Kiat Sukses Adopsi Model Kerja Jarak Jauh dan Hibrid

HATIYANGBERTELINGA.COM – Kerja dari rumah, kerja secara remote, kerja jarak jauh, menjadi beberapa metode yang sudah tidak asing akibat adanya pandemi COVID-19 yang mengharuskan masyarakat beradaptasi dan harus menjaga jarak secara fisik untuk mencegah potensi penularan virus SARS-CoV-2.

Di masa kasus COVID-19 melandai pun, kini metode kerja dari rumah atau jarak jauh tetap dilangsungkan karena dinilai masyarakat tetap produktif meski tak harus bekerja dari kantor.

Senior Vice President dan GM Client Solutions Group Dell Technologies Asia Pasifik, Jepang, dan China Jean- Guillaume Pons, dalam keterangannya, Rabu (3/11/2021), mengatakan “Para pemimpin perusahaan dan manajer yang tidak dapat melihat moda kerja jarak jauh di masa depan perlu mengubah pola pikir mereka.”

Berkaca dari realita itu, maka Dell Technologies lewat laporannya “Dell Technologies Remote Work Readiness Index” membagikan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perusahaan dapat mendukung para pekerjanya terbiasa dan sukses saat menjalani kerja dari jarak jauh atau kerja dari rumah.

Sediakan perangkat produktivitas yang tepat

Pemimpin perusahaan perlu memprioritaskan pengalaman pekerja dalam model kerja hibrida dengan berinvestasi pada sumber daya teknologi berkualitas mulai dari laptop dan monitor sampai ke aksesoris pelengkap untuk mendukung karyawan mereka dapat bekerja secara produktif dan aman.

Menurut studi Remote Work Readiness Index, 42 persen pekerja di indonesia menyatakan alat produktivitas yang disediakan oleh perusahaan sebagai sumber daya teknologi utama yang harus disediakan perusahaan untuk mendukung mereka bekerja jarak jauh dalam jangka panjang.

Jika kebutuhan perangkat itu tidak dipenuhi maka setidaknya dapat terjadi dua hal saat kerja jarak jauh dilakukan.

Pertama, produktivitas turun dan rasa frustrasi meningkat karena mereka merasa tidak mendapatkan dukungan untuk dapat berhasil bekerja di lingkungan kerja jarak jauh.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat tim kehilangan motivasi, tingkat retensi karyawan turun dan mempengaruhi kinerja bisnis.

Kedua, tanpa alat produktivitas yang tepat para pekerja akan mengunduh dokumen perusahaan ke perangkat pribadi mereka untuk melakukan tugas sehari-hari.

Hal tersebut dapat menyebabkan data perusahaan tidak terlindungi dan duplikasi data dilakukan di berbagai platform.

Bagi organisasi/perusahaan, kondisi tersebut menimbulkan tantangan untuk melacak, mengelola, dan melindungi data sensitif yang disimpan di perangkat yang digunakan pekerja.

Siapkan infrastruktur TI modern untuk moda kerja hibrid

Moda kerja hibrid dalam jangka panjang perlu dirancang sebagai ruang kerja digital yang siap digunakan untuk kebutuhan apapun. Artinya, baik ketika pekerja bekerja dari rumah atau di kantor, perusahaan harus siap mendukung terciptanya kolaborasi yang lancar dan dapat mengelola sumber daya TI dari manapun.

Dalam studi Dell tercatat 32 persen pekerja di Indonesia mengatakan bahwa sangatlah penting bagi mereka untuk dapat mengakses sumber daya internal perusahaan seperti akses ke intranet, data perusahaan/data bersama, database/perangkat CRM, dan sebagainya.

Semakin populernya tempat kerja hibrid juga berkontribusi pada meningkatnya adopsi teknologi cloud.

Firma Riset Teknologi Gartner memprediksi secara global pengeluaran end-user untuk layanan cloud publik akan meningkat 26,7 persen di 2021, seiring upaya para CIO dan pemimpin TI lainnya untuk terus memprioritaskan berbagai aplikasi yang berbasis cloud seperti software as a service (SaaS).

Bagi perusahaan/organisasi yang baru mulai bertransisi ke cloud, perusahaan dapat mempertimbangkan memulai dengan model infrastruktur hybrid cloud yaitu, infrastruktur yang mengkombinasikan cloud publik, privat dan edge untuk mendukung beban kerja tradisional dan aplikasi generasi berikutnya.

Lindungi data perusahaan dengan solusi keamanan endpoint

Satu hal yang wajib dimiliki perusahaan yang menerapkan moda kerja hibrid adalah strategi keamanan dan pengamanan data yang tangguh.

Moda bekerja jarak jauh menyebabkan data bisa tersebar di berbagai lokasi seperti pusat data, beberapa tempat kerja, serta ekosistem hybrid dan multi-cloud.

Dell menemukan bahwa di Asia Pasifik dan Jepang hampir 1 dari 3 (28 persen) pekerja terpaksa menggunakan alat produktivitas pribadi untuk bekerja.

Situasi yang sama juga dialami 32 persen pekerja di Indonesia. Kondisi tersebut membuat sejumlah besar data rahasia tersimpan di perangkat pribadi atau endpoint.

Untuk mengelola data yang sangat banyak yang dihasilkan di level edge tersebut, organisasi/perusahaan harus bisa mencegah, mendeteksi dan merespon berbagai ancaman tersebut di mana pun lokasi kejadiannya.

Maka dari itu perusahaan harus dapat menciptakan langkah darurat agar dapat menjaga keamanan datanya di luar jaringan perusahaan terutama bagi mereka yang menerapkan sistem kerja hibrid dengan kerja jarak jauh.

Perusahaan dapat berinvestasi di infrastruktur keamanan siber yang fleksibel, terukur, dan dapat dikelola, serta memastikan pencegahan proaktif terhadap ancaman keamanan dan kehilangan data menggunakan teknologi AI, machine learning, dan deteksi behavioural-endpoint yang mudah diterapkan.

Dengan investasi teknologi yang tepat, perusahaan dapat dengan mudah bertransisi antara bekerja dari rumah dan di kantor dengan risiko operasional bisnis yang minimal.

Tentunya dengan persiapan matang lewat dukungan infrastruktur TI yang handal maka para pekerja yang bekerja jarak jauh dapat menyediakan lingkungan kerja yang fleksibel bagi para pegawainya.

Selain itu juga kesuksesan sebuah perusahaan saat ini tidak hanya tentang menyediakan teknologi yang tepat.

Perusahaan juga perlu meningkatan keterampilan digital dan kesejahteraan karyawan saat mereka berusaha untuk mengatasi berbagai tantangan lainnya saat bekerja dari rumah, seperti kaburnya batasan antara kehidupan profesional dan pribadi.

Keberhasilan sebuah tempat kerja yang terhubung pada akhirnya bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengadopsi budaya kerja yang fleksibel dan didukung oleh infrastruktur teknologi yang tepat, untuk memungkinkan inovasi dan moda kerja jarak jauh yang efektif.

Leave a Reply