Dari Boks Token Listrik Nyatakan Sabda Yesus Hidup

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Ketika merefleksikan Lukas 6:36-38, perhatian saya tertuju ayat 38 yang mengingatkan saya peristiwa yang saya alami belum lama ini. Masih hangat diingatan saya, Minggu pagi, 28 Februari 2021, ketika ada petugas memasang instalasi pergantian boks token listrik di “apartemen horizontal” alias kontrakan (deret ke samping) yang saya tempati.

Pagi itu, pengelola rumah sempat meminta iuran sukarela para penghuni untuk diberikan kepada petugas yang memperbaiki kotak token listrik. Alat yang diganti sebenarnya gratis. Jadi tidak perlu diberikan biaya apa pun kepada petugas listrik itu karena akan dianggap sebagai pungli (pungutan liar).

Namun demikian, sebagai masyarakat yang masih menganut “tidak baik, kalau tidak memberi tips” maka beberapa penghuni pun pada saweran. Saya sendiri menyerahkan lembar uang coklat muda kepada pengelola kontrakan.

Menurut pengelola nanti akan diserahkan kepada koordinator petugas penganti boks token listrik. Maklum saja dari sekitar 35 pintu, ada separohnya yang mendapatkan pergantian boks token akibat alatnya sudah usang masa pakainya.

Akhirnya giliran kamar rumah saya yang diganti. Istri saya sempat melihat pergantian boks token listrik itu seraya tanya-tanya sekadarnya. Saya sempat berpikir lembar coklat muda yang saya berikan tidaklah seberapa adanya ketimbang pekerjaan yang dilakukan petugas itu yang berisiko terhadap sengatan arus voltase listrik.

Hati kecil saya didorong suatu niatan untuk memberikan tambahan sedikit. Saya menyadari, berkat Tuhan sungguh luar biasa yang telah saya peroleh sejak bulan Januari hingga akhir Februari tahun 2021. Saya merasa Tuhan sudah memberikan saya rezeki yang cukup untuk kehidupan sehari-hari selama ini.

Meskipun kata “Cukup” itu relatif, dan setiap orang berbeda-beda rasa cukupnya. Namun dalam keterbatasan saya akhirnya saya memberikan tambahan lagi lembar uang ungu kepada petugas instalasi itu.

“Pak, maaf ini buat ngopi,” kata saya seraya menyerahkan lipatan kecil lembar ungu tersebut.

“Duh.. ga usah pak!” kata petugas itu agak sungkan.

“Gapapa pak, ini buat ngopi,” kata saya seraya sodorkan lagi lembaran ungu itu.

“Terima kasih ya pak,” jawab petugas itu menerima.

“Iya pak, terima kasih banyak ya!” kata saya lagi.

Para sahabat terkasih, berkaitan ayat injil yang saya refleksikan kali ini, saya teringat ketika terjadi dialog dalam batin saya sebelum memberikan sedikit tambahan uang tips kepada petugas itu. Saya sempat merasakan ada dorongan suara hati saya untuk memberi sedikit kepadanya.

Sedangkan ada pula ego dalam pikiran saya yang mengatakan, “sudah cukup sekali saja (lembar coklat muda), tidak perlu memberi lagi. Wong saya sendiri lagi hemat anggaran.”

Namun demikian, saya lebih memilih memberikan tambahan sedikit (lembar ungu) karena saya melakukannya untuk Tuhan yang telah mendorong saya untuk memberikannya kepada petugas itu.

Sahabat terkasih, sungguh saya terkejut ketika belum ada satu jam berlalu, handphone saya ada bunyi pesan masuk dari mantan dosen kuliah yang menanyakan jualan puding yang saya kelola marketingnya.

Maklum saja, saya setiap Sabtu dan Minggu mempromosikan jualan milik keluarga, kolega, dan sahabat melalui WhatsApp *”SY Melki SP & Partners”* dan hatiyangbertelinga.com (maaf iklan sekalian).

Mohon dimaklumi juga karena saya yang masih dua bulan ini merintis “bisnis online” sangat sukacita mendapatkan respons dari orang-orang. Jadi, setelah percakapan dengan mantan dosen saya itu, perasaan saya begitu senang dengan ucapan syukur yang tidak terucap karena saya baru saja memberikan tanda kasih kepada orang lain dan saya malahan “dibalas” diberikan Tuhan berkat kasih melalui orang yang lainnya.

Sungguh ayat yang saya refleksikan kali ini sungguh hidup dan nyata. Perkataan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya ternyata berlaku juga kepada saya, “Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaan Melki. Sebab ukuran yang Melki pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada Melki.” (bdk. Lukas 6:38)

Hingga refleksi ini dibuat, saya masih tidak menyangka, bacaan Injil yang saya refleksikan tengah malam ini sungguh meneguhkan, menginspirasi, dan memberikan kekuatan kepada saya untuk bersyukur kepada Tuhan Yesus, Sabda Allah yang hidup. Saya menyakini, Tuhan sungguh nyata dan ada.

Apakah saya sudah layak mensyukuri Kasih Allah yang nyata dan hidup?

+Terpujilah Engkau Allah Maha Murah Hati dan Maha Belas Kasih. Kami bersyukur untuk Sabda-Mu yang hidup dan nyata melalui Yesus Kristus. Tuhan, kami berterima kasih untuk berkat kasih-Mu yang masih tercurah hingga detik ini. Mampukan kami untuk menyadari segala kasih-Mu dalam setiap hal dalam kehidupan kami ini agar Engkau senantiasa kami permuliakan detik ini dan selama-lamanya. Amin.+

Refleksi Awam, Pekan Prapaskah II (U). St. Feliks III; St. David, Senin 1 Maret 2021
@Harapan Jaya, SY Melki SP

#Keterangan Foto: Boks Token Listrik yang telah diganti

Leave a Reply