Kiat Mengenali Seluk-beluk Tulisan Feature

HATIYANGBERTELINGA.COM – Manusia dalam mengerjakan sesuatu kadang terburu-buru. Dalam dunia jurnalis hal itu juga terjadi.

Saya banyak mendapat inspirasi saat mengikuti pelatihan dari Lahyanto Nadie tentang feature. Ia menyampaikan materi dengan asyik dan lugas. 

“Jurnalisme adalah sastra yang tergesa-gesa,” kata Anggota Pokja Pendidikan Dewan Pers itu menggugah perhatian saya, Kamis (11/11/2021). 

Perkataan eks wartawan Bisnis Indonesia 1985-2017 itu dilanjutkan dengan meminta peserta Digital Media Reporter untuk menyampaikan satu kata terbaik melalui kolom chat Zoom.

Saya menulis kata “semangat”. Yuliana memilih “terbaik.” Peserta lainnya menyampaikan “sukses”, “positif”, dan sebagainya.

Tiba-tiba terlontar ucapan “Seblak”. Saya melebarkan kedua pipi saat mengetahui Hanifa yang mengutarakan. 

“Apa seblak ini? Seblak nama makanan ya?! Rupanya belum makan ya?” respons mantan Presenter ANTV tahun 2000-2002 dan TVRI pada 2005-2006 itu tertawa.

Ia mengatakan bahwa jurnalis harus memiliki kata-kata positif, edukatif, informatif, kritis, dan menghibur. Saya sepakat dengan pernyataannya bahwa kritis sebagai sikap dasar seorang wartawan. 

Namun saya tidak sempat menyahut kesetujuan tersebut saat alumnus Pascasarjana FISIP UI itu mencontohkan sikap akuntan yang teliti dan guru membimbing. Saya menyadari bukan seorang akuntan, tetapi saya lulusan fakultas keguruan ilmu pendidikan. Saya diam berefleksi mengenai sikap dasar itu.  

Lahyanto melanjutkan bahwa dalam produksi berita itu pada dasarnya cuma ada dua, yaitu news dan views. “News itu ada straight news dan feature,” jelasnya.

Ia mengajak kami untuk lebih memahami tulisan feature di media digital karena akan unggul dalam time out side. Sedangkan straight news telah disampaikan dalam kesempatan lain, katanya.

“Ketika tulisan kita enak dibaca, maka orang akan berlama-lama di website kita,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 22 September 1964 itu.

Di tengah penjelasannya, ada suara bocor dari ruangan meeting virtual. “An.. jangan atuh Van,” bunyi suara tersebut cukup keras mengganggu kami sesaat.

“Tolong disenyapkan dulu,” minta Chairman Perusahaan Pustaka Kaji itu.

Kemudian ia menyebutkan kelompok views. Terdiri dari artikel, opini, dan kolom yang merupakan pendapat dari seseorang, serta tajuk rencana disampaikan oleh sebuah media.

Sejak bekerja sebagai jurnalis pada 2013, saya sudah terbiasa dengan straight news. Memang saya perlu sih mendalami feature, tapi lebih tertantang lagi bila dijelaskan rincian tulisan views seperti opini dan tajuk rencana.

Sayangnya, belum ada pembahasan hingga tiga hari pelatihan yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dengan memakai kemeja batik corak coklat, Penyiar Trijaya FM dari tahun 1993 hingga 2002 itu menerangkan definisi, jenis-jenis, membuat lead, isi, dan ekor, hingga tips praktis menulis feature.

“Feature adalah artikel yang kadang-kadang subjektif, dimaksudkan untuk membuat senang, dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan,” paparnya mendefinisikan feature.

Dia menambahkan, “memang tulisannya (feature) dibikin enak dibaca, ringan, tetapi tetap berisi.”

Seorang penulis feature memerlukan kreativitas, menciptakan sebuah cerita dengan bebas membuat lead, isi dan ekornya dengan leluasa. Namun etika tulisan mesti akurat, tetap ragam jurnalistik, bukan fiksi. “Jadi feature non fiksi,” tutur dia.

Dari penjelasannya itu, saya intropeksi diri. Apakah saya sudah menerapkan kreativitas pada saat menulis? Apakah boleh menggunakan kata “saya” dalam penulisan feature?

Ternyata, CEO Harian Jogja dan Star FM itu membolehkan subjektivitas dalam bercerita dengan menggunakan kata “saya” atau “aku, melibatkan emosi dan pikiran penulis sendiri. 

“Dalam feature boleh beropini, mengatakan orang itu cantik, tinggi, semampai, boleh. Nah keterlibatan emosional ini menyentuh hati pembaca dan enak dibaca,” katanya.

Berikutnya aktual dan awet. Bila kurang nilai aktualitasnya dapat memberikan informasi mengenai situasi atau aspek kehidupan yang ada dalam berita biasa.

Untuk tekanan deadline lebih longgar, sehingga punya waktu riset dan menulis lebih bagus.

Sementara untuk panjang tulisan mesti disiplin, tidak boleh bertele-tele, sesuai kaidah Bahasa Indonesia, makna, gaya dan rasa bahasa.

Dengan seksama saya mendengarkan jenis-jenis feature. Mulai dari human interest yang berkisah menyentuh hati, emosi, menimbulkan keharuan, membangkitkan kegembiraan, atau memunculkan kejengkelan, kebencian dan amarah ditampilkan. 

Selanjutnya jenis sidebar berisikan feature human interest yang melengkapi berita utama atau memberikan bagian-bagian lain dari sebuah peristiwa besar. Ia mencontohkan, kisah korban selamat dari bencana alam dari sisi lainnya.

Kemudian profile berisi lembaga, organisasi, perusahaan atau non person karena kisah seseorang disebut feature biografi.

Lalu perjalanan, misalnya menikmati laut bening di Raja Ampat atau museum. Pengurus Museum Betawi Setu Babakan itu pun memutarkan videonya. 

Dosen di Kwik Kian Gie School of Business dan Polimedia itu menjelaskan juga jenis sejarah, penjelasan, musiman, tren, tips, ilmiah dan biografi. Ia juga mempertontonkan video tentang Benyamin Sueb, tokoh pemeran, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia. 

Menurut saya tulisan untuk tugas ini masuk dalam feature penjelasan.

Setelah pemaparannya itu, Lahyanto membagikan tips praktis menulis feature.

Pertama, menentukan peristiwa dan jalan cerita. Penulis melihat dari berbagai peristiwa yang ada sekarang. “Kita harus mengetahui perkembangan berita, harus updated,” katanya.

Ada quote bagus dari trainer di United Nations Development Programme itu, “Tulisan akan bagus karena banyak membaca. Jadi tidak ada tulisan yang bagus tanpa membaca yang bagus”.

Menurutnya, kekuatan seorang dalam menulis itu indikasinya dari kekuatannya membaca, tidak bisa hanya menulis saja tanpa banyak referensi.

Kedua, membuat outline. Setelah itu melakukan cek dan ricek. Dalam jurnalisme ada “lima rukun” yang harus diikuti yakni namanya verifikasi, verifikasi, verifikasi, verifikasi, dan verifikasi.

“Jangan sampai kita tidak melakukan verifikasi,” dia mengingatkan.

Kemudian, point of viewnya. Lalu menentukan lead, menulis isi, dan ekornya.

Ketiga, teknik penulisan. Setiap alinea menguraikan lebih rinci persoalan yang disebut alinea sebelumnya. Kalau kita sudah baca beritanya, kemudian kita lihat tulisannya, lalu dirincikan pada paragraf-paragraf selanjutnya.

Bahan cerita disajikan dalam alinea-alinea yang terpisah, secara lengkap. Mengikuti tema pada setiap alinea menggarisbawahi atau menegaskan leadnya. 

“Jadi kalimatnya nyambung dari paragraf satu ke paragraf selanjutnya,” katanya seraya mengingatkan untuk menyajikan tulisan dalam cara yang paling menarik supaya menawan pembaca.

Oleh karena itu Penulis di kantor Wakil Presiden itu menjabarkan empat senjata utama yang mesti disiapkan. Satu, fokus dalam menentukan topik cerita. Kita harus waspada memilih pendekatannya.

Dua, deskriptif, penulisan feature yang baik merupakan gabungan reportase, observasi, dan kemampuan meramu kata-kata secara efektif.

Tiga, anekdot, boleh menampilkan kejadian yang lucu atau menarik. “Itu yang membuat orang mulai tertarik tulisan kita. Membuat anekdot dalam feature hukumnya halal, boleh kita memasukkannya,” katanya.

Empat, kutipan langsung merupakan salah satu yang paling efektif, singkat, dan padat. 

Berkaitan dengan outline. Direktur BIG Printing yang menjabat pada 2002-2005 itu meminta agar ditentukan bagian awal yang akan diceritakan, menguasai bahan dan mempunyai gambaran lebih dulu. Setelah itu membuat tulisan secara urut, kronologis, ruang, dan logis.

Selanjutnya, mencari ide, mencari segi (angle). Menurutnya, ide itu mahal, tapi kalau angle ini sangat mahal. “Karena angle itulah akan menentukan tulisan kita dengan yang lain,” katanya.

Pakailah imajinasi dan kekuatan pengamatan yang terlatih untuk melihat hal-hal menarik yang luput dari perhatian orang lain. Perhatikan orang yang mempunyai pandangan yang berbeda atau unik untuk mengamati suatu persoalan.

Dalam membuat lead ibarat makanan pembuka dalam teras berita/kalimat yang menjadi pintu masuk orang membaca. Dianalogikan seperti jendela rumah, meski kecil, mampu memberikan pandangan kepada pembaca apa yang akan diulas tuntas di badan tulisan.

“Ada juga istilah yang mengatakan seperti mengail dengan lead,” kata penyuka memancing ikan ini.

Saya mendapatkan ilmu baru yaitu kunci penulisan yang baik terletak pada paragraf pertama. “Menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. Jadi untuk menarik pembaca untuk bisa mengikuti cerita dan membuka jalan bagi alur cerita berikutnya,” katanya.

Dalam membuat lead tulislah ringkas dan ekonomis kata. “Jangan mengobral kata-kata. Mengobral kata yang tidak perlu mengurangi keefektifan lead,” kata dia.

Kemudian, alinea jangan lebih dari empat baris, bukan kalimat. Alinea yang ringkas akan dengan sendirinya akan lebih mudah mengundang orang untuk membaca.

Gunakan kata-kata aktif, positif. Pada bagian ini saya menjadi jelas seperti diminta Lahyanto pada awal pertemuan untuk menyampaikan satu kata terbaik.

“Hindari penggunaan terlalu banyak kata bentukan, terutama kata yang mengandung lebih dari lima suku kata,” katanya.

Menurut Penguji Kompetensi Wartawan di Lembaga Pers Dr, Soetomo (LPDS) itu feature berita tidak lekang oleh waktu. 

Untuk itu dalam menulis isinya “content is the king”. Isi berita adalah informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau banyak sehingga para peserta akan mampu menuangkan idenya dari berbagai macam platform media.

“Jadi isinya yang kita sampaikan di dalam tulisan feature itu,” katanya.

Setelah isi menu utamanya, maka cara menutupnya juga mesti enak. Ibarat menikmati makanan, ekor berita feature adalah sebagai hidangan penutup. Ekor berita feature ini struktur yang memuat informasi yang juga penting.

“Jadi di dalam straight news itu piramida terbalik, berita yang tidak penting dipotong, tetapi dalam feature nggak bisa, banyak hal-hal yang justru intinya di ekor,” katanya.

Dengan sosok kebapaan sekaligus mentor yang baik, Lahyanto memberikan kiat langkah pencegahan kesalahan fakta. “Bila kita mewawancarai seseorang, tanyakan namanya, umurnya, alamatnya dan nomor teleponnya. Bertanya lagi, konfirmasi itu penting, cek ricek lagi,” katanya.

Kalau nama, umur dan alamat narasumber  dari tangan kedua, harap dicek pada buku telepon. Bila tulisan Anda menyangkut materi yang rumit, pastikan dulu bahwa Anda mengetahui hal itu. 

“Banyak nih wartawan tidak memahami hal-hal teknis, dia menulis. Kalau itu rumit, kita jelaskan dulu,” katanya mengingatkan reporter harus memahami benar, harus pelajari lagi, jangan sampai dia menulis tidak mengerti maknanya.  

Akhirnya kami diharapkan memahami news value. Jangan buang waktu jika informasi yang mau disiarkan tidak memiliki news value bagi pembaca.

“Jadi wartawan tidak akan memuat berita atau informasi yang tidak memiliki news value,” kata dia memungkasi.

Modul tiga yang disampaikan Presiden Komisaris PT Multimedia Makmur Sejahtera itu diperkaya dengan latihan langsung menulis lead.

Sejauh semua penjelasannya itu, saya semakin memahami lebih mendalam terkait feature. Semoga senantiasa bermanfaat kedepannya. Terima kasih.

Penulis merupakan peserta Digital Media Reporter – Kelas A DMR21-JKT2A

Leave a Reply