12 April 2024

Ternyata ini Penyebab Gejolak Emosi Remaja

1

HATIYANGBERTELINGA.COM – Psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan, Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, memberi penjelasan mengenai alasan di balik gejolak emosi yang kerap terjadi pada usia remaja.

Menurut Vera, bagian otak prefrontal cortex belum berfungsi secara optimal saat usia remaja sehingga tidak mengherankan apabila perilaku dan keputusan yang mereka lakukan lebih banyak dipengaruhi emosi.

Prefrontalcortex adalah otak bagian depan manusia yang berfungsi sebagai pusat fungsi eksekutif, berisi berbagai aktivitas, seperti memecahkan masalah, merencanakan sesuatu, mengambil keputusan, menimbang konsekuensi, mengontrol diri dan lain sebagainya.

Baca juga: Kiat Tanamkan Pola Pikir Pro-Growth Anak dan Remaja

“Bagian inilah (prefrontal cortex) yang membantu kita untuk mengambil keputusan atau melakukan fungsi-fungsi berpikir tingkat tinggi yang eksekutif dan memikirkan efek jangka panjang,” kata Vera saat diskusi virtual bersama media, ditulis Jumat (7/1/2022).

Ia mengatakan fungsi prefrontal cortex baru berkembang secara optimal ketika seseorang menginjak usia 20 hingga 25 tahun.

Vera menyebutkan contoh kasus yang biasanya banyak dialami remaja, yakni bermain game online.

Alih-alih mengerjakan tugas sekolah atau belajar, mereka lebih gemar menghabiskan waktu untuk bermain game.

Baca juga: Bermain Bersama Anak Bantu Orangtua Kurangi Stres

Remaja kesulitan mengontrol atau menahan diri untuk tidak terus-menerus bermain game karena lebih banyak dipengaruhi emosi.

“Main game itu asik, itu emosi semua dapatnya. Perasaan senang dan pleasure semua ada di situ. Terus bandingkan dengan belajar, nah itu berat banget,” tuturnya.

Menurut Vera, untuk melakukan transisi dari kecanduan bermain game hingga anak memiliki kesadaran untuk belajar harus dimulai dari perubahan-perubahan dan target-target kecil yang dilakukan secara konsisten dengan didampingi oleh orang tua.

Baca juga: Gadget Tumbuhkan Kreativitas Anak dalam Bimbingan Orang Tua

“Jadi yang kita (orang tua) tekankan pada anak adalah, ‘Yuk, kamu pasti bisa mengendalikan keinginan kamu untuk main game. Sebenarnya dengan mengalahkan (keinginan) itu saja, dia sudah berjuang supaya prefrontal cortex-nya bisa berfungsi lebih optimal,” kata Vera.

Vera menyebutkan contoh lain, biasanya remaja juga mengalami kesulitan ketika mempertimbangkan dan memilih jurusan kuliah.

Ketika sisi emosi yang dikedepankan dalam pengambilan keputusan, maka tak heran apabila remaja jelang usia 20 tahun kadang kala merasa salah mengambil jurusan.

Baca juga: Anak Bahagia karena Orang Tua Mengasuhnya dengan Cinta

“Ada anak yang memilih jurusan yang penting masuk negeri, atau kerjanya gampang, atau ada idolanya di situ, jadi emosi yang bermain. Atau keinginan orang tuanya yang masuk ke sana,” ujarnya.

Dalam kasus seperti itu, Vera menekankan peran orang tua dan pendidik yang secara tidak langsung “menjadi penjaga” fungsi prefrontal cortex pada remaja.

Untuk mengoptimalkan fungsi otak ini, orang tua dapat membantu anak melalui diskusi mengenai konsekuensi jangka pendek dan panjang saat mereka memilih jurusan tertentu.

Baca juga: Kenali Gejala Stres Anak

“Jadi kita yang rem. ‘Oke, kita bahas pilihan jurusannya ada apa saja, ‘Kenapa kamu mau jurusan ini’, ‘Ke depannya apa yang bisa kamu tekuni lagi’, ‘Kamu tertarik tidak untuk ambil ke sana’, dan seterusnya. Itu dibahas satu-satu,” kata Vera.

Saat menjalankan proses diskusi, Vera menegaskan bahwa orang tua juga perlu menjaga kesabaran diri sendiri sebab pengambilan keputusan pada remaja memang membutuhkan waktu yang panjang.

“Banyak orang tua yang mungkin tidak sabar untuk melalui proses ini karena umur kita sudah lebih tua secara angka, jadi sudah lebih tahu apa yang mesti dilakukan. Kalau tidak sabar, orang tua malah jadi short cut, ‘Sudah kamu ambil yang ini saja’, padahal belum tentu sesuai dengan hati sang anak,” ujarnya. (Antara)

Baca juga: Anak Bahagia karena Orang Tua Mengasuhnya dengan Cinta


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts to your email.

1 thought on “Ternyata ini Penyebab Gejolak Emosi Remaja

Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading