Sohib Yesus Bilang ke Gue: Dasar Lu Orang Kurang Percaya!

Matius 14:31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Para sahabat terkasih,
Gue diinspirasi ayat 31 itu saat merefleksikan Injil Matius 14:22-36. Gue teringat saat ditegur keras oleh Sohib Yesus seperti pada judul di atas.

Gue mengakui pernah kurang percaya kepada Yesus saat menghadapi persoalan dan tantangan dalam hidup gue.

Saat itu gue ada enam masalah pokok utama yang gue singkat dengan 6K, yakni K1) Keluarga, K2) Kuliah, K3) Karir, K4) Komunitas, K5) Kekasih, dan K6) Kerohanian.

Masing-masing dari 6K itu ada ceritanya masing-masing, tapi belum dapat semuanya disampaikan dalam kesempatan ini.

Jadi semasa kuliah semesteran di tahun 2009/2010, gue sempat meragukan keberadaan Tuhan karena tidak kunjung mendapatkan pertolongan-Nya atas segala permasalahan yang gue hadapi.

Waktu itu gue merasa sudah banyak melayani Tuhan dengan berbagai karya pelayanan menggereja dan sebagainya.

Tapi gue tidak merasakan keberadaan Tuhan saat menghadapi masalah 6K itu.

Saat itu, gue sempat merasa sia-sia mempelajari Ilmu Pendidikan Teologi dan lain sebagainya.

Puncaknya pada bulan Juli 2010, gue drop, sakit, dan krisis iman. Gue menyebutnya masa ariditas, masa kekeringan rohani, ketandusan iman di padang gurun, atau sebagai malam kelam gue.

Dalam proses waktu itu, ternyata gue lah yang telah salah karena kurangnya kepercayaan gue terhadap Tuhan.

Suatu hari, saat berada sendirian di kamar rumah sakit, gue barulah mengakui dosa-dosa gue kepada Tuhan.

Dalam doa waktu itu gue mohon ampun kepada Tuhan.

Gue menyampaikan pengakuan iman gue kepada Tuhan Yesus dan menghormati Bunda Maria.

Saat itu dalam kesakitan luar biasa gue mengalami tercekik lidah pada tenggorokan leher gue. Jadi antara hidup dan mau mati, gue merasakan kesakitan di bagian dalam lidah.

Dalam kondisi itu, kurang lebih gue bilang begini:

“Yesus aku percaya pada-Mu. Ampuni dosaku, Yesus, Bunda Maria tolong aku,” teriak gue dalam isi kepala gue saat itu seraya sangat kesakitan yang gue rasakan di sekitar area leher.

Setelah kira-kira gue bilang begitu, seketika juga ada peristiwa ajaib yang gue rasakan dari atas kepala turun ke leher hingga badan gue akhirnya lemas tertidur.

Gue sempat melihat para perawat kesehatan panik menangani gue saat detik-detik gue menutupkan kedua mata.

Gue pun merasakan kehilangan daya energi pada tubuh gue, tapi ada rasa nyaman, damai, dan begitu adem tenang gue alami cukup lama.

Setelah keluar dari rumah sakit, gue pun kembali bertobat dengan mengakui kesalahan dan dosa-dosa gue melalui sakramen rekonsiliasi.

Gue pun perlahan-lahan menapaki hidup baru, mempunyai cara pandang baru, dan diperbaruinya iman gue dengan kembali mengimani Yesus dan menghormati Bunda Maria.

Puji dan syukur, dalam prosesnya gue diberi kesempatan lagi oleh Tuhan untuk menyelesaikan studi kuliah hingga gue di wisuda pada tahun 2012.

Para sahabat terkasih,
Kisah Petrus yang keluar dari perahu untuk mendatangi Yesus sendirian, seperti dialami gue ketika keluar dari keterlibatan dalam komunitas seiman.

Seharusnya gue melibatkan diri bersama kawan-kawan seiman untuk didoakan, didukung dan disegarkan hidup rohani gue saat menghadapi persoalan 6K.

Tapi sebaliknya gue justru keluar dari “perahu komunitas” rohani untuk sendirian mendatangi Yesus.

Gue merasa waktu itu kalau orang lain tidak dapat membantu masalah 6K gue itu.

Gue akui ombak dan badai kehidupan yang gue alami begitu dahsyat di kala gue hadapi sendirian.

Meskipun gue merasa dapat mendatangi Yesus dalam keyakinan iman pribadi, ternyata kebimbangan gue itulah membuat gue tenggelam dalam lautan persoalan hidup 6K gue itu.

Namun puji Tuhan, sewaktu gue hampir setengah mati mau “tenggelam”, Yesus pun segera mengulurkan tangan kasih-Nya untuk hidup gue.

Yesus menarik gue dari permasalahan yang ada. Sebagian masalah pun dapat diselesaikan.

Memang gue akui ketika ditarik itu “pakaian masalah” gue masih “basah kuyup”, masih ada beberapa persoalan dari 6K yang belum terselesaikan masalahnya.

Namun gue bersyukur masih dapat hidup dengan diberikan pemulihan secara perlahan-lahan dari waktu ke waktu.

Para sahabat terkasih,
Injil kali ini seperti sapaan Tuhan dalam hidup gue untuk mengingat kembali peristiwa pada 120 bulanan yang lalu.

Pada 10 tahun silam, Yesus menegur gue dengan bilang, “Dasar Lu (Melki) orang kurang percaya!”

Ya, gue memang bimbang pada beberapa tahun silam. Gue meragukan Tuhan karena belum mendapatkan pertolongan-Nya dari persoalan 6K waktu itu.

Tapi saat ini, Tuhan telah membantu gue melewati semuanya.

Menurut refleksi gue kali ini, teguran Sohib Yesus kepada bro Santo Petrus ini masih relevan buat diri kita masing-masing saat ini.

Sebab kita sendiri masih suka bersikap seperti bro Santo Petrus, yang sudah cukup mengenal Yesus tapi nekad menguji nyali dengan berjalan di atas air, kurang percaya, dan bimbang.

Demikianlah gue juga pernah salah dalam meragukan Yesus hingga akhirnya titik balik gue kembali mengakui Yesus sungguh Allah sungguh manusia.

Para sahabat terkasih,
Injil kali ini menginspirasi kita untuk dapat semakin percaya Sohib Yesus.

Gue percaya masa depan kita berada di dalam genggaman tangan Yesus.

Gue sendiri siap dan berani dalam Tuhan untuk menghadapi segala tantangan ke depannya.

Marilah kita percaya dan menyembah Yesus dengan penuh iman totalitas.

Masihkah kita bimbang?

+Dimuliakanlah Tuhan, detik ini dan selama-lamanya. Amin.+

Refleksi Awam edisi Milenial oleh SY Melki SP
Bekasi Utara, Selasa, 3 Agustus 2021, Pekan Biasa XVIII, St. Paus Stefanus I

Leave a Reply