Di bawah ini naskah lengkap tentang “Pendidikan Bernafas Eros” oleh Dr. V. Darmin Mbula, OFM (Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan)
Secara filosofis-pedagogis, tema pendidikan bernafas eros diangkat karena pendidikan kerap terjebak dalam pendekatan teknokratis yang dingin, mengabaikan dimensi afektif dan relasional antara pendidik, peserta didik, dan dunia. Latar belakang masalahnya adalah keterasingan dalam proses belajar, di mana siswa kehilangan hasrat, keterlibatan batin, dan rasa cinta terhadap pengetahuan serta kehidupan bersama. Dengan menghidupkan kembali eros—sebagai kekuatan cinta, hasrat, dan keterhubungan—pendidikan dipulihkan menjadi ruang yang membangkitkan gairah belajar, pembentukan makna, dan pembebasan manusia secara utuh.
Melalui pendidikan yang bernafaskan eros, harkat dan martabat manusia serta kapabilitas manusia tidak hanya diajarkan sebagai konsep abstrak, tetapi dihidupi sebagai pengalaman yang membentuk kesadaran dan tindakan demi masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Pendidikan yang bernafas eros adalah pendekatan yang menekankan cinta, hasrat akan pengetahuan, dan relasi afektif sebagai inti dari proses belajar yang memanusiakan.
Konsep ini secara mendalam dibahas oleh Martha C. Nussbaum dalam bukunya Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities (2010), di mana ia menekankan bahwa pendidikan harus menumbuhkan empati, imajinasi moral, dan kecintaan terhadap keadilan—semuanya bersumber dari eros sebagai kekuatan yang mendorong manusia untuk terhubung dan peduli.
Pakar lain yang juga menyinggung pentingnya dimensi eros dalam pendidikan adalah Paulo Freire, melalui Pedagogy of the Heart (1997), yang menyatakan bahwa pendidikan sejati adalah tindakan cinta yang membebaskan. Dalam dunia yang kian teknokratis dan dehumanisasi, pendidikan bernafas eros menjadi penting untuk menciptakan warga yang tidak hanya kritis, tetapi juga penuh kasih, terlibat, dan memiliki hasrat untuk membangun dunia yang adil dan bermakna.
Oleh karena itu, eros dalam pendidikan bukan hanya soal cinta atau hasrat, melainkan kekuatan penggerak yang menjaga agar proses belajar tetap manusiawi, kritis, dan bermakna, sekaligus menjadi perisai terhadap risiko kehilangan jati diri di tengah dominasi teknologi. Eros sebagai paradigma pendidikan demokrasi menempatkan hasrat, cinta, dan keterikatan emosional sebagai inti dari proses belajar yang membebaskan dan membentuk keadilan serta kebahagiaan sosial-ekologis yang berkelanjutan.
Pendidikan yang dilandasi oleh eros menumbuhkan kepedulian, dialog, dan tanggung jawab, menciptakan ruang di mana peserta didik tidak hanya belajar tentang demokrasi, tetapi mengalami dan mencintainya sebagai cara hidup yang saling merawat. Dalam konteks pendidikan demokratis, eros menjadi prinsip yang menghidupkan proses belajar—yakni hasrat untuk memahami, untuk bersama yang lain dalam dialog, dan untuk mencintai dunia secara kritis.
Pendidikan yang demokratis tidak cukup hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi harus membangkitkan eros sebagai semangat cinta terhadap keadilan, keberagaman, dan kehidupan bersama, menjadikannya kekuatan afektif yang mendasari partisipasi dan transformasi sosial yang lebih bebas, damai dan berkeadilan.
Lihat juga: Pentingnya Pendidikan Toleransi Sejak Usia Dini
Paradigma Teknokratis
Paradigma teknokratis dalam pendidikan merujuk pada pendekatan yang menempatkan efisiensi, pengukuran, dan standarisasi sebagai tujuan utama proses belajar-mengajar. Dalam kerangka ini, pendidikan diperlakukan layaknya sistem produksi industri: siswa dianggap sebagai objek yang harus dibentuk sesuai kebutuhan pasar, guru sebagai operator kurikulum, dan penilaian berpusat pada angka-angka dan capaian kuantitatif. Akibatnya, dimensi kemanusiaan seperti kreativitas, emosi, relasi, dan makna personal sering kali terpinggirkan, bahkan diabaikan.
Pendekatan teknokratis yang kaku dan dingin ini melahirkan ruang kelas yang seragam, kering, dan tidak dialogis. Relasi antara guru dan murid menjadi transaksional—berorientasi pada tugas dan target, bukan pada pertumbuhan batin atau pembentukan karakter. Proses belajar menjadi pasif dan mekanistik, karena siswa tidak diajak untuk mencintai pengetahuan atau menemukan dirinya melalui pembelajaran, melainkan dituntut untuk memenuhi indikator-indikator yang sudah ditentukan dari luar. Hal ini berisiko menciptakan generasi yang terlatih secara teknis, namun miskin secara reflektif dan afektif.
Secara lebih luas, paradigma teknokratis ini mencerminkan krisis spiritual dan filosofis dalam dunia pendidikan modern. Ia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang makna hidup, tujuan pendidikan, dan hubungan manusia dengan dunia. Dalam konteks ini, banyak pemikir pendidikan kritis seperti Paulo Freire dan Joris Vlieghe mengajukan alternatif yang lebih humanistik dan transformatif, seperti pedagogi cinta atau pendidikan yang bernafas eros, untuk mengembalikan ruh pendidikan sebagai ruang pertumbuhan, keterhubungan, dan pembebasan.
Ada sejumlah pakar lain yang telah menulis tentang paradigma teknokratis dalam konteks pendidikan dan masyarakat. Misalnya, dalam bukunya Power Without Knowledge: A Critique of Technocracy (2020), Jeffrey Friedman mengkritik pendekatan teknokratis yang mengandalkan pengetahuan teknis semata dalam pengambilan keputusan politik dan sosial. Ia berargumen bahwa ketergantungan pada para ahli dapat mengabaikan keragaman ide dan pengalaman manusia, yang penting dalam memahami kompleksitas masalah sosial. Friedman menyarankan bahwa demokrasi yang sehat memerlukan pengakuan terhadap pluralitas pengetahuan dan partisipasi aktif masyarakat.
Selain itu, dalam The Tyranny of Experts: Economists, Dictators, and the Forgotten Rights of the Poor (2014), William Easterly menyoroti bagaimana para ahli dan ekonom sering kali mendominasi kebijakan pembangunan tanpa mempertimbangkan hak-hak dan kebebasan individu. Easterly berpendapat bahwa pendekatan teknokratis sering kali mengabaikan konteks lokal dan kebutuhan nyata masyarakat, serta cenderung mengarah pada kontrol otoriter atas kehidupan orang miskin. Ia menekankan pentingnya menghormati hak individu dan mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.
Selain itu, dalam The Making of a Counter Culture (1969), Theodore Roszak mengkritik dominasi teknokrasi dalam masyarakat industri dan mengidentifikasi munculnya budaya tandingan sebagai respons terhadapnya. Roszak berpendapat bahwa teknokrasi mengedepankan efisiensi dan kontrol atas kreativitas dan kebebasan individu, yang dapat mengekang perkembangan budaya dan spiritualitas. Ia menyoroti pentingnya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan dalam menghadapi dominasi teknokratis.
Karya-karya ini memberikan perspektif kritis terhadap paradigma teknokratis dan menekankan pentingnya mempertimbangkan dimensi kemanusiaan, pluralitas pengetahuan, dan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pendidikan dan pengambilan keputusan sosial.
Lihat juga: Mendengarkan dan Menghargai Kunci Komunikasi Anak Remaja
Lihat juga: Orang Tua Perlu Kontrol Penggunaan Gawai Anak
Dehumanisasi
Dunia yang terfragmentasi dan mengalami dehumanisasi menjadi perhatian utama banyak pakar kontemporer, terutama dalam konteks perubahan sosial, teknologi, dan politik yang cepat. Menurut Zygmunt Bauman dalam bukunya Liquid Modernity (2000), masyarakat modern mengalami fragmentasi sosial yang mendalam akibat perubahan yang terus-menerus dan tidak stabil, sehingga hubungan sosial menjadi cair, sementara solidaritas dan rasa kebersamaan semakin terkikis. Fragmentasi ini membuat individu merasa terisolasi dan terasing, di mana identitas dan komunitas yang sebelumnya kuat menjadi rapuh dan terpecah-pecah, memperkuat kecenderungan dehumanisasi yang mengurangi rasa empati dan penghargaan terhadap kemanusiaan sesama.
Selain itu, dalam karya The Human Condition (1958), Hannah Arendt membahas bagaimana perkembangan teknologi dan birokrasi dapat menyebabkan dehumanisasi melalui penghilangan ruang publik yang vital bagi dialog dan tindakan politik. Arendt menyoroti bahwa ketika manusia terputus dari interaksi bermakna dan keterlibatan aktif dalam kehidupan publik, mereka kehilangan dimensi kemanusiaan yang esensial, seperti kebebasan dan kemampuan untuk bertindak bersama.
Dunia yang terfragmentasi tidak hanya memecah-belah masyarakat tetapi juga meminggirkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasari hubungan sosial yang sehat dan demokratis.Dalam konteks modern, Sherry Turkle dalam Alone Together (2011) mengkritik bagaimana teknologi digital, khususnya media sosial dan kecerdasan buatan, memperparah dehumanisasi dengan menggantikan interaksi manusia langsung dengan komunikasi yang dangkal dan terfragmentasi.
Turkle menunjukkan bahwa ketergantungan pada teknologi menyebabkan penurunan kualitas hubungan interpersonal, yang berdampak pada hilangnya empati, kepercayaan, dan rasa kebersamaan. Fenomena ini menggambarkan bagaimana dunia yang terfragmentasi oleh teknologi dan sosial-politik dapat mengikis esensi kemanusiaan, menuntut upaya sadar untuk mengembalikan nilai-nilai humanitas dan koneksi autentik antarindividu.
Lihat juga: Awas, Kaum Muda Terjebak Hustle Culture
Tubuh Manusia Organik dan Non Organik
Dalam konteks eros di abad kecerdasan buatan, tubuh manusia—baik organik maupun non-organik—mengalami pergeseran makna yang radikal, di mana batas antara tubuh biologis dan buatan menjadi semakin kabur. Tubuh organik, yang selama ini menjadi medium utama pengalaman afektif dan erotik, kini dihadapkan pada kehadiran tubuh non-organik seperti robot, avatar digital, dan AI berwujud fisik yang mampu meniru emosi, merespons hasrat, dan membangun relasi semu.
Dalam konteks ini, eros tidak lagi sekadar hubungan antara dua subjek manusia, tetapi bisa diarahkan pada entitas yang dirancang untuk memenuhi keinginan dan proyeksi emosional manusia. Sementara itu, filosof seperti Rosi Braidotti (The Posthuman, 2013) mengajak kita untuk berpikir ulang tentang subjektivitas dan relasi antar-entitas dalam lanskap posthuman, di mana tubuh bukan lagi batas pasti dari kemanusiaan, tetapi medan artikulasi baru antara hasrat, teknologi, dan identitas.
Dalam konteks eros antara manusia dan entitas non-organik seperti robot, muncul kekhawatiran bahwa objektifikasi tubuh dan perasaan bisa terjadi. Apabila hubungan ini berkembang tanpa etika yang kuat, kita bisa kehilangan pemahaman tentang makna otonomi dan martabat manusia—nilai inti dalam HAM. Sherry Turkle (dalam Alone Together) memperingatkan bahwa ketergantungan emosional pada mesin bisa mengikis kemampuan manusia untuk membangun relasi autentik—sebuah hak sosial dan psikologis yang penting dalam HAM.
Ketika eros berpindah ke ranah interaksi manusia dan mesin, terutama dengan AI yang mengumpulkan data pengguna untuk “mengenal” preferensi mereka, muncul isu pelanggaran privasi. Pendidikan HAM harus membekali masyarakat agar sadar akan pentingnya digital consent—yaitu persetujuan yang sadar dalam interaksi dengan entitas digital. Dalam membahas eros yang melibatkan tubuh non-organik, HAM memberikan kerangka etis agar inovasi tidak hanya efisien atau canggih, tetapi juga adil, inklusif, dan bermartabat. Jadi, membahas dimensi eros dalam konteks tubuh organik dan non-organik tidak bisa dilepaskan dari pendidikan HAM karena menyentuh nilai dasar tentang apa artinya menjadi manusia dan bagaimana kita memperlakukan sesama (termasuk ‘entitas lain’) dengan hormat, etika, dan tanggung jawab.
Dilema Eros di Ruang Kelas
Dalam bukunya The Education of Eros: A History of Education and the Problem of Adolescent Sexuality, Dennis L. Carlson menyajikan kajian komprehensif mengenai sejarah pendidikan seksualitas dan bagaimana tubuh serta hasrat remaja dipandang sebagai masalah yang memerlukan pendidikan regulasi dan disipliner. Carlson mengkaji perbedaan pendekatan antara pendidik kesehatan profesional, pembuat kebijakan, serta konservatif sosial dan agama dalam mengajarkan seksualitas di sekolah. Meskipun terdapat perbedaan, mereka sepakat bahwa tubuh dan hasrat remaja adalah masalah yang perlu diatur.
Carlson juga menyoroti munculnya gerakan sosial baru di masyarakat dan akademia pada paruh kedua abad ke-20 yang mulai merumuskan ulang “masalah” seksualitas remaja dalam bahasa hak, kesetaraan, dan keadilan sosial. Dengan menggunakan teori sosial kritis tentang seksualitas, Carlson menawarkan alat untuk merumuskan kembali percakapan tentang seksualitas remaja dan membangun kembali makna pendidikan seksualitas dalam masyarakat demokratis .
Dilema Eros sebagai prinsip pendidikan muncul secara tajam ketika akhir-akhir ini ruang kelas—yang seharusnya menjadi tempat aman untuk tumbuh dan belajar—justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan seksual, terutama antara guru dan murid atau dari orang-orang terdekat. Konsep Eros, yang dalam filsafat pendidikan seperti milik Kerry T. Burch, Bell Hooks, dan Jim Garrison dimaknai sebagai hasrat untuk keterhubungan, perhatian, dan cinta yang transformatif, mengalami distorsi serius dalam praktik sosial.
Ketika relasi kuasa disalahgunakan oleh pendidik atau orang dewasa lain, Eros yang seharusnya menjadi kekuatan untuk membebaskan dan memanusiakan malah menjadi dalih atau kamuflase untuk dominasi dan pelecehan. Hal ini menimbulkan ketakutan dan skeptisisme terhadap integrasi dimensi afektif dalam pendidikan. Situasi ini menciptakan dilema besar: bagaimana mengajarkan cinta, kepedulian, dan relasi emosional dalam pendidikan tanpa membuka ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan dan batasan etis?
Pendidikan berbasis Eros idealnya membina hubungan yang saling menghormati dan empatik, namun dalam kenyataan sosial yang penuh ketimpangan kuasa dan lemahnya perlindungan terhadap korban, prinsip Eros dapat disalahartikan sebagai pembenaran hubungan yang tidak sehat. Oleh karena itu, penting bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas untuk membedakan antara Eros sebagai prinsip etis dan transformatif, dengan eros yang dikaburkan oleh hasrat posesif dan relasi dominatif. Diperlukan kerangka etika dan perlindungan hukum yang kuat untuk memastikan bahwa cinta dalam pendidikan bukan menjadi celah pelecehan, tetapi tetap menjadi energi pembebas. Maka dari itu, implementasi Eros sebagai prinsip pendidikan harus dilakukan secara kritis, reflektif, dan dengan kesadaran penuh akan konteks kekuasaan dan batas profesional. Pendidikan yang memanusiakan manusia tidak bisa dilepaskan dari penciptaan ruang yang aman, inklusif, dan berkeadilan, di mana relasi afektif hadir dalam bentuk empati, perhatian, dan penghargaan terhadap otonomi pribadi.
Prinsip Eros dalam pendidikan harus disertai dengan pemahaman mendalam tentang etika relasi, perlindungan anak dan perempuan, serta pembinaan integritas pendidik. Hanya dengan cara ini, Eros dapat tetap berfungsi sebagai kekuatan hidup dan pembebasan dalam pendidikan demokratis, bukan menjadi alasan untuk kekerasan atau pelanggaran hak yang justru menghancurkan tujuan pendidikan itu sendiri.
Lihat juga: Edukasi Bermain Bentuk Perilaku Bersih Anak
Lihat juga: Tip Cegah Teknologi Batasi Interaksi Sosial Anak
Love as Pedagogy
Konsep love as pedagogy yang dikemukakan oleh Tim Loreman merupakan respons penting terhadap tantangan pendidikan di abad ke-21, yang ditandai oleh kompleksitas sosial, keragaman budaya, dan tekanan performatif dalam sistem sekolah. Dalam bukunya Love as Pedagogy (2011), Loreman menekankan bahwa cinta bukan sekadar emosi, tetapi prinsip pedagogis yang menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan manusiawi.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan terdigitalisasi, pendekatan ini menempatkan relasi guru-murid sebagai fondasi utama pendidikan—berbasis pada empati, perhatian, dan komitmen terhadap kesejahteraan peserta didik secara utuh. Loreman menunjukkan bahwa pedagogi cinta mampu menjawab tantangan seperti eksklusi sosial, tekanan akademik, dan krisis kesehatan mental yang semakin meningkat dalam pendidikan kontemporer.
Dengan menumbuhkan rasa memiliki, penghargaan atas perbedaan, dan komunikasi yang hangat, guru dapat menciptakan ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses kemanusiaan yang mendalam. Cinta, dalam pengertian ini, bukan sentimentalitas, melainkan pendekatan etis dan profesional yang menyadari bahwa semua peserta didik memiliki martabat dan potensi yang harus dihargai dan dikembangkan dengan penuh kasih.
Di abad ke-21 yang dipenuhi ketidakpastian, konflik identitas, dan tantangan global seperti perubahan iklim serta ketimpangan digital, love as pedagogy memberikan arah moral dan afektif bagi pendidikan untuk tetap relevan dan transformatif. Loreman menegaskan bahwa cinta dalam pendidikan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan strategis yang memungkinkan tumbuhnya generasi pembelajar yang berbelas kasih, reflektif, dan berani memperjuangkan dunia yang lebih adil. Dengan demikian, cinta sebagai pedagogi menjadi landasan penting untuk membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial—kualitas yang sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan abad ini.
Paulo Freire, seorang filsuf dan pendidik asal Brasil, memperkenalkan konsep love as pedagogy atau cinta sebagai landasan pedagogi dalam berbagai karya terkenalnya, terutama dalam buku Pedagogy of the Oppressed. Bagi Freire, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, tetapi sebuah tindakan kemanusiaan yang harus didasarkan pada cinta, dialog, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Cinta, menurut Freire, bukan perasaan sentimental semata, melainkan tindakan politis dan etis yang membebaskan, karena hanya melalui cinta pendidik dapat benar-benar berkomitmen pada pembebasan siswa dari ketertindasan struktural.
Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menekankan bahwa pendidik harus mencintai rakyat atau murid-muridnya, karena cinta memungkinkan terjadinya hubungan dialogis yang sejati. Hubungan ini tidak bersifat hierarkis atau menindas, melainkan partisipatif dan kolaboratif. Pendidik bukan “subjek yang tahu” dan peserta didik bukan “objek yang tidak tahu”, tetapi keduanya adalah subjek yang bersama-sama membangun pengetahuan. Cinta dalam konteks ini berarti memiliki keberanian untuk memperjuangkan keadilan, mengakui eksistensi orang lain, serta membuka ruang untuk berpikir kritis.
Freire juga menjelaskan bahwa cinta adalah inti dari tindakan pendidikan yang memanusiakan. Dalam bukunya Pedagogy of Hope, ia menggambarkan bagaimana cinta adalah energi moral dan politik yang memungkinkan guru bertindak dengan kepekaan terhadap penderitaan sosial siswa. Cinta menggerakkan pengajar untuk peduli, terlibat secara aktif, dan tidak bersikap netral terhadap ketidakadilan. Netralitas, menurut Freire, berpihak pada penindas. Oleh karena itu, cinta dalam pendidikan harus disertai dengan kesadaran kritis dan komitmen terhadap perubahan sosial.
Dalam Teachers as Cultural Workers, Freire kembali menegaskan bahwa guru harus menjadi agen transformasi yang bersandar pada cinta yang sadar, bukan cinta buta. Ia mengingatkan bahwa cinta yang sejati dalam pedagogi adalah cinta yang bersedia mendengar, merangkul keberagaman, dan tidak memaksakan ideologi. Pendidikan yang dilandasi cinta memungkinkan siswa tumbuh sebagai manusia merdeka, berpikir mandiri, dan mampu mengartikulasikan suara mereka sendiri. Guru bukan pemilik pengetahuan, tetapi fasilitator proses belajar yang penuh empati dan dialog.
Secara keseluruhan, konsep love as pedagogy menurut Paulo Freire adalah bentuk pendidikan yang radikal dan transformatif. Ia melihat cinta sebagai kekuatan pembebas yang melampaui batas ruang kelas dan menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Pendidikan tanpa cinta akan melahirkan represi, sedangkan pendidikan dengan cinta akan melahirkan kesadaran, kebebasan, dan solidaritas. Dengan demikian, Freire menempatkan cinta sebagai prinsip etis, politis, dan pedagogis yang mendalam dan tak terpisahkan dari misi pendidikan sejati.
Pedagogy of the Heart dari Paulo Freire merupakan kelanjutan dari pemikirannya tentang pendidikan sebagai proses yang memanusiakan, dan di dalamnya cinta (termasuk unsur eros) memainkan peran sentral. Freire memandang eros bukan hanya sebagai hasrat romantis atau seksual, tetapi sebagai kekuatan vital yang mendorong keterlibatan emosional dan eksistensial dalam proses belajar-mengajar. Dalam konteks ini, eros adalah gairah untuk hidup, semangat untuk mencintai sesama, dan hasrat mendalam untuk menciptakan dunia yang lebih adil. Dalam Pedagogy of the Heart, Freire menekankan bahwa pengajar harus hadir dengan seluruh keberadaannya — akal, emosi, dan cinta — karena pendidikan yang sejati memerlukan hubungan afektif antara guru dan murid.
Freire percaya bahwa tanpa unsur eros, pendidikan akan kehilangan ruhnya dan berubah menjadi proses mekanistik yang kering dan tidak bermakna. Cinta dalam pengertian eros di sini adalah bentuk keterikatan mendalam pada kemanusiaan orang lain — cinta yang menggerakkan guru untuk memahami kondisi hidup siswa, memperjuangkan keadilan, dan menumbuhkan harapan. Eros juga tercermin dalam rasa kagum terhadap dunia, dorongan untuk bertanya, dan keberanian untuk bermimpi. Dengan memasukkan unsur eros dalam pedagogi, Freire mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar kegiatan intelektual, melainkan juga tindakan spiritual dan emosional yang menyatukan pikiran dan hati dalam pencarian makna dan kebebasan.
Dalam bukunya Heart at the Center: An Educator’s Guide to Sustaining Love, Hope, and Community Through Nonviolence Pedagogy, Mike Tinoco mengusulkan pendekatan pendidikan yang berfokus pada cinta, harapan, dan komunitas melalui pedagogi non-kekerasan. Sebagai seorang guru sekolah menengah dan pelatih non-kekerasan bersertifikat, Tinoco mengajak pendidik untuk membayangkan ruang kelas sebagai tempat yang memanusiakan, menentang kekerasan dan ketidakadilan, serta menempatkan cinta sebagai inti dari proses belajar. Buku ini menawarkan kerangka kerja dan praktik yang didasarkan pada berbagai tradisi non-kekerasan, mengajak pembaca untuk mempertimbangkan bagaimana pedagogi non-kekerasan terlihat, terdengar, dan terasa di ruang kelas.
Tinoco menekankan pentingnya mengubah paradigma manajemen kelas konvensional dan menyambut konflik sebagai peluang untuk pertumbuhan. Ia mengusulkan untuk menumbuhkan hubungan yang mendalam dengan dan antar siswa guna memupuk perdamaian positif. Selain itu, ia mendorong pendidik untuk menyisipkan cinta dalam kurikulum dan memastikan inklusivitas terhadap kehidupan siswa, dengan menempatkan komunitas, penyembuhan, dan keadilan sebagai pusat. Buku ini juga membahas pentingnya perawatan diri bagi pendidik tanpa mengorbankan urgensi perjuangan untuk keadilan, serta bagaimana penderitaan sukarela dapat memenuhi kebutuhan dan memberdayakan individu.
Melalui narasi pribadi dan contoh dari pemimpin gerakan hak sipil, Tinoco mengajak pendidik untuk merefleksikan bagaimana menciptakan ruang kelas dan sekolah yang sesuai dengan visi dunia yang mereka impikan. Buku ini ditujukan bagi pendidik yang percaya bahwa ruang kelas yang berbeda, sekolah yang berbeda, dan dunia yang berbeda adalah mungkin. Dengan pendekatan yang hangat, penuh keahlian, dan kerendahan hati, Heart at the Center menjadi panduan bagi pendidik yang ingin membangun komunitas yang berfokus pada cinta, harapan, dan keadilan melalui pedagogi non-kekerasan.
Dalam bukunya Teach from the Heart: Pedagogy as Spiritual Practice, Jenell Williams Paris mengajak pendidik untuk melihat profesi mengajar sebagai sebuah panggilan spiritual, bukan sekadar pekerjaan atau profesi. Paris menekankan pentingnya menjaga integritas pribadi dan kebahagiaan dalam menjalani karier mengajar yang panjang. Ia menggambarkan mengajar sebagai sebuah kerajinan tangan (artisanry), di mana pendidik membentuk dan mengasah keterampilannya melalui waktu dan pengalaman, menghasilkan karya yang mencerminkan diri mereka. Buku ini mendorong pendidik untuk menemukan, menemukan kembali, atau mempertahankan inti dari kehidupan mengajar mereka, yaitu hati mereka sendiri.
Paris mengusulkan agar ruang kelas dipandang sebagai ruang suci untuk pembentukan diri, tempat di mana pendidik dan siswa berkembang bersama. Ia menekankan bahwa mengajar bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter dan hubungan manusiawi. Dengan hampir empat puluh tahun pengalaman sebagai siswa dan guru, Paris menawarkan perspektif yang berharga tentang bagaimana mengajar dapat menjadi praktik spiritual yang memperkaya kehidupan pribadi dan profesional pendidik.
Paris memberikan panduan bagi pendidik dari berbagai konteks—mulai dari pendidikan prasekolah hingga perguruan tinggi—untuk mendalami kehidupan mengajar mereka dengan hati. Ia mengajak pendidik untuk melihat tantangan dan rutinitas sehari-hari sebagai bagian dari praktik spiritual yang membentuk mereka sebagai individu utuh. Dengan pendekatan yang ringan namun mendalam, Teach from the Heart menjadi sumber inspirasi bagi pendidik yang ingin menghidupkan kembali semangat dan tujuan dalam profesi mereka.
Dalam karya-karyanya, Joris Vlieghe mengembangkan konsep thing-centred pedagogy, yang menempatkan objek studi sebagai pusat dari proses pendidikan. Berbeda dengan pendekatan yang berfokus pada guru atau siswa, pedagogi ini mengarahkan perhatian pada hal-hal—baik itu ide, praktik, atau objek—yang menjadi subjek pembelajaran. Vlieghe mengadopsi pandangan Hannah Arendt yang melihat pendidikan sebagai upaya memperkenalkan generasi baru kepada dunia bersama yang telah ada sebelumnya. Dalam konteks ini, eros berperan sebagai dorongan afektif dan intelektual yang memotivasi individu untuk terlibat dengan dunia dan hal-hal di dalamnya. Eros bukan hanya hasrat pribadi, tetapi juga rasa ingin tahu dan cinta terhadap dunia yang mendorong proses belajar.
Konsep afirmasi dalam pedagogi ini mengacu pada sikap positif terhadap dunia dan hal-hal di dalamnya. Alih-alih melihat dunia sebagai tempat yang penuh dengan masalah yang harus diperbaiki, pedagogi ini mengajak untuk mengakui dan menghargai nilai intrinsik dari hal-hal tersebut. Afirmasi ini menciptakan ruang bagi siswa untuk menemukan makna dan keindahan dalam objek studi, serta mengembangkan hubungan yang mendalam dengan dunia sekitar mereka. Dalam hal ini, eros berfungsi sebagai medium yang menghubungkan subjek dengan objek, memungkinkan terjadinya pengalaman belajar yang autentik dan transformatif.
Melalui pendekatan ini, pendidikan menjadi praktik yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan hubungan manusiawi. Dengan menempatkan hal-hal sebagai pusat, pedagogi ini mengajak pendidik dan siswa untuk bersama-sama mengeksplorasi dan menghargai dunia, serta mengembangkan cinta dan tanggung jawab terhadapnya. Eros dalam konteks ini bukan hanya dorongan pribadi, tetapi juga kekuatan kolektif yang menggerakkan proses pendidikan menuju pemahaman dan penghargaan yang lebih dalam terhadap dunia dan segala isinya.
Lihat juga: Anak Bahagia karena Orang Tua Mengasuhnya dengan Cinta
Lihat juga: Cinta Kasih Tuhan Mentahirkan Keluarga
Enduring Love
Konsep Enduring Love menurut Tony Buzan dan Jane Easton, seperti diuraikan dalam buku mereka The Power of Social Intelligence (2001), menekankan pentingnya cinta yang bertahan lama sebagai fondasi dari kecerdasan sosial dan kesejahteraan relasional. Buzan dan Easton berpandangan bahwa cinta yang tahan uji bukan hanya soal emosi atau ketertarikan sesaat, tetapi merupakan hasil dari keterampilan sosial yang dikembangkan secara sadar, seperti empati, komunikasi yang jujur, dan kemampuan mendengarkan dengan penuh perhatian. Enduring love adalah bentuk cinta yang dibangun di atas rasa saling menghormati, kepercayaan, dan komitmen untuk terus berkembang bersama dalam hubungan yang saling memperkaya.
Dalam perspektif Buzan dan Easton, cinta yang berkelanjutan juga melibatkan kecerdasan emosional dan refleksi diri yang tinggi. Mereka menekankan bahwa hubungan yang sehat dan bertahan lama menuntut kemampuan untuk mengelola konflik dengan dewasa, mengenali emosi sendiri dan orang lain, serta terus memelihara hubungan dengan tindakan konkret yang penuh perhatian. Dengan kata lain, enduring love tidak bersifat pasif atau alami, melainkan merupakan hasil dari kerja emosional dan sosial yang aktif. Di sinilah peran kecerdasan sosial menjadi vital: individu yang mampu berempati, memaafkan, dan berkomunikasi secara terbuka cenderung membangun hubungan cinta yang lebih langgeng dan bermakna.
Lebih jauh, Buzan dan Easton melihat enduring love sebagai elemen penting dalam membangun komunitas dan masyarakat yang sehat secara emosional. Dalam lingkungan pendidikan, keluarga, dan tempat kerja, cinta yang bertahan lama dapat menjadi kekuatan pemersatu yang menumbuhkan rasa aman, semangat kolaboratif, dan kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, mereka mengajak pembaca untuk mengembangkan kecerdasan sosial sebagai jalan untuk membentuk relasi cinta yang tidak hanya romantis, tetapi juga transformatif dalam berbagai konteks kehidupan. Dengan membina enduring love, kita bukan hanya memperkaya kehidupan pribadi, tetapi juga ikut membangun dunia yang lebih penuh kasih, pengertian, dan ketahanan emosional.
Lihat juga: Bukan Tanda yang Egois Bila Mencintai Diri Sendiri
Lihat juga: Gaya Cinta Dewasa Dipengaruhi Masa Kecil? Ini Tipsnya
Eros dan Caring
Dalam pemikiran Nel Noddings, eros dan caring merupakan dua dimensi penting dalam pendidikan yang saling terkait dan sama-sama berakar dalam relasi antarmanusia yang hangat dan penuh perhatian. Dalam karya terkenalnya Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education (1984), Noddings memformulasikan teori etika peduli (ethics of care) yang menekankan pentingnya hubungan yang tulus antara “the one-caring” dan “the cared-for.” Meskipun ia tidak secara eksplisit membahas eros dalam pengertian filosofis Platonik atau psikologis, namun prinsip caring yang ia tawarkan mengandung unsur eros sebagai hasrat untuk hadir bagi yang lain dengan kasih, kepedulian, dan keterbukaan emosional.
Eros dalam konteks ini dapat dipahami sebagai energi afektif yang mendorong hubungan mendalam dan tulus antara guru dan murid, yang merupakan inti dari pendidikan menurut Noddings. Ia percaya bahwa pendidikan sejati tidak bisa berlangsung dalam iklim yang kering secara emosional, melainkan harus dibangun atas dasar cinta dan kepedulian. Di sinilah eros hadir sebagai daya yang menghidupkan semangat mengasuh, mendengarkan, dan memberi perhatian pada kebutuhan murid secara utuh—baik kognitif, emosional, maupun moral. Bagi Noddings, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi sebuah tindakan etis yang melibatkan perasaan cinta terhadap kemanusiaan.
Lebih lanjut, Noddings memandang caring sebagai proses dialogis yang menyerupai bentuk eros dalam pengertian Platonik—yakni keterhubungan yang memungkinkan pertumbuhan bersama. Ketika seorang guru benar-benar peduli, ia tidak sekadar mematuhi kewajiban profesional, tetapi ia “tertarik” secara eksistensial terhadap kesejahteraan muridnya. Eros, dalam hal ini, menjadi kekuatan yang melampaui rutinitas, menjadi energi transformatif yang membentuk hubungan manusiawi yang dalam dan bermakna dalam ruang kelas. Ini berbeda dari pendekatan pendidikan yang bersifat teknokratis dan impersonal, yang kerap mengabaikan aspek afektif dan relasional dalam proses pembelajaran.
Dalam menghadapi dunia yang semakin terdigitalisasi dan dehumanisasi, seperti yang dikhawatirkan Noddings dalam karya-karya selanjutnya, kehadiran eros dalam bentuk caring menjadi semakin penting. Ketika teknologi mengancam menggantikan interaksi manusia dengan algoritma dan otomatisasi, pendidikan yang berakar pada kasih dan perhatian menjadi bentuk perlawanan terhadap reduksi kemanusiaan. Dalam konteks ini, eros dan caring menjadi kekuatan moral dan pedagogis untuk mempertahankan martabat manusia dalam pendidikan—sebuah upaya untuk menjaga agar pendidikan tetap menjadi ruang kemanusiaan, bukan sekadar produksi nilai dan kompetensi.
Kombinasi antara eros dan caring dalam pemikiran Nel Noddings memberi arah baru bagi pendidikan yang lebih berpusat pada hubungan dan kemanusiaan. Pendidikan yang bernafas kasih ini mengajak guru dan institusi untuk tidak hanya mengajar demi hasil, tetapi untuk mencintai proses belajar dan manusia yang terlibat di dalamnya. Dalam dunia yang penuh kompetisi dan fragmentasi, model pendidikan berbasis caring yang terilhami oleh semangat eros menawarkan jalan etis dan emosional untuk membangun masyarakat yang lebih lembut, inklusif, dan berkeadaban.
Dalam pemikiran Nel Noddings, pendidikan yang “bernafaskan eros” berkaitan erat dengan philosophy of education yang menempatkan perhatian (care) dan relasi personal sebagai inti dari proses belajar dan pembentukan kepribadian (personality). Eros di sini bukan semata-mata hasrat romantik, tetapi sebagai kekuatan afektif yang mendalam yang mendorong keterhubungan antara pendidik dan peserta didik dalam suasana empatik dan penuh perhatian. Noddings menolak model pendidikan yang kering, impersonal, dan terlalu berorientasi pada pencapaian kognitif semata. Ia menawarkan pendekatan etika care, di mana pendidikan dilihat sebagai relasi manusiawi yang hangat, saling mengakui, dan berbasis pada kehadiran autentik. Dalam dimensi ini, eros adalah semangat yang menyalakan minat untuk memahami, membimbing, dan menyentuh kehidupan siswa secara menyeluruh.
Dimensi kepribadian dalam pendidikan, menurut Noddings, dibentuk tidak hanya oleh transfer pengetahuan, tetapi terutama melalui pengalaman relasional yang mengasuh dan membentuk identitas moral siswa. Pendidikan yang bernafaskan eros berarti menyediakan ruang bagi pertumbuhan emosi, pemahaman diri, dan hubungan yang penuh kasih—dimana pendidik hadir bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai figur yang memperhatikan dan memedulikan. Inilah bentuk pendidikan yang merawat (nurturing), menumbuhkan otonomi moral, dan membangun kepekaan sosial. Filosofi pendidikan semacam ini berupaya membentuk pribadi yang utuh: tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sensitif terhadap orang lain dan bertanggung jawab secara etis.
Dalam kerangka ini, philosophy of education menurut Noddings menolak dikotomi kaku antara akal dan perasaan. Eros sebagai semangat kehidupan dalam pendidikan adalah pengakuan bahwa hasrat untuk mengetahui, memahami, dan mencipta tumbuh dari hubungan yang bermakna dan kasih yang tulus. Pendidikan yang demikian menjadi tempat pembentukan kepribadian melalui interaksi yang menghargai subjektivitas, keunikan, dan kebutuhan emosional setiap peserta didik. Oleh karena itu, eros bukanlah gangguan dalam pendidikan, melainkan fondasi vital yang menghidupkan proses belajar dan memperkuat dimensi moral serta spiritual dari kepribadian manusia dalam konteks pendidikan.
Capabilitas Humanitas dan Eros
Martha Nussbaum, seorang filsuf dan pakar etika kontemporer, menempatkan eros sebagai salah satu kekuatan fundamental dalam konsep humanitas yang ia kembangkan dalam berbagai karya, terutama dalam bukunya Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities (2010). Menurut Nussbaum, eros bukan hanya sekadar hasrat atau cinta dalam pengertian romantis, tetapi merupakan dorongan afektif yang mendalam yang mendorong manusia untuk terhubung dengan orang lain, mencari keadilan, dan memperjuangkan kebaikan bersama.
Dalam kerangka humanitas, eros menjadi sumber energi yang menggerakkan perhatian moral dan empati—dua aspek esensial untuk membangun masyarakat yang demokratis dan inklusif. Nussbaum mengkritik pendidikan modern yang terlalu menekankan aspek teknis, utilitarian, dan ekonomi, sehingga mengabaikan dimensi humanitas yang melibatkan pengembangan karakter, imajinasi moral, dan keterampilan berpikir kritis.
Dalam konteks ini, eros berperan sebagai prinsip pendidikan yang membangkitkan kecintaan terhadap pengetahuan dan keinginan untuk memahami pengalaman orang lain secara mendalam. Pendidikan yang menghidupkan eros tidak hanya memfokuskan pada transfer informasi, tetapi juga membangun kemampuan untuk bersimpati dan menghargai keragaman manusia, yang menjadi dasar bagi solidaritas sosial dan keadilan.
Lebih jauh, Nussbaum memandang eros sebagai kekuatan yang memungkinkan manusia mengatasi kecenderungan egoisme dan bias kelompok, sehingga membuka ruang untuk dialog dan toleransi dalam masyarakat pluralistik. Eros mendorong individu untuk melihat melampaui kepentingan diri sendiri dan memahami keberadaan orang lain sebagai subjek yang bermartabat.
Dengan demikian, eros menjadi elemen sentral dalam pendidikan yang bertujuan mengembangkan warga negara yang sadar secara etis dan mampu berkontribusi pada kehidupan demokrasi yang sehat. Selain itu, eros dalam perspektif Nussbaum juga berkaitan erat dengan pengembangan imajinasi moral, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain dan memahami situasi mereka dari perspektif yang berbeda.
Imajinasi moral ini merupakan fondasi untuk membangun empati dan solidaritas yang mendalam, yang sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan sosial dan politik modern. Pendidikan yang mengintegrasikan eros akan menumbuhkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap penderitaan dan kebutuhan sesama manusia.
Secara keseluruhan, Martha Nussbaum menegaskan bahwa eros dan humanitas adalah dua konsep yang tak terpisahkan dalam pendidikan dan kehidupan bermasyarakat. Eros memberi nafas afektif dan etis yang menjadikan humanitas bukan sekadar pengetahuan, tetapi cara hidup yang melibatkan cinta, perhatian, dan komitmen terhadap keadilan.
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi dan terancam oleh dehumanisasi, pendidikan yang berakar pada eros menurut Nussbaum adalah kunci untuk membentuk individu dan masyarakat yang mampu hidup bersama secara adil, bermartabat, dan penuh belas kasih. Konsep eros dalam pemikiran Martha Nussbaum tidak hanya merujuk pada cinta atau hasrat dalam pengertian romantis atau seksual, melainkan sebagai kekuatan afektif yang mendalam yang mendorong manusia untuk peduli, terlibat, dan mencintai kehidupan dalam segala dimensinya.
Dalam kerangka capability approach yang dikembangkan bersama Amartya Sen, eros dapat dipahami sebagai energi vital yang menopang dan memotivasi individu untuk mengembangkan potensinya secara utuh. Nussbaum melihat bahwa manusia tidak hanya membutuhkan hak-hak dasar, tetapi juga kesempatan nyata untuk menjalani hidup yang bermakna, penuh kasih, dan bermartabat—dimensi yang secara implisit mengandung kekuatan eros.
Dengan demikian, eros menjadi unsur penting dalam pembangunan kualitas hidup yang tidak hanya material tetapi juga afektif dan etis. Dalam kaitannya dengan human capabilities, Nussbaum memasukkan aspek afeksi, cinta, dan hubungan antar-manusia sebagai bagian integral dari sepuluh kemampuan dasar yang harus dipenuhi agar seseorang dapat hidup secara manusiawi.
Salah satu dari kemampuan tersebut adalah “emotions”—kemampuan untuk mencintai, berduka, merasa terikat pada orang dan hal-hal di luar diri sendiri. Di sinilah eros memainkan peran penting: ia menjadi dasar bagi hubungan yang etis dan saling menghargai, serta sebagai kekuatan pendorong untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan bermakna bagi diri sendiri maupun orang lain.
Eros membantu menumbuhkan empati dan perhatian terhadap penderitaan orang lain, yang menjadi fondasi penting dalam perjuangan keadilan sosial. Dalam konteks keadilan sosial (social justice), Nussbaum menekankan bahwa masyarakat yang adil harus memastikan bahwa setiap individu memiliki akses terhadap kondisi yang memungkinkan berkembangnya semua aspek kemanusiaan, termasuk kemampuan untuk mencintai, dipedulikan, dan hidup dalam relasi yang saling menghormati.
Eros, dalam hal ini, bukanlah kekuatan individualistik, tetapi bersifat relasional dan kolektif—ia memampukan kita untuk menginginkan kebaikan bersama, bukan sekadar kesejahteraan pribadi. Oleh karena itu, dalam visi Nussbaum, eros menjadi landasan afektif dan etis dari kebijakan publik dan pendidikan yang berorientasi pada martabat, otonomi, dan keterhubungan antar-manusia. Ia mengajak kita untuk membangun masyarakat bukan hanya dengan logika rasional, tetapi juga dengan kasih, perhatian, dan komitmen terhadap kehidupan yang bermutu untuk semua.
Ekologi dan Eros
More Posthuman Glossary, The Posthuman, Socially Just Pedagogies: Posthumanist, Feminist dan Materialist Perspective in Higher Education, serta Posthuman Ecologies: Complexity and Process After Deleuze merupakan karya-karya penting dalam ranah pemikiran posthumanisme yang menantang pandangan humanisme klasik dalam pendidikan. Dalam konteks pendidikan yang “bernafas eros” menurut Rosi Braidotti, ketiga karya ini menawarkan pendekatan transformatif yang menekankan keterhubungan antara manusia, non-manusia, dan lingkungan dalam proses belajar.
More Posthuman Glossary dan The Posthuman mengeksplorasi bagaimana identitas, subjek, dan agensi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tetap dan eksklusif milik manusia, melainkan sebagai hasil relasional dan afektif dari keterlibatan dengan teknologi, alam, dan materi. Dalam kerangka ini, pendidikan tidak lagi berpusat pada rasionalitas dan otonomi individual, tetapi pada keberadaan yang senantiasa menjadi—yang melibatkan hasrat, emosi, dan keterikatan dengan dunia material secara etis dan berkeadilan sosial.
Melalui Socially Just Pedagogies dan Posthuman Ecologies, Braidotti dan para pemikir sejalan mengusulkan pedagogi yang berbasis pada perspektif posthumanis, feminis, dan materialis yang memperjuangkan keadilan sosial lintas spesies dan makhluk. Pendidikan yang “bernafas eros” menekankan afektivitas, keterhubungan, dan hasrat hidup (vitalitas) sebagai fondasi pedagogis yang memampukan transformasi bersama antara manusia dan lingkungan sekitarnya.
Dalam pandangan ini, teori kompleksitas dari Deleuze memperkaya pemahaman bahwa proses belajar adalah non-linear, terbuka, dan penuh potensi menjadi sesuatu yang baru. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi sebuah proses yang hidup, bergerak, dan kreatif—di mana tubuh, afek, dan materi semua berperan. Pendekatan ini membuka jalan menuju praktik pendidikan yang lebih inklusif, transformatif, dan relevan dengan tantangan ekologi dan etika zaman kontemporer.
Lihat juga: Tiga Tahap Jatuh Cinta dengan 11 Alasan di Baliknya
Lihat juga: Lakukan 12 Hal “Kecil” Ini Agar Pasangan Semakin Cinta
Kreativitas dan Eros
Dalam bukunya Dewey and Eros: Wisdom and Desire in the Art of Teaching (2010), Jim Garrison mengeksplorasi gagasan bahwa pendidikan yang sejati harus menggabungkan kebijaksanaan (sophia) dan hasrat (eros), dua unsur yang sering kali dipisahkan dalam praktik pendidikan modern. Garrison mengembangkan pemikiran John Dewey dengan menekankan bahwa proses belajar bukan hanya soal akumulasi pengetahuan, tetapi juga tentang dorongan batin yang mendalam untuk tumbuh, memahami, dan terlibat secara penuh dalam kehidupan.
Eros di sini dipahami sebagai kekuatan vital yang mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan hubungan yang bermakna antara guru, murid, dan dunia mereka. Melalui pendekatan ini, Garrison menempatkan Eros sebagai inti dari seni mengajar, bukan sebagai gangguan emosional, tetapi sebagai energi pembelajaran yang esensial.
Garrison berargumen bahwa dalam tradisi pendidikan Barat, terutama pasca-modernisme dan era teknokratis, dimensi Eros cenderung diremehkan atau bahkan disingkirkan demi penekanan pada objektivitas, efisiensi, dan kontrol. Namun, menurutnya, mengajar dan belajar sejati tidak dapat dipisahkan dari hasrat dan hubungan emosional yang kuat—baik terhadap pengetahuan maupun terhadap orang lain.
Mengacu pada filsafat Dewey yang menekankan pengalaman sebagai dasar pendidikan, Garrison menunjukkan bahwa pengalaman pendidikan yang hidup selalu melibatkan Eros sebagai daya yang mengikat peserta didik pada dunia mereka, serta membuka ruang bagi kebijaksanaan yang lahir dari keterlibatan personal dan reflektif. Dalam konteks pendidikan demokratis, Dewey and Eros mengajak pendidik untuk memulihkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dalam proses belajar dengan menghadirkan cinta, perhatian, dan keterbukaan sebagai landasan interaksi pedagogis.
Garrison percaya bahwa guru yang bijak adalah mereka yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan hasrat manusia untuk bertumbuh, membentuk identitas, dan hidup dalam kebersamaan. Dengan mengintegrasikan Eros ke dalam pengajaran, pendidikan menjadi bukan hanya sarana transmisi informasi, tetapi juga proses pembentukan jiwa dan masyarakat yang lebih adil, demokratis, dan penuh makna.
Garrison mengkritik tajam terhadap pendidikan modern yang terlalu kognitif dan mengabaikan dimensi emosional dan eksistensial dari pengajaran dan pembelajaran.Teknokratis cenderung melahirkan warga negara yang apatis dan teralienasi secara moral. Demokrasi yang sehat memerlukan warga yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara emosional dan etis, mampu merasakan penderitaan orang lain, serta terdorong untuk bertindak demi keadilan sosial.
Dengan mengintegrasikan kembali dimensi Eros ke dalam pendidikan, kita membangun landasan yang lebih utuh untuk membentuk warga demokratis—yakni individu yang berpikir kritis sekaligus peduli, mencintai kehidupan, dan menghormati martabat manusia. Dalam hal ini, gagasan Burch menantang kita untuk merevisi secara radikal arah pendidikan kontemporer agar selaras kembali dengan visi kemanusiaan yang menyeluruh.
Lihat juga: Aktivitas Fisik Jaga Kesejahteraan Mental Anak
Lihat juga: Hukuman Fisik Tidak Relevan Didik Anak Masa Kini
Masyarakat Demokrasi
Kerry T. Burch adalah seorang akademisi dan penulis asal Amerika Serikat yang menjabat sebagai Associate Professor dalam bidang Filsafat Pendidikan di Northern Illinois University. Ia dikenal karena kontribusinya dalam mengembangkan teori pendidikan demokratis yang kritis dan transformatif. Salah satu karya terkenalnya adalah Eros as the Educational Principle of Democracy (Peter Lang, 2000), di mana ia mengusulkan konsep Eros—bukan hanya sebagai hasrat romantis, tetapi sebagai energi afektif yang mendalam—sebagai prinsip dasar dalam pendidikan demokrasi yang membebaskan.
Burch juga menulis Democratic Transformations: Eight Conflicts in the Negotiation of American Identity (Bloomsbury, 2012), yang mengkaji konflik-konflik utama dalam identitas Amerika dan bagaimana konflik tersebut dapat menjadi ruang pedagogis untuk membentuk warga negara yang lebih sadar dan kritis. Eros sebagai prinsip pendidikan demokrasi menekankan pentingnya cinta, hasrat, dan keterlibatan afektif dalam proses pembelajaran yang bertujuan membentuk warga negara yang kritis, peduli, dan aktif dalam kehidupan demokratis.
Konsep ini melampaui pendekatan pendidikan yang hanya berfokus pada aspek kognitif atau teknis, dengan menyoroti bahwa pendidikan harus menyentuh dimensi emosional dan eksistensial peserta didik. Eros menggerakkan manusia untuk terhubung secara autentik dengan sesama, menghargai keberagaman, dan berkomitmen pada keadilan sosial, sehingga demokrasi tidak hanya menjadi sistem politik formal, tetapi juga sebuah praktik hidup yang penuh empati dan solidaritas.
Dalam konteks ini, pendidikan demokrasi yang berlandaskan Eros mampu membuka ruang bagi transformasi personal dan sosial yang mendalam. Democratic Transformations: Eight Conflicts in the Negotiation of American Identity (2012) karya Kerry T. Burch merupakan kajian kritis yang mengeksplorasi bagaimana identitas Amerika dibentuk dan terus dinegosiasikan melalui berbagai konflik sosial, politik, dan budaya.
Burch mengidentifikasi delapan konflik utama yang mencerminkan ketegangan antara nilai-nilai demokrasi ideal dan realitas praktik sosial di Amerika Serikat, seperti konflik rasial, kelas sosial, gender, dan ideologi. Melalui analisis ini, ia menunjukkan bahwa demokrasi Amerika bukanlah sesuatu yang statis atau final, melainkan proses dinamis yang selalu terbuka untuk transformasi melalui dialog, perjuangan, dan negosiasi identitas kolektif. Dalam bukunya, Burch menekankan pentingnya pendidikan demokratis sebagai arena strategis untuk menghadapi dan mengelola konflik-konflik tersebut secara konstruktif.
Pendidikan harus mampu membekali warga negara dengan kemampuan kritis dan afektif untuk mengakui perbedaan, membangun solidaritas, serta memperjuangkan keadilan dan inklusivitas. Dengan cara ini, pendidikan demokratis berperan vital dalam memajukan transformasi sosial yang memungkinkan masyarakat Amerika bergerak menuju cita-cita demokrasi yang lebih adil dan menghormati keberagaman identitasnya. Eros sebagai prinsip pendidikan demokrasi dalam konteks hak asasi manusia menurut Burch Kerry T. menekankan pentingnya hasrat, cinta, dan keterlibatan emosional sebagai kekuatan transformatif dalam proses pendidikan.
Dalam pandangan ini, Eros bukan sekadar dorongan biologis, tetapi kekuatan vital yang mendorong individu untuk peduli, terhubung, dan bertindak demi keadilan serta kemanusiaan. Pendidikan demokratis yang berlandaskan hak asasi manusia tidak hanya menuntut pemahaman rasional, tetapi juga pengakuan terhadap dimensi afektif dalam diri manusia, yang memungkinkan solidaritas, empati, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu. Dengan menghadirkan Eros, pendidikan menjadi ruang hidup yang membangkitkan kesadaran kritis dan komitmen etis terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM, menjadikannya lebih dari sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan juga pengalaman eksistensial yang membebaskan.
Dalam bukunya The Art of Ethics in the Information Society: Mindful Judgment for a Hyperconnected World, Burch Kerry T. mengartikan Eros bukan sekadar hasrat romantis atau seksual, melainkan sebagai prinsip mendalam yang mewakili kekuatan cinta, perhatian, dan keterhubungan eksistensial antara manusia. Eros, menurut Burch, adalah energi vital yang mendorong manusia untuk melampaui individualisme dan mengembangkan keterlibatan emosional serta etis terhadap sesama dan dunia.
Dalam konteks pendidikan, Eros berperan sebagai kekuatan pembebas yang menumbuhkan kesadaran, empati, dan rasa tanggung jawab moral. Burch menekankan bahwa pendidikan yang sejati harus menghidupkan kembali Eros agar mampu membentuk warga negara yang bukan hanya berpikir kritis, tetapi juga peduli dan terlibat secara emosional dalam perjuangan demi keadilan dan hak asasi manusia di era informasi yang sering kali mendehumanisasi.
Membahas Eros sebagai prinsip pendidikan demokrasi liberatif menurut Burch Kerry T. amat penting karena Eros menghadirkan dimensi afektif, eksistensial, dan etis yang sering terabaikan dalam sistem pendidikan modern yang terlalu menekankan aspek teknokratis dan kognitif. Dalam pandangan Burch, pendidikan demokratis yang sejati tidak hanya bertujuan mencetak individu rasional, tetapi juga menumbuhkan subjek yang peduli, mampu merasakan, dan terlibat secara mendalam dalam relasi sosial yang adil dan manusiawi.
Eros menjadi kekuatan yang menggerakkan hasrat untuk memahami dan memperjuangkan keadilan, martabat manusia, dan solidaritas lintas perbedaan. Dengan mengintegrasikan Eros, pendidikan liberatif dapat melampaui batasan instruksional semata dan menjadi proyek pembebasan yang menyentuh seluruh aspek kemanusiaan, memperkuat demokrasi dari dalam melalui cinta, harapan, dan empati sebagai dasar pembentukan warga yang sadar hak dan tanggung jawabnya. Semakin penting untuk membangun masyarakat demokratis yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Ia mengkritik keras sistem pendidikan modern yang terjebak dalam paradigma teknokratis dan reduksionisme kognitif, yang pada akhirnya menghasilkan individu yang cerdas secara teknis namun miskin secara moral dan emosional. Menurut Burch, demokrasi sejati tidak hanya bertumpu pada rasionalitas atau prosedur politik, melainkan juga memerlukan warga negara yang mampu merasakan cinta, empati, dan keterhubungan yang mendalam dengan sesama manusia.
Di sinilah Eros, sebagai kekuatan afektif dan eksistensial, memainkan peran kunci dalam menumbuhkan etika kepedulian dan solidaritas sosial. Burch memaknai Eros sebagai prinsip cinta yang mendorong manusia untuk melampaui kepentingan diri dan terlibat dalam relasi yang bermakna dengan orang lain dan dunia.
Dalam konteks pendidikan, Eros membangkitkan hasrat untuk memahami, menghargai, dan memperjuangkan martabat sesama. Ketika Eros diabaikan, pendidikan kehilangan daya transformasinya dan menjadi instrumen reproduksi ketimpangan serta ketidakadilan sosial. Oleh karena itu, hanya melalui pendidikan yang menghidupkan Eros, kita bisa menciptakan ruang belajar yang membuka kesadaran, menyuburkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menumbuhkan komitmen terhadap keadilan sosial. Prinsip ini memungkinkan peserta didik tidak hanya menjadi “produk ekonomi”, tetapi juga menjadi agen moral dan politik yang aktif dalam membangun masyarakat demokratis yang inklusif.
Lebih jauh, Burch menekankan bahwa demokrasi sebagai bentuk kehidupan bersama tidak dapat dipertahankan hanya dengan logika formal dan rasionalitas prosedural. Demokrasi memerlukan dasar afektif dan etis yang kuat—dan Eros menyediakan energi untuk itu. Dalam pendidikan yang berlandaskan Eros, peserta didik belajar untuk mencintai kebenaran, menghormati perbedaan, dan merangkul kompleksitas hidup bersama. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi sekadar menjadi sarana mobilitas sosial, tetapi menjadi proyek kultural dan moral yang bertujuan membentuk masyarakat yang benar-benar damai, adil, dan inklusif secara abadi. Burch menawarkan visi radikal bahwa hanya dengan membangun pendidikan atas dasar cinta dan keterhubungan—bukan hanya pengetahuan dan keterampilan—kita bisa menyelamatkan demokrasi dari kehampaan spiritual dan krisis etika yang terus menggerogotinya. Burch menolak pengertian cinta yang sempit sebagai sekadar perasaan romantis atau emosional, dan sebaliknya menempatkan cinta sebagai prinsip fundamental yang menggerakkan hubungan sosial, politik, dan pendidikan.
Ia melihat ketiga bentuk cinta ini sebagai landasan penting untuk menciptakan masyarakat demokratis yang menghormati martabat dan hak asasi setiap individu. Pertama, Burch menempatkan Eros sebagai cinta yang mengandung hasrat dan dorongan kuat untuk keterhubungan yang mendalam antara individu dan dunia. Eros, bagi Burch, bukan sekadar nafsu biologis, melainkan energi vital yang mendorong rasa ingin tahu, keinginan akan keadilan, dan keterlibatan etis. Dalam konteks demokrasi dan pendidikan, Eros membangkitkan semangat untuk mengenal dan memahami orang lain secara autentik, serta mendorong tindakan berdasarkan cinta dan solidaritas. Pendidikan yang berlandaskan Eros bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk karakter dan kesadaran moral yang responsif terhadap hak asasi manusia.
Kedua, Agape atau cinta religius/agama, dalam pemikiran Burch, membawa dimensi kasih sayang universal dan pengorbanan tanpa pamrih yang menjadi landasan nilai-nilai kemanusiaan dan etika dalam demokrasi. Agape mengajarkan penghormatan yang tanpa syarat terhadap sesama, sekaligus menguatkan komitmen moral untuk memperjuangkan keadilan dan martabat manusia secara inklusif. Pendidikan yang mengintegrasikan Agape mengarahkan peserta didik untuk memahami bahwa hak asasi manusia bukan sekadar norma hukum, tetapi panggilan etis untuk hidup bersama secara harmonis dan saling menghormati, tanpa diskriminasi.
Ketiga, Burch juga menyoroti Storge, yaitu cinta yang berakar pada rasa kebersamaan, kehangatan, dan keterikatan sosial yang muncul dalam hubungan keluarga atau komunitas kecil. Storge melambangkan rasa aman dan solidaritas yang menjadi fondasi sosial yang sehat dan demokratis. Dalam pendidikan, Storge memungkinkan tumbuhnya rasa kebersamaan yang inklusif dan penghargaan terhadap keberagaman sebagai bagian integral dari kehidupan bersama.
Pendidikan yang memanusiakan manusia menurut Burch harus membangun ikatan sosial yang kuat dan penuh empati, agar demokrasi dapat berjalan tidak hanya sebagai sistem politik, tetapi juga sebagai praktik kemanusiaan yang nyata. Secara keseluruhan, Burch menyimpulkan bahwa ketiga bentuk cinta ini—Eros, Agape, dan Storge—harus diintegrasikan dalam pendidikan untuk mewujudkan demokrasi yang sejati dan penghormatan hak asasi manusia.
Pendidikan memanusiakan manusia bukan hanya soal pencapaian kognitif, melainkan juga soal pembentukan hati dan karakter yang mampu menghayati dan mengamalkan cinta dalam berbagai dimensi kehidupan. Dengan demikian, pendidikan menjadi ruang transformatif yang membuka peluang bagi setiap individu untuk berkembang secara utuh sebagai manusia yang sadar akan hak dan tanggung jawabnya dalam masyarakat demokratis yang adil, damai, dan inklusif. Burch dengan tegas menunjukkan bahwa hanya dengan menghidupkan kembali cinta dalam pengertian luas inilah pendidikan dapat memenuhi tujuan humanistiknya yang sesungguhnya.
Lihat juga: Anak Sering Tonton Video Pendek Turunkan Minat Belajar
Lihat juga: Lima Tips Hadapi Tantangan Anak Belajar Daring
Relevansinya
Relevansi aktual eros sebagai prinsip dalam pendidikan demokrasi terletak pada kemampuannya untuk menggerakkan hasrat belajar, keterlibatan, dan pencarian makna dalam kehidupan bersama. Dalam konteks ini, eros tidak semata-mata dipahami sebagai dorongan seksual, tetapi sebagai kekuatan eksistensial yang mendorong manusia untuk merindukan kebaikan, keadilan, dan keindahan—nilai-nilai yang menjadi inti dari demokrasi. Pendidikan demokratis yang hanya berfokus pada prosedur formal atau aspek rasional saja, tanpa menghidupkan dimensi eros, akan kehilangan semangat dan daya tariknya sebagai proses pemanusiaan.
Ketika diterapkan dalam pendidikan demokrasi, ini berarti guru dan peserta didik tidak hanya bertukar informasi, tetapi bersama-sama terlibat dalam proses pencarian kebenaran dan keadilan yang menggugah hati. Pendidikan demokrasi yang didasarkan pada eros juga menekankan pentingnya relasi dan dialog. Dalam kelas yang demokratis, pertemuan antar-subjek menjadi medan tumbuhnya rasa saling mendengar, saling menginginkan yang terbaik bagi yang lain, dan menciptakan ruang aman untuk perbedaan.
Eros di sini menjadi kekuatan yang menghindarkan pendidikan dari sekadar transmisi nilai-nilai moral atau politik, dan menjadikannya sebagai pengalaman bersama yang menciptakan solidaritas dan empati antarwarga.Relevansi lain dari eros dalam pendidikan demokrasi adalah kemampuannya untuk menumbuhkan semangat transendensi terhadap status quo. Dalam dunia yang ditandai oleh apati, sikap sinis, dan ketidakpercayaan terhadap lembaga-lembaga demokratis, pendidikan yang dihidupkan oleh eros dapat membangkitkan harapan dan imajinasi akan kemungkinan dunia yang lebih baik.
Hasrat ini penting untuk mendorong partisipasi aktif, keterlibatan politik yang etis, dan keberanian untuk bertindak melawan ketidakadilan. Dengan demikian, eros sebagai prinsip pendidikan demokrasi adalah fondasi afektif sekaligus epistemologis yang memperkaya praktik dan pemikiran pendidikan. Ia mempertemukan dimensi personal dan politik, nalar dan cinta, serta kerinduan akan kebaikan bersama dalam suatu proyek pendidikan yang benar-benar memanusiakan dan membebaskan. Dalam dunia yang terus berubah dan penuh tantangan, prinsip eros ini menjadi semakin penting untuk menjaga jiwa demokrasi tetap hidup dan bernyawa.
Kaitan antara eros dan politik dalam pendidikan berakar dari pemahaman bahwa hasrat bukan hanya bersifat pribadi, melainkan juga kekuatan publik yang dapat menggerakkan individu untuk terlibat dalam kehidupan bersama dan memperjuangkan keadilan. Martha Nussbaum dalam Political Emotions: Why Love Matters for Justice (2013) menekankan bahwa emosi seperti cinta, harapan, dan eros sangat penting dalam membangun masyarakat demokratis. Ia menyatakan bahwa politik tidak cukup hanya mengandalkan rasionalitas; ia juga harus membangkitkan perasaan cinta terhadap sesama warga dan terhadap nilai-nilai demokrasi. Dalam konteks pendidikan, eros menjadi kekuatan afektif yang mendorong peserta didik mencintai kebebasan, menghargai perbedaan, dan aktif memperjuangkan kehidupan yang bermartabat bagi semua.
Lihat juga: Memperbarui Dunia dengan Perintah Kasih yang Baru
Lihat juga: Komitmen dan Kesetiaan Mengasihi Allah
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, pendidikan bernafas eros mengajak kita untuk memulihkan ruh pendidikan yang telah lama terjebak dalam paradigma teknokratis yang kaku dan mekanistik. Dengan menempatkan eros—yakni cinta, hasrat, dan gairah eksistensial terhadap dunia—sebagai inti dari proses belajar, pendidikan kembali dimaknai sebagai praktik yang memanusiakan, membebaskan, dan menghubungkan secara mendalam antara pendidik, peserta didik, dan objek pengetahuan. Pendekatan ini bukan sekadar emosional atau romantis, melainkan mencerminkan relasi spiritual, afektif, dan filosofis yang memungkinkan tumbuhnya kesadaran kritis dan keinginan untuk hidup bersama secara lebih adil dan bermakna.
Melalui gagasan eros, berbagai pemikir seperti Tim Loren, Nel Noddings, Paulo Freire, Joris Vlieghe, hingga Mike Tinoco dan Jenell Williams Paris, Burch Kerry T, Martha Nussbaum, menunjukkan bahwa pendidikan sejati menuntut kehadiran hati, cinta terhadap kata (love for the word), dan keterlibatan penuh dengan dunia yang dipelajari. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi harus menjadi ruang pertemuan antarjiwa, tempat munculnya harapan, transformasi, dan tanggung jawab terhadap kemanusiaan. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi dan terdigitalisasi, pendidikan yang bernafas eros menjadi jalan alternatif yang sangat relevan untuk menghidupkan kembali makna belajar sebagai pengalaman hidup yang utuh.
Lihat juga: Kiat Gaya Hidup Minim Sampah
Lihat juga: Empat Gaya Hidup Orang yang Umur Panjang
Referensi
Antonia Darder, The Student Guide to Freire’s Pedagogy of the Oppressed, Bloomsbury Publishing, 2024
Aosttre N.Johnson, Educating From the Heart: Theoritical and Practical Approaches to Transforming Education, Rowman&Littlefield Education, Lanham, Md., 2011
Burch Kerry T.,Eros as the Educational Principle of Democracy ,Peter Lang, New York, 2000
———-,Democratic Transformations: Eight Conflicts in the Negotiation of American Identity ,ContinuumInternational Publishing Group 2012
Dennis L. Carls, The Education of Eros: A History of Education and the Problem of Adolescent Sexuality, Routledge, Taylor&Francis,2012
Hannah Arendt, The Human Condition, Chicago, United States, 1958,
Jenell Williams Paris, Teach from the Heart: Pedagogy as Spiritual Practice, Eugene, Oregon, 2016
Jeffrey Friedman, Power Without Knowledge: A Critique of Technocracy, Oxford UniversityPress, 2020,
Daniel Patrick Liston, James W. Garrison, Teaching, Learning and Loving:Reclaiming Passion in Educational Practice, Routledge Falmer, New. York, 2004
James W. Garrison, Living as Learning: John Dewey in the 21St century, Massachusetts, 2014
Jim Garrison, Dewey and Eros: Wisdom and Desire in the Art of Teaching , Information Age Publishing, Charlote, 2010
Joris Villeghe, Piotr Zamojski, Towards an Ontology of Teaching: Thing centred Pedagogy, Affirmation and Love for the World, Contomporery Philosophies amd Theories in Education, Springer, 2019
Martha Nussbaum, Political Emotions: Why Love Matters for Justice, The Belknap Press of Harvard University Press, 2013
———————,Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities, Princeton University Press, 2010)
———————,The quality of Life, NewDelhi, India, 2000
———————, Capabilitas and social justice the political philosophy of Amartya Sen and Martha Nussbaum, Abingdon Oxon, 2016
———————, Human Rights and Human Capabilities, Engglish, Book, 2007
Mike Tinoco, Heart at the Center: An Educator’s Guide to Sustaining Love, Hope dan Community Through Nonviolence Pedagogy, Routledge, Tylor &Francis, 2024
Nel Noddings, Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education, Berkeley, University of California Press, 1984
—————-, Philosophy of Education: Dimensioan of Personality, Boulder, Colo, Colorado, 1995
Paulo Freire, Pedagogy of the Heart , New York, 2000
—————,Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed, A&C Black, Bloomsbury UK, London, 2014
Rosi Braidotti , The Posthuman, Polity Press,2013
—————–,Socially Just Pedagogies dan Posthuman Ecologies, Bloomsbury Academic, 2018
Tim Loreman, Love as Pedagogy , Rotterdam, 2011
Tony Buzan dan Jane Easton, The Power of Social Intelligence, Adobe Ebook Reader, 2001,
William Easterly, The Tyranny of Experts: Economists, Dictators, and the Forgotten Rights of the Poor, New York, 2021,
Zygmunt Bauman, Liquid Modernity, Auflage, New Yokr, 2000
Lihat juga: Kiat T.R.A.N.S.I.S.I dari Liburan ke Rutinitas
Lihat juga: Kiat Kelola Stres sebagai Orang Tua
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.











