21 April 2024

Ibu-ibu Difabel (Maaf) Membuat Pembalut Kain dan 4 Tipsnya

0

Foto: Cici Jali

Jakarta, hatiyangbertelinga.com – Ibu Muharyati (Tunadaksa) dan Ibu Ferbiana (Tunarunggu) pada masa pandemi COVID-19 terus memproduksi pembalut kain untuk digunakan kaum wanita saat menghadapi datang bulan menstruasi.

Selain Muharyati dan Ferbiana, ada pula Ibu Yuningsih (orang tua Ceberal Palsy) mereka dalam keterbatasannya membuat pembalut kain bekerja sama dengan Yayasan Budaya Mandiri (Cici Jali).

Founder Yayasan Budaya Mandiri, Max Andrew Ohandi mengatakan usaha pembalut kain bermula dari pembuatan masker transparan pada masa pandemi (2020), namun karena masker transparan pada pertengahan pandemi kurang peminatnya maka mereka mencari ide lain untuk terus berkarya.

“Kebetulan saat itu Yayasan Budaya Mandiri dan Komunitas Mekar sedang ada kegiatan need assement ke panti-panti yang menampung orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Dalam kegiatan need assement itu kami menemukan banyak perempuan ODGJ membutuhkan pembalut kain untuk menjaga kesehatan reproduksi mereka,” kata bung Max, sapaan akrabnya kepada hatiyangbertelinga.com, hari Jumat (29/1/2021).

Dari kebutuhan itu, kata Max, mereka akhirnya bekerja sama dengan KAKR GBKP Batak Karo membagikan 350 pembalut kain kepada tiga panti rehabilitas.

“Dari kegiatan sosial tersebut, kami berpikir ternyata kebutuhan pembalut kain terus dibutuhkan oleh banyak perempuan. Kami akhirnya terus melanjutkan pembuatan pembalut kainnya,” kata Founder Koko Jali ini.

Menurut Max, pemberdayaan komunitas difabel dengan produk yang ramah lingkungan ini mendorong mereka untuk terus berinovasi dengan mendengarkan kebutuhan pelanggan.

“Akhirnya kami hanya menjual satu paket pembalut kain dengan harga Rp50.000 untuk pembalut kain siang dan malam. Lalu untuk warna merah supaya tidak ketakutan untuk para penggunanya terhadap bekas noda darah,” kata Max.

Aktivis Koko Jali, mewakili ibu-ibu difabel mengatakan banyak perempuan lebih memilih pakai pembalut yang instan.

“Mereka biasa langsung buang. Padahal itu bisa merusak lingkungan dan beresiko besar terkena kanker serviks,” kata Max.

“Malah ada cerita unik dari salah satu pelanggan kami yang membeli pembalut kain, dia bilang ingin memakai pembalut kain karena tidak mau terkena kanker seperti ibunya,” kata Max.

Bagi yang ingin membeli pembalut kain komunitas difabel dapat melalui aplikasi Shopee Cici Jali (klik link ini) Pembalut Kain Khas Motif Betawi. 

Foto: Cici Jali

 

Kelebihan dan Kekurangan Pakai Pembalut Kain

Dilansir dari klikdokter.com, banyak wanita di luar negeri yang merasa puas setelah memakai pembalut kain selama bertahun-tahun.

Penggunaan pembalut kain akan mengurangi limbah lingkungan. Hal ini berlaku ketika dibandingkan dengan pembalut sekali pakai, di mana pada bagian sayapnya terdapat plastik yang susah terurai.

Sedangkan jika membandingkan manfaatnya untuk kulit, pembalut kain tidak menyebabkan iritasi atau ruam di selangkangan seperti yang bisa disebabkan pembalut sekali pakai.

Pembalut kain bahannya halus karena terbuat dari katun, sedangkan pembalut sekali pakai, permukaannya kasar serta bisa menimbulkan iritasi karena keringat dari selangkangan.

Menurut dokter Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, kemampuan katun dalam menyerap darah tak sehebat saat menyerap air. Jika pembalut kain sudah penuh, kemungkinan ada darah yang menggenang (tidak lagi sepenuhnya diserap) dan kadang bikin tak nyaman. Jadi, Anda wajib ganti pembalut setiap 3-4 jam sekali, ya.

Sebab, sama halnya dengan pembalut sekali pakai, permukaan yang terlalu lembap akan menjadi sarang bakteri yang berpotensi menimbulkan infeksi pada vagina.

Ibu Muharyati (Tunadaksa)

Empat Tips Pakai Pembalut Kain

1. Memilih ukuran yang tepat

Pilihlah pembalut kain berdasarkan ukuran pembalut yang biasanya digunakan sekali pakai. Apabila Anda kurang yakin, cobalah mengukur panjang dan lebar pembalut sekali pakai menggunakan penggaris sebagai acuan.

Pembalut kain yang terlalu pendek tidak cukup untuk mencegah kebocoran, terlebih jika Anda selalu mengalami menstruasi berat. Sebaliknya, pembalut kain yang terlalu panjang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman ketika digunakan.

2. Memakainya dengan benar

Pemakaian pembalut kain sebenarnya mirip dengan pembalut sayap sekali pakai. Dilansir dari klikdokter.com, adapun cara pakai pembalut kain yang benar, yaitu:

  • Buka kancing pembalut kain, lalu buka pembalut kain dengan sisi yang polos menghadap ke atas.
  • Tempelkan sisi pembalut kain yang bermotif pada celana dalam. Jadi, sisi yang polos itu yang bersentuhan langsung dengan organ intim.
  • Bawa kedua sayap pembalut kain ke arah luar celana dalam, lalu pasang lagi kancingnya.

3. Membersihkannya secara menyeluruh

Jika Anda sudah terbiasa dengan pembalut sekali pakai, akan mudah untuk memahami cara memakai pembalut kain. Dilansir dari hellosehat.com, cara yang tepat untuk mencuci pembalut kain sebagai berikut:

  • Rendam pembalut kain dalam air dingin untuk menghilangkan darah. Saat merendam, sisi pembalut yang terkena darah harus menghadap ke bawah agar darah lebih mudah larut dalam air.
  • Setelah direndam, cuci pembalut kain dengan air mengalir. Teruskan hingga air yang mengalir tidak lagi terlihat kemerahan.
  • Cuci seluruh permukaan pembalut kain dengan sabun. Gosok perlahan pada bagian yang terkena noda darah.
  • Bilas pembalut kain dengan air mengalir hingga tidak lagi ada busa. Jangan memeras pembalut kain agar kapas di dalamnya tidak menyusut.
  • Jemur pembalut kain di bawah sinar matahari langsung hingga kering.

4. Menyimpan di tempat yang bersih

Saat hendak membawanya bepergian, pembalut kain dapat dikemas dulu dalam kantung kecil bersih sebelum dimasukkan ke dalam tas.

Sedangkan untuk menyimpan pembalut yang sudah kering setelah dijemur, lipat dulu kedua ujungnya hingga bagian dalam yang untuk menampung darah haid tertutup (agar tidak terkena kotoran).

Terakhir, lipat sayapnya ke depan dan pasang kancingnya. Simpan di rak pakaian dalam atau lemari Anda.

 


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts to your email.

Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading