05 March 2024

Evaluasi Kritis Buku Allah Persekutuan Karya Leonardo Boff

1

Buku “Allah Persekutuan” karangan Leonardo Boff adalah buku teologi tentang Allah Tritunggal (baca: Trinitas). Dalam kalangan pemikir kristiani, ajaran tentang Allah Tritunggal dikategorikan dalam bidang teologi dogmatik.

Buku Allah Persekutuan

Buku Allah Persekutuan – Leonardo Boff (Foto: Nasyabookstor)

Buku “Allah Persekutuan” karangan Leonardo Boff adalah buku teologi tentang Allah Tritunggal (baca: Trinitas). Dalam kalangan pemikir kristiani, ajaran tentang Allah Tritunggal dikategorikan dalam bidang teologi dogmatik. Persoalan utama ajaran Trinitas adalah “Bagaimana mengungkapkan kenyataan bahwa tiga Yang Ilahi adalah Allah esa dan unik? Bagaimana memahami hubungan di antara Bapa, Putra dan Roh Kudus?” Dalam buku “Allah Persekutuan”, Leonardo Boff berupaya menjawab persoalan itu.

Boff dikelompokkan sebagai seorang teolog yang mengikuti pemikiran Trinitas masa kini. Boff mengajarkan pokok iman kristiani akan Trinitas berdasarkan perspektif perikhoresis sesuai dengan khazanah iman Gereja masa lalu (lihat karya Nico Syukur Dister OFM, Teologi Sistematika 1: Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 164-178).

Secara cermat Boff mensistematiskan karya tulis Allah Persekutuan dengan pembagian berikut ini. Pada Bab I-VI, Boff menerangkan iman Kritiani akan Allah Tritunggal dalam konteks pengalaman iman tradisi, biblis, dan permenungan para teolog, serta pertentangan iman kristiani dalam sejarah Gereja di dunia. Boff juga menguraikan pentingnya perlambangan teologis dan konsep manusia untuk mengungkapkan rahasia misteri Allah Tritunggal, kendati mengalami keterbatasan dari pihak manusia (Bab V).

Dalam Bab VII, Boff secara khusus mengembangkan refleksi iman kristiani berdasarkan pengalaman pribadi di tengah situasi kehidupan masyarakat tertindas dan terpinggirkan. Boff menguraikan permenungannya mengenai Allah adalah persekutuan dan relevansi persekutuan perikhoresis dalam pelbagai masalah struktur masyarakat sosial. Dalam bab ini, Boff mencermati misteri Trinitas dengan berpijak dari hubungan antara Pribadi-Pribadi Ilahi. Hubungan itu diterangkan Boff dengan istilah perikhoresis, koeksistensi dan saling resap antara Pribadi-Pribadi Ilahi.

Selanjutnya dalam Bab VIII-XV, Boff mengembangkan refleksi iman akan Allah Tritunggal melalui aspek doksologi “Doa Kemuliaan”. Boff mengamini bahwa melalui refleksi “Doa Kemuliaan” maka penghayatan iman Trinitas yang benar dapat menciptakan suatu masyarakat yang merdeka, sejahtera, dan terintegrasi ke dalam persekutuan Trinitas.

Secara umum, buku “Allah Persekutuan” ini sangat baik sebagai bahan refleksi iman umat Kristiani maupun sebagai bahan diskusi interdisiplin ilmu sosial (analisis sosial). Lihat J.B. Banawiratma, SJ dan J. Muller, SJ, Berteologi Sosial Lintas Ilmu: Kemiskinan sebagai Tantangan Hidup Beriman. (Yogyakarta: Kanisius, 1993).

Kosa kata bahasa yang digunakan Boff sangat familiar, baik di kalangan teolog maupun di kalangan masyarakat umum. Terlepas dari motivasi menerjemahkan buku bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, secara teknis ada beberapa kekurangan redaksional dalam menyusun tata kalimat bahasa Indonesia atau penempatan kata yang agak ganjil apabila dibaca sidang pembaca. Misalnya, kata “dirusakkan” yang tidak jelas dalam susunan kalimat (hlm. 247). Ada juga beberapa kesalahan pada huruf maupun angka karena kekeliruan editorial dari penerjemah. Misalnya, kutipan Injil Yoh 17:22, seharusnya Yoh 17:21 (hlm. 31).

Oleh karena kekurangan itu, sidang pembaca diharapkan supaya mencermati penggunaan rambu-rambu tata bahasa pada karya Leonardo Boff edisi terjemahan ini. Misalnya, penggunaan tanda baca titik koma (;) yang digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat atau pengganti kata penghubung sejenis dan setara di dalam kalimat majemuk, tanda titik dua (:) digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian, dan tanda pisah (–) digunakan sebagai membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Diharapkan pula sidang pembaca menggunakan kamus terjemahan bahasa Indonesia atau kamus teologi untuk mempermudah pemahaman kata yang ditulis Boff.

Sebaiknya juga, sidang pembaca menyelidiki kutipan, catatan kaki, dan referensi yang ditulis Boff. Dengan memperhatikan rambu-rambu tersebut, diharapkan sidang pembaca tidak terjebak akan tendensi triteisme dan akhirnya pembaca semakin akrab dengan bahasa teologi Trinitas Leonardo Boff.

Selain teknis penulisan karya Boff, ada beberapa yang perlu diwaspadai dari pemikiran Boff. Pertama, kewaspadaan terhadap tendensi triteisme, seperti yang sudah dikemukan Boff dalam uraiannya tentang tendensi dalam pemahaman trinitaris (hlm. 83-93). Dalam buku Nico Syukur Dister OFM (hlm. 172-179), Nico den Bok melabelkan pemikiran Boff ke dalam kelompok Trinitarianisme sosial, yang berpandangan bahwa di dalam Allah terdapat persekutuan Bapa, Putra dan Roh Kudus sebagai tiga Pribadi yang terpilah-pilah sedemikian rupa dan saling berhubungan satu sama lain dengan cara yang bersifat analog.

Menurut saya, pengelompokan Nico den Bok terhadap pemikiran Boff kurang tepat, karena Boff sendiri (hlm. 157) menerangkan kekeliruan triteisme yang menegaskan ketigaan Allah, tanpa hubungan timbal balik dan terpisah, terpilah-pilah satu dari yang lain. Boff dengan tegas mengatakan bahwa persekutuan perikhoresis mengungkapkan kesatuan Trinitas Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam korelasi abadi dan peresapan timbal balik antara para Pribadi-Pribadi Ilahi. Boff juga menyatakan bahwa ada bahaya dari dampak monoteisme jikalau melepaskan paham trinitaris dalam kehidupan politik, sosial, dan Gereja (hlm. 169-175). Jadi, menurut saya bahwa pandangan Trinitas Boff adalah pemikiran trinitaris (Tri-tunggal) bukan triteisme (hlm. 150; 157).

Kedua, pemikiran Boff tidak sama dengan paradigma sesat yang masih aktual sampai dewasa ini. Dewasa ini, para penganut keagamaan non-Kristen mengatakan bahwa umat Kristen menyembah tiga Allah (hlm. 51), tuhan yang beristri dan tuhan beranak (Lihat film The Messagges. PT. Merak Cipta Indo Kreasi, Copyright © 1976 A Filmco International Production, incorporated, pada durasi 53:35-55:50 (part 1). Bandingkan pula C. Groenen OFM dalam Banawiratma, J.B., SJ (edt), Kristologi dan Allah Tritunggal. Yogyakarta: Kanisius, 1990, hlm. 14-15), dan bahkan dipersekutukan (Bdk. Dr. C. Groenen OFM, Sejarah Dogma Kristologi. Yogyakarta: Kanisius, 1988, hlm. 16).

Sesungguhnya, umat Kristen menyembah satu Tuhan, Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Setiap Pribadi sungguh Allah, Tiga Pribadi Ilahi merupakan Allah yang satu dan sama (Boff, hlm. 88; 138; 150). Boff menegaskan bahwa orang dapat beriman secara benar, namun melukiskan imannya secara salah dalam kata dan konsep (hlm. 51). Menanggapi pandangan sesat itu, maka menurut saya bahwa gagasan Boff mengenai Allah Persekutuan harus diletakkan dalam konteks refleksi iman kristiani berkaitan dengan situasi masyarakat yang mengalami suatu keadaan penindasan, lunturnya pengalaman iman Trinitas, dan meningkatnya invidualisme, serta pribadi manusia yang mengharapkan kemerdekaan (hlm. 31-33).

Bertolak dari evaluasi kritis ini, maka saya yang telah mengkaji buku “Allah Persekutuan” (Penerbit Ledalero: Maumere, cetakan 2004) ini sangat merekomendasikan kepada siapa saja yang mencari suatu pemahaman tentang Allah Tritunggal Mahakudus. Seluruh isi dan gagasan utama buku Leonardo Boff ini selalu nikmat dan dapat dipahami bagi peminat teologi Trinitas.

Melki Pangaribuan

1 thought on “Evaluasi Kritis Buku Allah Persekutuan Karya Leonardo Boff

Leave a Reply