HATIYANGBERTELINGA.COM – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Adityana Kasandravati Putranto menekankan pentingnya peran orang tua dalam membekali anak agar tidak terjebak dalam ketergantungan teknologi yang dapat menghambat hubungan sosial mereka, baik dengan orang tua maupun teman sebaya.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), membuat anak-anak berisiko ketergantungan dengan hal tersebut yang dapat mengurangi interaksi sosialnya.
Beberapa strategi dapat diterapkan agar penggunaan teknologi tidak sampai mengurangi interaksi sosial anak dengan lingkungannya.
“Untuk mencegah AI membatasi interaksi anak, baik dengan orang tua maupun teman-temannya, orang tua dapat mengambil beberapa langkah strategis,” kata Adityana kepada ANTARA, dilansir Sabtu (17/5/2025).
Lihat juga: Kiat Pahami Kembang Sosial Emosional Anak
Lihat juga: Enam Tahap Bermain Anak dapat Mencerminkan Perkembangan Sosialnya
Dia menjelaskan beberapa langkah tersebut antara lain dengan membangun rutinitas keluarga misalnya dengan meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan anak tanpa gangguan teknologi.
Interaksi itu bisa berupa makan bersama, bermain, atau berbicara tentang kegiatan sehari-hari.
“Orang tua juga bisa mengajak anak melakukan aktivitas yang tidak melibatkan teknologi, seperti berolahraga, berkebun, atau melakukan kerajinan tangan,” ujar dia.
Kemudian, orang tua dapat mendorong interaksi sosial anak dengan membuat jadwal untuk bermain bersama keluarga atau mengunjungi teman dan kerabat.
Lihat juga: Edukasi Bermain Bentuk Perilaku Bersih Anak
Lihat juga: Dampak Bagi Anak Makan Sambil Main Gawai
Anak juga dianjurkan didaftarkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga, seni, atau klub, yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan teman sebaya.
Adityana menyarankan orang tua membuat aturan tegas terkait penggunaan gawai, termasuk menetapkan zona tanpa teknologi di rumah seperti ruang makan atau kamar tidur.
“Buat aturan yang jelas tentang kapan dan berapa lama anak boleh menggunakan perangkat yang didukung AI. Misalnya, tidak menggunakan perangkat saat makan atau sebelum tidur,” ucapnya.
Lalu, anak perlu dilatih berkomunikasi secara baik dan aktif, termasuk melatih mereka untuk mengekspresikan perasaan dan pendapat.
Lihat juga: Hindari Lima Kondisi Merusak Kepercayaan Diri Anak
Lihat juga: Kenali Minat Bakat Anak Dari Caranya Bermain
Permainan peran dapat menjadi metode yang efektif untuk membantu anak belajar berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai situasi sosial.
Psikolog yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia itu menekankan pentingnya orang tua menjadi contoh untuk mengajarkan pembatasan penggunaan teknologi dan lebih banyak berinteraksi langsung dengan orang lain.
“Ajak anak berdiskusi tentang pentingnya interaksi sosial dan dampak negatif dari ketergantungan pada teknologi,” kata dia.
Menurut Adityana, teknologi bisa dimanfaatkan secara positif untuk melatih interaksi sosial ini misalnya permainan yang bisa dimainkan bersama teman atau aplikasi yang mendukung proyek kelompok.
Lihat juga: Lima Aktivitas Seru Temani Si Buah Hati Saat Pandemi
Lihat juga: Hukuman Fisik Tidak Relevan Didik Anak Masa Kini
Jika anak tidak bisa bertemu langsung dengan, ajarkan mereka cara menggunakan video call untuk tetap terhubung dengan teman-temannya.
Tak kalah penting, ajarkan anak tentang bagaimana AI bekerja dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Diskusikan pentingnya keseimbangan antara penggunaan teknologi dan interaksi sosial.
“Ajak anak untuk merefleksikan pengalaman mereka dengan teknologi dan bagaimana hal itu mempengaruhi hubungan mereka dengan orang lain,” kata Adityana.
Lihat juga: Paparan Gawai Sebabkan Anak Autisme Virtual
Lihat juga: Cara Latih Sosialisasi Anak yang Pasif Lama di Rumah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












