Liburan dan Urgensi Hari Libur Bebas Gawai

Hari libur sekolah merupakan waktu istimewa yang selalu dinantikan setiap anak yang telah mengenyam pendidikan formal dan nonformal. Pada masa liburan, anak diberikan kesempatan untuk bermain dengan lebih leluasa, termasuk menggunakan gawai (gadget) dalam durasi yang lebih lama ketimbang pada hari-hari biasanya.

Laporan State of Mobile 2024 (Data.AI) menyebutkan masyarakat Indonesia menghabiskan waktu terbanyak untuk menatap layar lebih dari seperempat harinya atau sekitar 6,05 jam dihabiskan dengan gawai pada periode 2023.

Penggunaan gawai memang dapat memberikan berbagai manfaat bagi anak. Namun demikian, penggunaan yang berlebihan dapat juga berdampak negatif terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Salah satu dampaknya, antara lain anak kesulitan memegang pensil akibat perkembangan motorik halus mereka melambat karena paparan teknologi yang sangat tinggi. (Kompas.com, 4 Juni 2026) Oleh karena itu, orang tua perlu mengupayakan pembatasan dalam penggunaan gawai anak secara bijaksana agar manfaat dari teknologi tidak mengabaikan aspek-aspek penting dalam tumbuh kembangnya.

Kunjungi juga: Gunakan Gawai Dekat Anak Pengaruhi Kognitif-Emosionalnya

Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat pada akhir 2025, dari total populasi Indonesia yang mencapai 286 juta jiwa, sebanyak 29,2 persen di antaranya berusia 0-17 tahun. Data Digital 2026 mencatat pada akhir 2025, terdapat 331 juta koneksi seluler aktif di Indonesia, yang setara dengan 116 persen dari total populasi penduduknya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang semakin terdigitalisasi dengan tingkat akses terhadap perangkat seluler dan internet yang sangat tinggi melalui gawainya. Tidak dapat dipungkiri, tingginya penetrasi teknologi itu menjadi tantangan bagaimana sinergitas antara berbagai pihak diperlukan untuk memastikan pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana.

Laporan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAHMS) tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (34,9 persen), atau sekitar 15,5 juta remaja, mengalami masalah kesehatan mental yang salah satunya dipengaruhi oleh paparan teknologi. Sementara dari Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa.

Atas permasalahan kesehatan jiwa itu, kita perlu mengupayakan pembatasan penggunaan gawai pada anak. Pembatasan itu bukan berarti melarang anak untuk tidak boleh sama sekali menggunakan gawainya. Namun anak perlu dilatih untuk mengatur waktu bermain gawainya agar sekurang-kurang tidak menjadi kecanduan gawai.

Kunjungi juga: Paparan Gawai Sebabkan Anak Autisme Virtual

Dalam buku ‘Peran Perawat Jiwa dalam Meningkatkan Kesehatan Mental Anak, Remaja dan Lansia serta Penatalaksanaannya’ (Ni Luh Putu Suardini Yudhawati, dkk., 2025), dijelaskan bahwa kecanduan gawai merupakan perilaku penggunaan gawai secara berlebihan yang dianggap sebagai control impulsive yang tidak memabukkan dan mirip dengan judi patologis (Park Lee dalam Bian & Leung, 2014). Kejadian ini dilakukan dan menimbulkan ketergantungan secara fisik dan psikis tanpa pengendalian diri. Kecanduan gawai dapat membuat anak menjadi tantrum, cemas, gelisah, temperamen, memberontak, dan menangis berlebihan.

Dalam ‘Deteksi Dini dan Penanganan Kecanduan Gawai pada Anak’ (Yunias Setiawati dan Izzatul Fithriyah, 2020), penggunaan ponsel pintar yang sering dan tidak bisa dipisahkan yang menyebabkan gangguan kehidupan sehingga tidak mampu mengelola kehidupan sehari-hari secara efektif, dan merasa nyaman dengan dunia maya daripada kehidupan nyata yang pada akhirnya memunculkan gejala seperti kecemasan dan kegelisahan ketika dijauhkan dari gawai.

Bagi banyak orang tua dapat menjadi dilematis, di satu sisi merasa iba ketika anak  menangis, marah hingga meronta-ronta karena keinginan anak mau terus menerus bermain gawainya. Namun demikian, di sisi lain sebagai pendidik utama (informal) di keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menetapkan batasan tegas dan konsisten dalam penggunaan gawai untuk melindungi tumbuh kembang anak kita sendiri.

Kunjungi juga: Dampak Bagi Anak Makan Sambil Main Gawai

Yeni Suryaningsih dalam Pengaruh Psikoedukasi Keluarga dan Social Skill Training Terhadap Peningkatan Sosialisasi Anak Kecanduan Gawai (2025), menyebutkan peran orang tua sangat penting dalam mendampingi dan mengawasi penggunaan gawai anak. Menurut Yeni, akibat terburuk dari kecanduan gawai, anak akan kesulitan dalam bersosialisasi karena mereka akan sangat fokus dengan gawainya. Oleh karena itu, orang tua sebagai orang terdekat anak memiliki tugas untuk mengontrol dan mengawasi penggunaan gawai oleh anak- anak.

Hari Libur Bebas Gawai

Pembatasan gawai diharapkan menjadi pembiasaan (habituasi, Aristoteles). Kebiasaan pembatasan gawai itu menjadi suatu disiplin diri hingga karakter anak dibentuk sebagai bagian dari jati dirinya dalam pemanfaatan gawai.

Habituasi batasan gawai dapat dimulai dengan pembatasan satu atau dua jam per hari, seperti dituangkan dalam Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Menteri (2026) tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Jalur Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal.

Kunjungi juga: Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

SKB Tujuh Menteri itu mendorong pembiasaan keluarga yang bebas dari gawai seperti menyediakan paling kurang satu jam tanpa gawai setiap hari sebagai waktu berkualitas keluarga, dengan menonaktifkan notifikasi dan menyimpan gawai di lokasi yang disepakati, untuk mendukung komunikasi, kedekatan emosional, pembiasaan disiplin digital, serta penguatan fungsi pengasuhan.

Sejalan dengan SKB Tujuh Menteri itu, usulan saya, bukan hanya satu atau dua jam saja tanpa gawainya, melainkan juga sedapat mungkin menjadi gerakan “satu hari libur bebas gawai” dalam sepekan yang diharapkan dapat menjadi habituasi anak di dalam sebuah keluarga. Sehingga idealnya, tanpa penggunaan gawai orang tua dan anak dapat memiliki kualitas waktu (quality time) bersama yang lebih baik.

Kita patut bersyukur, ternyata masih ada anak-anak yang dapat membatasi diri dari penggunaan gawainya. Seperti aktivitas di Taman Bendera Pusaka, Jakarta, anak-anak diberikan berbagai permainan yang tidak melibatkan penggunaan gawai seperti bermain lego, screen time stories, ball toss, memasukkan gelang ke botol, hingga permainan lainnya (Kompas.com, 12 Juni 2026).

Kunjungi juga: Dibalik Layar Opini Kedua di Web Kemenag

Kegiatan inspiratif lainnya, anak-anak di Jember, Jawa Timur, yang mengisi libur sekolah dengan bersih-bersih sungai dari sampah plastik dan melepas 1000 ekor benih ikan tawes. Selain itu anak-anak diajak bermain permainan tradisional seperti bermain ayunan dan jungkat-jungkit dari bambu sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada gawai (ANTARA, 30 Juni 2026).

Sementara itu di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dihidupkan kembali permainan tradisional anak yang kini mulai jarang dijumpai di lingkungan masyarakat sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai seperti permainan Gobak Sodor, Egrang, Suda Manda, Semprangan, Bekelan, Nekeran, Yoyo, serta Das-dasan atau Dam-daman (Kompas.com, 2 Juli 2026).

Permainan tradisional yang jarang ditemukan lagi di kota metropolitan dapat diganti dengan permainan aktivitas bersama di arena playground indoor di dalam pusat perbelanjaan dan taman outdoor yang luas. Anak juga dapat beraktivitas tanpa gawai dengan bermain role play memasak, membaca komik, menggambar atau mewarnai gambar di rumah.

Kunjungi juga: John 3:30 untuk Opini Pertama Kali di Web Kemenag

Dengan adanya upaya pembatasan gawai, anak diperkuat karakternya dengan melakukan berbagai aktivitas dalam mengisi waktu liburannya. Akhirnya kita mengharapkan anak-anak menjadi lebih sehat, sejahtera, berkarakter, bergembira dan berkesan atas pengalaman hari liburannya. Salve.

Melki Pangaribuan (Pewarta Mimbar Komunitas Efata, ASN Ditjen Bimas Katolik, dan Mahasiswa Magister Pendidikan IPS Universitas Indraprasta PGRI)

Artikel opini ini telah dipublikasikan di website Kemenag dengan judul dan isi yang sama, pada

Selasa, 7 Juli 2026 | 10:29 WIB

Sumber: Liburan dan Urgensi Hari Libur Bebas Gawai


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Tips dan Strategi Teolog Siber Awam Jadi Influencer Kristus di Jagat Digital

    Tips dan Strategi, Teolog Siber Awam, Influencer Iman, Influencer Kristus, Jagat Digital, Pegiat Sosial, Cyber-Theologian, Awam, Fr Antonio Spadaro SJ, Cybertheology, Apostolicam Actuositatem, Ascoltare con l’orecchio del cuore, Hati Yang Bertelinga, Salam Mecin, Mendengar dengan Cinta.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Spiritualitas

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Tips dan Strategi Teolog Siber Awam Jadi Influencer Kristus di Jagat Digital

    Tips dan Strategi Teolog Siber Awam Jadi Influencer Kristus di Jagat Digital

    Yesusku yang Baik, Yesus Terbaik; Lirik: Imanuela Pangaribuan

    Yesusku yang Baik, Yesus Terbaik; Lirik: Imanuela Pangaribuan

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading