”

Namun yunior perempuan ini enggak mau menyebutkan nama orangnya.

Para sahabat terkasih,

Bagi gue sendiri sudah menjadi hal biasa mengetahui orang lain membicarakan tentang diri gue tanpa kehadirannya gue.

Akan tetapi, kali ini, gue mendongkol karena yang dibicarakan itu berujung pada fitnah, tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Apalagi mereka bersikap manis di depan, tapi pahit di belakang.

Selain itu, mereka enggak mau bertemu gue secara langsung untuk lebih dalam membicarakan cerita simpang siur tersebut.

Ironisnya lagi dan buat gue sedih, saat gue tahu kalau orang yang fitnah itu dari kawan seiman dan mereka telah mengenyam pendidikan keagamaan di perguruan tinggi.

Entahlah, gue enggak tahu, apakah maksud mereka untuk friendly gitu, mau akrab sama gue?

Atau mereka malah ingin ngebully gue, mencela gue?

Atau mungkin mereka punya masalah pribadi dengan gue dan mau “menikam” karakter personal gue?!

Parahnya lagi, orang yang fitnah itu merupakan senior dan yunior gue, yang sudah gue anggap mereka sebagai orang baik, tapi padahal kenyataannya mereka mengecewakan sekali.

Oh iya… untuk topik kedua mengenai “Salib Yesus” yang ditujukan ke gue, mohon maaf ya, dalam kesempatan kali ini tidak disampaikan lebih lanjut karena nanti malah kurang fokus refleksinya.

Kalau berkaitan dengan “Salib Yesus” yang sering mereka sindirkan ke gue, mungkin one day dapat disampaikan dalam satu refleksi khusus.

Para sohib terkasih, bro n sis,

Balik lagi pada hari Jumat siang itu (4 Juni 2021), gue memang sedang menyiapkan refleksi harian pribadi.

Saat gue baca Injil dari Kalender Liturgi hari Senin (7 Juni 2021) perhatian gue ditarik pada Matius 5:11.

Sejak Jumat siang itu pula gue fokus (Lectio Divina) dalam merefleksikan Matius 5:11.

Gue membayangkan Sohib Jesus pada 2000 tahun yang lalu.

Sohib Jesus berpesan kepada pengikut-Nya untuk bersukacita dan bergembiralah.

Saat duduk di atas bukit, Sohib Jesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk dapat bersukacita dan berbahagia dalam kondisi dan situasi apapun yang dialaminya.

Kata Sohib Jesus: berbahagialah orang yang miskin, orang yang berdukacita, orang yang lemah lembut, orang yang lapar dan haus akan kebenaran, orang yang murah hatinya, orang yang suci hatinya, orang yang membawa damai, orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, orang yang dicela dan dianiaya dan yang difitnahkan segala yang jahat.

Setelah membaca dan merenungkan Matius 5 itu, kemudian gue pun berdialog sama Sohib Jesus dalam doa.

Sohib Jesus seperti bilang ke gue begini: “Berbahagialah bro, kalau kamu dicela dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”

Perkataan Sohib Jesus itu seperti hidup dan nyata mencungkil perasaan mendongkol gue sejak tanggal 2 dan 3 Juni lalu.

Seolah-olah, Sohib Jesus meneguhkan gue dalam dialog refleksi pribadi gue: berbahagia dan bersukacitalah karena sudah difitnah segala yang jahat.

Gue pun bilang kepada Sohib Jesus: “Sohib Jesus, tahu enggak, kalau hatiku enggak nyaman untuk berbahagia, ketika orang lain sudah jahat fitnah aku?!”

Dialog gue sama Sohib Jesus pun berlanjut lebih mendalam dengan merefleksikan bacaan Injil Matius 5 itu.

Gue juga sekaligus mengingat-ingat lagi percakapan dalam grup WA senior-yunior pada beberapa hari yang lalu itu.

Syukur dan puji Tuhan!

Gue bersyukur banget sama Sohib Jesus.

Sohib Jesus telah mendorong gue untuk mendoakan doa pengampunan kepada orang yang sudah memfitnah gue.

Gue dilatih lagi untuk melakukan doa pengampunan sama seperti refleksi gue sebelumnya yang berjudul:

“Saat Ada Ganjalan Sama Orang Lain Sewaktu Berdoa, Ampuni Segera!”

Ketika gue meluangkan waktu lebih banyak dalam doa refleksi pribadi, ternyata Tuhan memampukan gue untuk mengampuni mereka.

Gue pun membayangkan mereka dalam doa pribadi gue, seraya meminta maaf kepada Tuhan karena telah bersikap agak emosional kepada senior dan yunior gue.

Lalu gue memberikan berkat pengampunan kepada mereka yang telah fitnah segala yang jahat ke gue.

Dalam doa pribadi gue, gue juga memohon kepada Tuhan untuk memberkati segala harapan dan aktivitas kehidupan mereka.

Gue pun diminta Sohib Jesus untuk berdamai dan bersahabat dengan orang yang telah fitnah gue.

Endingnya, gue berharap semoga segera bertemu mereka semua dengan penuh perasaan kasih sayang, bergembira dan suka cita.

Para sohib terkasih,

Gue mengakui tanpa Sohib Jesus enggak mudah untuk berbahagia ketika sedang kesal sama orang yang jahatin gue.

Namun demikian, lagi-lagi gue bersyukur kepada Sohib Jesus karena gue sebagai pengikut-Nya, merasakan kebahagiaan dan sukacita telah mendapatkan fitnahan jahat.

Oleh karena kasih karunia Sohib Jesus dan dalam Dia, akhirnya gue merasa bahagia sudah difitnahin segala yang jahat.

Bro n sis terkasih,

Pada kesempatan ini, gue berharap sekaligus berdoa untuk bro n sis, semoga baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu (lihat 3 Yohanes 1:2).

Semoga bro n sis dapat berbahagia dan bersukacita juga walaupun telah mendapatkan fitnahan dari orang lain.

Marilah kita mengampuni kesalahan orang lain yang sudah fitnah segala yang jahat tentang diri kita (bdk. Efesus 4:31-32).

Dengan mengingat kembali pesan Rasul Petrus, maka hendaklah kita semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kita memberkati, karena untuk itulah kita dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat (Bdk. & lht. 1 Petrus 3:8-9).

Pengampunan itu memang sangat indah dengan segala macam prosesnya, sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar (bdk. 1 Petrus 3:12).

Ingatlah juga, bahwa sejak 2000 tahun lalu dan masih aktual hingga detik ini, Sohib Jesus meminta kita agar senantiasa berbahagia dan bergembira.

+Dimuliakanlah Tuhan, detik ini dan selama-lamanya. Amin.+


Bro n sis,

Demikian sharing gue kali ini. Terima kasih untuk waktunya.

Sampai jumpa dalam kesempatan sharing refleksi berikutnya.

Salam satu iman dalam Sohib Jesus.

by SY Melki SP
Hati Yang Bertelinga, “Mendengar dengan Cinta”.

 

Disclaimer!!!
@Bekasi Utara, 6 Juni 2021, Refleksi Awam edisi Milenial, berdasarkan Bacaan Liturgi hari Senin, 7 Juni 2021, Pekan Biasa X (H) Santa Anna dari Bartolomeus.

#Ketiga buah inspirasi di atas diteguhkan sama bini gue sesudah sharing rohani pada malam sebelum pergantian hari ke hari Minggu, 6 Juni 2021.

 


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts to your email.

2 thoughts on “Dalam Sohib Jesus: Gue Bahagia Difitnahin Segala yang Jahat

Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading