Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

Ensiklik Magnifica Humanitas (MH) Paus Leo XIV yang dirilis pada 25 Mei 2026 menjadi perhatian banyak orang di belahan dunia. Surat edaran pastoral perdana Paus Leo XIV itu menyoroti perlindungan martabat manusia di era kecerdasan buatan atau artifical intelligence (AI).

Lahirnya Ensiklik MH itu sekaligus memperkuat Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Jalur Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal (2026) dan memperkaya implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang telah diluncurkan Menteri Agama Nasaruddin Umar (2025).

Ensiklik MH, SKB Tujuh Menteri dan KBC menunjukkan benang merah yang harmonis dalam menghadapi masifnya digitalisasi era kecerdasan artifisial dengan mengedepankan pendidikan yang berpusat pada manusia berbasis etika, martabat dan cinta kasih, serta mengutamakan peran serta keluarga.

Kunjungi juga: Pastor Kopong MSF: Semakin Kalian “Mengganggu” Katolik, Kami Semakin Katolik

Kunjungi juga: RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

Persoalannya, apakah internalisasi nilai Ensiklik MH, kepatuhan SKB Tujuh Menteri, dan implementasi KBC secara simultan berpengaruh signifikan terhadap praktik seimbang yang sehat antara kehidupan nyata dan penggunaan teknologi (digital wellness) pada anak-anak di Indonesia?

Untuk menjawab persoalan itu perlu diuji dan dianalisis pengaruh simultan dari ketiganya itu terhadap praktik digital wellness anak-anak kita. Hipotesisnya, ketiganya itu diharapkan secara bersama-sama dapat berpengaruh positif dan signifikan terhadap digital wellness pada anak-anak kita di kehidupan kesehariannya.

Sebagai suatu proyeksi tentu diharapkan terjadi penguatan yang holistik antara refleksi moral Ensiklik MH sebagai fondasi berpikir filosofis, teologis dan moral global; aturan hukum SKB Tujuh Menteri yang memberikan batasan perilaku secara operasional dan legalitas; dan KBC yang memberikan roh atau energi positif kepada jiwa anak-anak kita.

Kunjungi juga: Kronologis Foto Umat Katolik Misa di Sekolah yang Sempit; Ini Penjelasan Pihak Terkait

Kunjungi juga: Kacamata Paus Fransiskus Soroti Hati yang Bertelinga

Perlu diakui adanya dua keterbatasan dalam pembahasan ini. Pertama, KBC yang dimaksud diperuntukkan sebagai khazanah literasi hanya untuk penganut agama saja dan belum ada panduan untuk penghayat kepercayaan di Indonesia.

Keterbatasan kedua, saya hanya membandingkan hasil penelitian Kessy Atmadja dan Heliany Kiswantomo dalam Hubungan antara Komponen – Komponen Subjective – Well Being dan Internet Addiction (2020), mengenai internet addiction yang dikaitkan dengan hasil survey mengenai subjective well-being (SWB), di mana terdapat 31% (17 orang dari total 55 orang) yang memiliki tingkat kepuasan hidup yang rendah dan juga ketergantungan atau berisiko ketergantungan terhadap internet.

Internalisasi Simultan

Atas keterbatasan dan hasil survey itu, menurut saya, kita perlu memadukan nilai-nilai Ensiklik MH dan SKB Tujuh Menteri ke dalam KBC agar dapat membumi, diinternalisasikan dan membentuk ekosistem digital yang sehat bagi perkembangan karakter anak secara utuh.

Menurut ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner dalam Memahami Peran Masyarakat Sekolah Sebagai Kunci Perkembangan Pendidikan Karakter Siswa: Kajian Teori Ekologi Urie Bronfenbenner (2024) menegaskan karakter anak dapat dibentuk melalui tingkatan mikrosistem pada subsistem keluarga, teman sebaya, sekolah dan masyarakat.

Kunjungi juga: Syarat Dari Katolik ke Agama Lain, Lalu Ingin Menjadi Katolik Lagi

Kunjungi juga: Paus Fransiskus: Menyakiti Perempuan Berarti Menghina Tuhan

Sementara itu mesosistem menurut Bronfenbrenner dalam How the Bronfenbrenner Bio-ecological System Theory Explains the Development of Students’ Sense of Belonging to School? (2022), mencakup hubungan antara dua mikrosistem di mana individu yang sedang berkembang memainkan peran aktif. Dengan kata lain, perkembangan anak akan optimal jika hubungan antarmikrosistem berjalan harmonis.

Terkait hal itu, KBC berperan pada tingkatan mikrosistem di rumah dan sekolah, sedangkan SKB Tujuh Menteri dan Ensiklik MH berperan pada tingkatan makrosistem. Idealnya, menurut saya, keharmonisan antara mikrosistem dan makrosistem itu dapat membumi dengan diwujudkannya kesejahteraan digital sehat dalam perkembangan karakter anak.

Merujuk Edward L. Deci dan Richard M. Ryan, dalam Deci & Ryan: Self-Determination Theory (Rudy C. Tarumingkeng, 2023-2026), bahwa regulasi eksternal (Ensiklik MH dan SKB Tujuh Menteri) semestinya terinternalisasi (membumi) untuk menjadi bagian dari identitas diri anak-anak kita melalui implementasi KBC. Artinya, agar nilai-nilai moral atau makrosistem itu dapat terinternalisasi dengan baik pada anak-anak, maka lingkungannya perlu memenuhi tiga kebutuhan psikologis dasar, yakni: (1) otonomi, anak merasa memiliki kendali atas pilihannya; (2) kompetensi, anak merasa mampu secara efektif, dan (3) keterkaitan, anak merasa terkoneksi dan disayangi oleh sesamanya.

Kunjungi juga: Stafsus Menag Farid Belajar Banyak dari Katolik Perkaya Pembelajaran Ekoteologi dan Cinta

Kunjungi juga: Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

Dengan kata lain, SKB Tujuh Menteri dapat diadopsi dengan pemanfaatan teknologi ke dalam zona hijau, kuning dan merah (otonomi) disertai penguatan metode pembelajaran efektif pada KBC (kompetensi). Misalnya, penegakan gerakan “satu jam tanpa gawai” di rumah perlu sejalan juga secara ketat di sekolah. Apabila dimungkinkan, usulan saya, perlu diupayakan juga bukan cuma satu atau dua jam pembatasan gawainya tetapi semampu mungkin ditetapkan gerakan “satu hari libur bebas gawai” di rumah.

Sedangkan nilai-nilai Ensiklik MH perlu terkoneksi (keterkaitan) dengan menginternalisasi nilai dan norma hidup pada diri anak dalam praktik kehidupan sehari-harinya. Akhirnya, secara simultan sinkronisasi antara hukum makro (SKB Tujuh Menteri) dan panduan moral teologis (Ensiklik MH) dipraktikkan dalam implementsasi KBC. Dengan demikian diharapkan isu AI dapat membumi, terinternalisasi dan dihidupi oleh anak-anak kita pada tingkat mikro di mana saja. Salve.

Artikel opini ini telah dipublikasikan di website Kemenag dengan judul dan isi yang sama, pada Selasa, 9 Juni 2026 | 15:52 WIB Sumber: Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Nobar Zoom”, Katekese: Kesaksian Pribadi, Panggilan Hidup, komunitas online Santo Carlo Acutis, Buat Gen Alpha untuk Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus, Tips dan Pesan dari Kak Melki Pangaribuan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Spiritualitas

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Tips dan Strategi Teolog Siber Awam Jadi Influencer Kristus di Jagat Digital

    Tips dan Strategi Teolog Siber Awam Jadi Influencer Kristus di Jagat Digital

    Yesusku yang Baik, Yesus Terbaik; Lirik: Imanuela Pangaribuan

    Yesusku yang Baik, Yesus Terbaik; Lirik: Imanuela Pangaribuan

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading