Menyangkal Diri, Memanggul Salib dan Mengikuti Kristus

Ulangan 4:32-40
Matius 16:24-28

Shalom,

Setelah berada cukup lama di tengah padang gurun, dalam perjalanan menunju Tanah Terjanji yang mereka tidak tahu di mana dan masih berapa lama lagi harus ditempuh, Musa mengumpulkan bani Israel untuk mengingatkan apa yang telah mereka lihat dan alami selama ini.

Allah telah menunjukkan kuasaNya yang tidak ada batasNya untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan Dia selalu mendampingi mereka dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji dengan kasih dan kuasaNya.

Karena itu, di tengah segala ketidakpastian, Musa mengajak mereka menyadari bahwa tidak ada allah lain selain Tuhan.

Lepas dari mengerti atau tidak, mereka harus tetap melaksanakan apa yang diperintahkan Allah supaya mereka dan keturunan-keturunan mereka dapat berbahagia (Ulangan 4:39-40).

Di tengah perjalanan hidup kita di dunia yang serba tidak pasti, Allah ingin kita selalu berdoa dan bersyukur kepadaNya.

Dengan begitu kita tidak hanyut di dalam kekawatiran, kebimbangan, kecemasan yang berlebihan atau merasa lelah karena berjalan tanpa arah.

Dengan bersyukur kita mengingat kembali apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita dan bukan mengingatkan Tuhan banyak hal yang kita ingini yang belum Dia berikan.

Begitu banyak kasih dan kuasa Tuhan telah kita alami, dari hal-hal yang sangat luar biasa, maupun dalam peristiwa ‘biasa-biasa saja’ setiap hari seperti memberi kita nafas kehidupan, melindungi dari berbagai sakit penyakit, memberi rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup dan lainnya.

Kalau di waktu yang lalu Allah telah menolong kita, di waktu yang akan datang pun Dia pasti menolong.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Allah kepada Bani Israel untuk membawa mereka ke Tanah Terjanji juga kita alami dalam kehidupan saat ini meskipun dengan cara lain.

Tetapi sama seperti bani Israel, yang cepat melupakan kasih dan kuasa Allah, kitapun mudah melupakan kebaikan-kebaikan Allah, cepat menggerutu dan sering membiarkan diri tergoda mencari allah-allah lain yang nampaknya lebih dapat memberi kesenangan dan ‘kepastian’.

Lihat juga: Mengikuti Bimbingan Allah

Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia

Setelah Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup di tengah dunia, Kristus mengatakan kepada murid-muridNya: ‘Jika seseorang mau menjadi pengikutKu, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku’.

Menyangkal diri bukanlah membenci diri sendiri, tetapi melawan cinta diri (egoisme) yang merupakan sumber segala dosa.

Semua murid harus menolak segala bentuk kedagingan yang ada di dalam dirinya: peyembahan berhala, menuruti nafsu percabulan dan ketamakan, memendam iri dan dengki serta tidak peduli dengan orang lain (Galatia 5:19-21a)

Memanggul salib bukan berarti harus selalu menderita tetapi suatu kerelaan berkorban untuk dapat menolong orang lain, seperti Kristus yang memanggul salib untuk menebus dosa-dosa kita.

Memanggul salib berbeda dengan menanggung akibat perbuatan dosa, karena Kristus tidak berdosa saat memanggul salibNya.

Kerelaan berkorban bagi sesama adalah wujud syukur kita kepada Tuhan atas kasihNya dan sebagai buah pertobatan kita.

Mengikuti Kristus adalah kemauan untuk mengikuti jalan hidupNya, ajaran-ajaranNya dan cara-cara Dia menghadapi gelombang kehidupan ini, terlepas dari mengerti atau tidak.

Allah berjanji kalau kita mau melakukan itu semua, maka damai sejahtera yang melam lpaui akal budi, yang tidak dapat kita bayangkan saat ini, akan dapat kita alami (Filipi 4:7).

Damai sejahtera dari Allah, jauh melampaui segala kenikmatan-kenikmatan sesaat yang dapat diberikan dunia.

Bukankah tidak ada gunanya kita memiliki kekayaan atau kesuksesan yang dikagumi dunia, kalau di dalam diri kita selalu ada kegelisahan, ketakutan, iri hati dan dendam yang membuat kita tersiksa secara rohani dan dapat menimbulan berbagai sakit jasmani?

Lihat juga: Waspadalah Kebutaan Rohani

Lihat juga: Mengembangkan Kerohanian

Nabi Musa mengajak bangsanya untuk selalu mengingat kasih dan kuasa Allah yang pernah mereka alami, supaya mereka tetap teguh dalam peziarahan menuju Tanah Terjanji, di tengah segala ketidakpastian dan dapat menghadapi banyak tantangan.

Dalam kehidupan saat ini, kita sangat perlu untuk selalu bersyukur kepada Tuhan sehingga dengan mengingat kasih dan kuasaNya yang pernah kita alami diwaktu yang lalu, kita dikuatkan dalam menghadapi segala hal yang dapat menyesatkan jalan hidup kita, sehingga kelak boleh dilayakkan masuk ke dalam Rumah Bapa.

Mengakhiri pengajaranNya saat itu, Kristus mengatakan:

‘Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan BapaNya, diiringi para malaikatNya. Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya’.

Setelah menderita sengsara dan wafat di kayu salib, Kristus akan bangkit dari alam maut untuk kembali bersatu dengan Bapa di surga.

Pada saat yang ditentukan Bapa, Dia akan datang kembali ke dunia menjadi Hakim atas semua orang.

Pada saat itu, Allah tidak bertanya tentang prestasi atau apa saja yang kita miliki, tetapi bertanya perbuatan kasih yang tulus apa yang telah kita lakukan selama diberi kesempatan hidup di dunia fana (Matius 25:40, 45).

Kristus mengajak kita untuk menyangkal diri, memanggul salib dan bertekun mengikuti ajaran-ajaranNya, karena Dia tahu setiap orang sesungguhnya pasti merindukan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya, baik saat ini maupun di dalam keabadian.

Ajakan Kristus memang terdengar tidak menyenangkan, tetapi dibalik itu justru terletak apa yang sebenarnya kita rindukan.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Mengenakan Kuk Kristus

Lihat juga: Konsekuensi Menjadi Murid Kristus


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading