HATIYANGBERTELINGA.COM – Sebuah berita viral, hari Jumat (16/4/2021), mengenai seorang perawat di sebuah rumah sakit yang mendapatkan perlakuan kekerasan ramai dibicarakan di mana-mana.
Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial, dokter Lahargo Kembaren SpKj mengatakan melalui akun facebooknya bahwa marah merupakan emosi alamiah pada setiap manusia.
“Apabila tidak dikendalikan dengan baik maka marah dapat menimbulkan banyak masalah,” kata Psikiater Lahargo seperti dikutip hatiyangbertelinga.com, hari Sabtu (17/4/2021).
Lahargo mengutip Ralph WE yang mengatakan “Setiap 1 menit yang kau habiskan untuk marah, kau kehilangan 60 detik perasaan damai.”
“Siapa saja bisa marah, itu mudah, tetapi marah pada orang yang tepat dan pada tingkat yang tepat dan pada waktu yang tepat dan untuk tujuan yang benar, dan dengan cara yang benar, itu tidak mudah dan tidak semua orang dapat melakukannya,” kutip Lahargo dari pernyataan filsuf Aristoteles.
Dokter RSJ dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor itu menjelaskan, penyebab marah dapat apa saja, biasanya yaitu: sedih, rasa kecewa, frustasi, penilaian sendiri, penolakan, rasa takut, cemburu/iri, perlakuan tidak adil, dan lain-lain.
“Semuanya itu akan mengaktifkan Amigdala, bagian otak yang mengontrol emosi,” kata Lahargo.
Selanjutnya, kata Lahargo, Amigdala –> Hipotalamus –> Pituitary Gland (hipofisis) –> Adrenal Gland –> Hormon Stres, yaitu: Cortisol, Adrenaline, Noradrenaline.
Menurutnya, peningkatan hormon stres Cortisol menyebabkan banyak sel saraf yang mati terutama di bagian Prefrontal Cortex (PFC) dan Hipokampus.
Lahargo menjelaskan bahwa pada Prefrontal Cortex (PFC), bagian otak ini penting bagi seseorang dalam membuat suatu keputusan yang baik dan perencanaan tindakan.
“Gangguan pada area otak ini menyebabkan orang yang marah sering membuat keputusan buruk yang kemudian disesalinya,” kata Lahargo.
Sedangkan pada Hipokampus, bagian otak yang mengatur memori.
“Ini menyebabkan orang yang marah tidak ingat apa yang diucapkan dan dilakukannya,” katanya.
Lahargo mengatakan peningkatan hormon stres Cortisol akan mengurangi hormon serotonin dalam otak, yaitu hormon yang membuat seseorang bahagia.
Penurunan hormon serotonin ini akan menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah marah, sensitif, galau, baper, dan dapat berujung pada tindakan agresi atau perilaku kekerasan.
“Tidak jarang yang kemudian juga menjadi depresi,” katanya.
Lebih lanjut, dokter RS Siloam Bogor itu mengatakan hormon stres yang meningkat karena marah tadi pun dapat mempengaruhi berbagai sistem organ di dalam tubuh, seperti:
- Sistem kardiovaskuler: tekanan darah dan denyut jantung meningkat, glukosa darah meningkat. Apabila marah tersebut berlangsung lama dan terus menerus maka gangguan pada sistem kardiovaskuler ini dapat menyebakan stroke dan serangan jantung.
- Sistem imun akan menurun sehingga menyebabkan orang sering marah mudah terkena penyakit.
- Tekanan pada bola mata meningkat sehingga orang yang marah sering merasa migrain atau sakit kepala.
- Densitas tulang menurun.
- Sistem pencernaan terganggu.
“Marah yang terlalu hebat dan terus menerus berulang jelas akan sangat mengganggu,” katanya.
Oleh karena itu Lahargo menyarankan untuk melakukan ‘Anger Management’ (manajemen marah) untuk dapat mengontrol marah agar tidak terjadi hal yang merugikan.
Kemudian berkonsultasi pada profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, Perawat Jiwa, Psikolog, Dokter umum terlatih akan mempercepat proses pemulihan marah yang terlalu berlebihan.
Dokter Lahargo menyebutkan beberapa gangguan kejiwaan seperti gangguan mental dan perilaku akibat penyalahgunaan zat, skizofrenia, gangguan bipolar, dan depresi juga memiliki tanda dan gejala marah yang tidak terkontrol.
“Ketika sedang marah, lakukan ‘Anger Management’ agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan,” imbaunya.
Pemilik Apotek Mulia Pandu Raya Bogor itu memberikan tujuh tips berikut ini:
- Kenali ‘triggers’ yang memicu marah dan menghindarinya.
- TIME OUT, tinggalkan segera situasi, keadaan, tempat saat marah terjadi, tenangkan diri sampai terjadi ‘cooling down’.
- Tarik nafas dalam beberapa kali, untuk memberi kesempatan saraf otak mendapatkan oksigen sehingga lebih relax.
- DISTRACT, alihkan dengan melakukan kegiatan yang menggunakan energi seperti berolahraga, bermain musik, membersihkan, jalan, dan sebagainya.
- Berbicara dengan orang yang mau mendengarkan dengan baik supaya terjadi ventilasi.
- Cari hal hal yang menggembirakan, lucu dan menyenangkan, seperti menonton film, dengar musik yang easy listening, ngobrol dengan teman.
- Konseling, konsultasikan ke profesional bila sulit mengatasi marah karena ada intervensi khusus yang dapat diberikan.
“Apabila marah, jangan biarkan matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” (Ephesus)
Salam SEJI-GO
(Sehat Jiwa Bersama Lahargo)
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












