21 April 2024

Awas, Kaum Muda Terjebak Hustle Culture

0

HATIYANGBERTELINGA.COM – Media sosial dapat mempengaruhi generasi muda terjebak “hustle culture” yang berdampak pada kesehatan mental, kata Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Indrayanti.

“Penyebab menjadi ‘hustle culture’ ini karena melihat orang lain. Apalagi dengan medsos, orang posting prestasi di medsos jadi mudah membandingkan diri dengan orang lain. Dampaknya ke isu kesehatan mental,” kata Indrayanti melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, dilansir Jumat (6/1/2023).

Lihat juga: Tiga Kiat Cari Pekerjaan untuk yang Baru Lulus

Menurut dia, “hustle culture” telah menjadi fenomena gaya hidup yakni pemikiran hidup untuk bekerja dan mendedikasikan kehidupan untuk bekerja sementara hal lain dikesampingkan.

“‘Hustle culture’ itu mindset-nya kita hidup untuk kerja yang lain nanti dulu. Bukan kerja untuk hidup,” ujar dosen Fakultas Psikologi UGM ini.

Indrayanti menyebutkan bahwa seringkali orang tidak menyadari jika telah terseret dalam arus “hustle culture” karena telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Lihat juga: Tips Hindari Lowongan Kerja Palsu

Menurut dia, ada ciri-ciri yang bisa dikenali dari hustle culture, salah satunya adalah terus memikirkan pekerjaan di setiap waktu dan tempat sehingga terjadi ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

“Dalam pikiran itu harus keras bekerja, bukan bekerja keras dengan startegi. Ambisius untuk terus aktif sehingga tidak peka dengan sinyal-sinyal dalam tubuhnya hingga saat banyak stresor masuk tubuhnya ambruk, stres, ‘burnout’, terjadi kelelahan psikologis,” tuturnya.

Menurut dia, ada tuntutan pekerjaan yang harus direspons secara profesional dengan kualitas tinggi agar tidak dinilai buruk yang pada akhirnya tidak memiliki waktu untuk diri sendiri atau keluarga.

Lihat juga: Ternyata Posisi Duduk Ergonomis Sangat Penting Saat Bekerja

Kondisi tersebut, kata dia, pada akhirnya berkembang lagi menjadi “toxic productivity” yang bisa terjadi pada siapapun tidak hanya di dunia kerja, tetapi juga di dunia pendidikan.

“Melihat kondisi kerja yang situasinya pada ‘workaholic’ akhirnya kepikiran, ada racun di pikiran. Jangan-jangan yang disebut produktif yang harus kerja keras, lembur, dan akan merasa bersalah jika gak kaya gitu,” paparnya.

Lihat juga: Tiga Kiat Cari Pekerjaan untuk yang Baru Lulus

Indrayanti mengatakan situasi ini yang terjadi pada tiap-tiap individu kemudian menjadi sebuah fenomena yang dilihat di lingkungan sehingga menjadi sebuah gaya hidup atau budaya.

“Pada akhirnya generasi muda menjadi berpikir tentang produktivitas seperti yang kebanyakan terlihat yakni yang kerja keras dan terus melakukannya supaya tidak merasa tertinggal,” kata dia.

Hustle culture merupakan standar di masyarakat yang menganggap bahwa kamu hanya dapat mencapai sukses kalau benar-benar mendedikasikan hidupmu untuk pekerjaan dan bekerja sekeras-kerasnya.

Lihat juga: Kiat Sukses Adopsi Model Kerja Jarak Jauh dan Hibrid


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts to your email.

Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading