Pastor Kopong Ajak “Netizen” Katolik Menjadi Misioner dengan Jiwa Martiria

HATIYANGBERTELINGA.COM – Pater Tuan Kopong MSF, mengajak warganet atau “Netizen” Katolik untuk menjadi misioner yang memiliki jiwa martiria ketimbang bermental pembunuh.

Ajakan itu disampaikan Pastor Kopong, hari Selasa (10/8/2021) dari Manila, melalui akun facebooknya dengan tulisan berjudul “Menjadi “Netizen” Katolik yang Misioner dan Martiria!”

Menurut Pastor Kopong, menjadi netizen tidak berarti semua hal harus kita tanggapi dan ketahui.

“Menjadi netizen tidak berarti segala urusan orang lain harus diurusi dan dikomentari. Menjadi netizen tidak berarti melegalkan bully-an atau bahkan cemoohan dengan alasan dia atau mereka adalah public figure,” kata Pastor Kopong.

Sebagian netizen, kata Pastor Kopong, kadang melihat masukan, usulan dan saran yang bagus serta pendapat orang lain selalu salah serta kemudian mencari kesalahan dan memaksakan orang lain untuk mengikuti pendapat mereka. Jika tidak maka bully-an dan cemoohan.

“Sebaliknya bullyan “netizen” dianggap wajar karena tadi alasannya adalah public figure dan lain sebagainya,” katanya.

Pastor asal Adonara-Flores Timur menilai sikap seperti ini juga tampak dalam diri sebagian “netizen” Katolik.

“Dan mungkin saya juga salah satunya,” kata Pastor Kopong.

Pastor Kopong mengatakan pendapat atau ajaran yang baik dan benar dari Gereja Katolik yang seringkali diposting oleh para imam, suster, bruder, frater dan umat yang lain masih saja ada yang menanggapi secara negatif dan kemudian mempersalahkan atau mencari kesalahan yang lain.

Misalnya ada yang memposting pedoman liturgi tentang perayaan Ekaristi, masih ada saja yang selalu protes dengan mempersalahkan Gereja terlalu kaku, tidak mengikuti perkembangan zaman.

Padahal aturan ataupun pedoman serta pencerahan tentang ajaran Gereja yang diposting sejatinya merupakan sebagai pengetahuan iman dan moral yang menambah wawasan kita sebagai umat Katolik agar dapat mempertanggungjawabkan iman kita secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

“Menjadi netizen tidak ada yang melarang, sekalipun seorang Katolik,” kata Pastor Kopong.

Sebagaimana media digital sebagai media pewartaan, saling belajar, berdialog yang sehat maka sebagai seorang netizen Katolik tentunya menjadi seorang netizen yang misioner yaitu netizen yang bermartabat, yang mau belajar dan bukan berdebat, yang berdiskusi dan bukan mencemooh, yang mau berdialog dan bukan menyerang, yang mau menerima dan bukan memaksakan kehendak.

Baca juga: Pastor Kopong MSF: Semakin Kalian “Mengganggu” Katolik, Kami Semakin Katolik

Menurut Misionaris yang telah bertugas di Filipina sejak 2016 itu, seorang netizen yang Katolik dan misioner adalah yang mampu mengubah kata-kata negatif menjadi sebuah ungkapan yang positif dan menggambarkan apresiasi.

Pastor Kopong mencontohkan misalnya: ini sudah baik, kamu sudah berusaha namun akan menjadi lebih baik jika diperbaiki sedikit saja. Ajaran ini sangat baik namun mungkin dibutuhkan sebuah pembelajaran lebih lanjut.

“Orang tua Ayu Ting Ting sudah baik mau mendatangi orang tua “pembully”, namun sangat baik jika dibicarakan dan mengajak orang tua pembully untuk menasehati anaknya dengan baik,” contoh Pastor Kopong.

Ungkapan positif seperti ini lebih berguna ketimbang menyerang pribadi, mencemooh, mengungkit privacy orang lain yang pada akhirnya maksud baik kita justru tidak terungkap tetapi yang muncul adalah kita juga sama seperti mereka yang tidak kita sukai penampilan, gaya dan cara mereka.

“Ini sama seperti usaha memperbaiki orang lain dan merasa paling benar tetapi kita sendiri pun sedang mempertunjukkan perilaku kita yang paling buruk dari orang yang coba kita ingatkan akan perilaku dan tutur kata mereka,” kata Pastor Kopong.

Pastor Kopong yang sedang berada di Keuskupan Keuskupan Novaliches-Quezon City-Metro Manila Philipina itu mengatakan untuk dapat menjadi seorang netizen Katolik yang misioner maka kita harus menjadi seperti biji sesawi.

“Menguburkan satu saja pikiran dan pandangan yang negatif akan membuahkan pikiran dan pandangan-pandangan positif yang melimpah ruah (bdk. Yoh 12:24-26),” kata Pastor Kopong.

Oleh karena itu, kata Pastor Kopong, menghancurkan satu saja kebiasaan membully dan mencemooh orang lain akan menghasilkan banyak kebiasaan bersyukur, berterimakasih dan pertobatan.

“Marilah kita menjadi netizen Katolik yang memiliki jiwa martiria daripada bermental pembunuh!” ajak Pastor Kopong.

Baca juga: Pastor Kopong Malu, Sedih, Prihatin Ada Oknum Katolik  “Menjual” Ayat Alkitab untuk “Membela” Israel

Leave a Reply