02 March 2024

Biarawati Asal Ambon Maknai Ziarah ke Rumah Allah Bapa Saat Jalan Sama Biksu Thudong dari Jakarta ke Candi Borobudur

0

HATIYANGBERTELINGA.COM – Peristiwa 32 biksu melakukan ritual Thudong dengan berjalan kaki dari Thailand menuju Indonesia dan tiba di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, telah menimbulkan rasa kagum dan menggerakkan hati semua umat lintas agama untuk turut terlibat. Tak disangka di antara barisan para biksu tersebut, hadir seorang perempuan berkerudung, Suster Sisil namanya.

“Saya ikut jalan bersama para biksu dari Jakarta menuju Candi Borobudur–Magelang. Saya melihat selama perjalanan dari Jakarta menuju Magelang, semua umat tanpa membedakan agama melebur jadi satu menyambut para biksu. Kerukunan dan toleransi itu indah sekali,” tuturnya seperti dikutip dari siaran resmi Bimas Katolik, hari Senin (5/6/2023).

Lihat juga: Biarawati Katolik Sr Theresia Asia OSU Dilantik Jadi Ketua RT di Bandung

Suster dari biara OAD (Ordo Augustiniensium Discalceatorum) tersebut menjelaskan dirinya telah bertekad untuk ikut jalan bersama para biksu dari Jakarta menuju Candi Borobudur-Magelang. Namun suster tak mampu mengimbangi para biksu.

“Mereka (biksu Thudong) berjalan sangat cepat. Saya tak mampu mengimbangi, maka kadang saya ditolong saudara-saudara muslim. Mereka antar saya dengan sepeda motor untuk bisa kembali bergabung dengan barisan para biksu,” sambungnya.

Lihat juga: RIP Sr Hildegard Hayon CB, Teman Curhat Online Kami, Penulis Renungan

“Saya ingin berpartisipasi bersama para biksu berjalan sejauh kemampuan saya. Saya juga ingin tau apa yang membuat para biksu mampu berjalan puluhan kilometer dari Thailand menuju Indonesia,” cerita suster asal Ambon ini.

“Yang saya temukan adalah ternyata kekuatan dari dalam yang membuat kita kuat. Kekuatan dari dalam itu, doa, meditasi, dan pikiran selalu positif dengan apa dan siapa saja,” jelasnya dengan antusias.

Lihat juga: Uskup Harjosusanto MSF: Orang Katolik yang Tidak Moderat, Berarti Ada yang Salah dalam Penghayatan Beragamanya

Lebih lanjut Suster Sisil yang aktif dalam kegiatan membangun toleransi dan kerukunan umat beragama ini, berkisah tentang pesan salah seorang biksu Thudong kepada dirinya saat perjalanan menuju Borobudur. “Biksu Thudong itu berpesan kepada saya, Suster, perjalanan dengan Buddha itu, kita tinggalkan keegoisan, kesombongan, dan cinta diri supaya menguatkan kita dalam perjalanan mencapai kesempurnaan,” tutur suster mengulang pesan biksu Thudong pada dirinya.

“Saya memaknai pesan sebagai seorang Katolik bahwa perjalanan kita umat beriman di dunia adalah ziarah menuju rumah Bapa Tuhan Sang Maha Pencipta. Keegoisan, kesombongan, dan cinta diri menghambat perjalanan ziarah manusia menuju Tuhan Sang Pencipta,” sambungnya.

Lihat juga: Pastor Kopong MSF: Kelompok Katolik yang Persalahkan Konsili Vatikan II Hanya Jadi Pemecah Belah

Suster meyakini melalui cinta yang tulus tanpa membedakan maka harmoni dan kebaikan dapat tercipta. Toleransi dan kerukunan akan menjiwai semua anak bangsa.

Suster Sisil merasa bangga melihat semua umat beragama bersatu menyambut kedatangan para biksu teristimewa dalam perjalanan dari Jakarta menuju Candi Borobudur, Magelang.

“Kerukunan dan toleransi itu indah sekali. Saya melihatnya selama perjalanan dari Jakarta menuju Magelang. Semua umat tanpa membedakan agama melebur jadi satu menyambut biksu,” tuturnya.

Lihat juga: Pastor Kopong MSF: Semakin Kalian “Mengganggu” Katolik, Kami Semakin Katolik

Leave a Reply