2 Korintus 1:18-22,
Matius 5:13-16
Shalom,
Dalam khotbah di bukit, setelah Kristus mengajarkan bagaimana sikap hati dan pikiran kita agar dapat selalu berbahagia di dalam menghadapi segala peristiwa kehidupan, Kristus mengutus para muridNya untuk menjadi garam dan terang dunia.
Fungsi garam adalah untuk memberi kenikmatan makanan dan mencegah kebusukan. Jadi asin yang ada padanya bukan untuk diri sendiri.
Dengan begitu Kristus mengingatkan, setelah memahami dan menghayati kebahagiaan hidup seperti yang diajarkanNya, kita harus membagikan kebahagiaan itu kepada orang lain.
Dalam pengutusan ini, Kristus tidak mengatakan ‘kamu akan menjadi garam dunia’. Artinya perintah itu berlaku dari sekarang sampai selamanya
Jangan menunda-nunda melakukan tugas ini sampai merasa diri benar-benar sudah bahagia.
Justru kebahagiaan akan bertambah penuh ketika dapat menolong sesama.
Lihat juga: Bersatu dalam Kasih Kristus
Lihat juga: Menerima dan Mengalirkan Air Kehidupan
Menjadi garam dan terang dunia mempunyai tujuan yang sama yaitu berusaha untuk membahagiakan sesama.
Tetapi dalam melakukannya caranya berkebalikan.
Garam meskipun sangat berguna untuk makanan, tetapi butir-butir garam tidak diinginkan terlihat dimakanan.
Karena itu garam harus larut dalam makanan.
Menolong orang yang sedang dalam kesulitan atau menyemangatinya agar tidak putus asa, janganlah diracuni keinginan untuk menonjolkan diri atau memaksakan apa yang kita pikirkan.
Lakukanlah dengan kasih yang tulus tanpa meng harap balasan. Jangan sampai orang yang ditolong merasa terbeban untuk membalas.
Orang yang ditolong tidak perlu tahu pengorbanan kita karena tujuan kita melakukannya untuk bersyukur atas segala kemurahan Tuhan yang telah Dia anugerahkan kepada kita.
Jangan sampai perbuatan baik kita kehilangan kasih sebagai dasarnya, karena akan menjadi seperti garam yang sudah tawar.
Lihat juga: Menyatakan Iman dalam Perbuatan
Lihat juga: Bertobat dengan Berbuat Kasih
Kristus lalu mengatakan: ‘Kamu adalah terang dunia.’ Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita, agar menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Terang yang dipancarkan oleh pelita bukan untuk menerangi dirinya agar terlihat tetapi untuk menerangi ruangan.
Kristus mengatakan ini untuk menyadarkan kita, bahwa perbuatan kasih harus tampak jelas terlihat banyak orang, bukan untuk dipuji atau dikagumi tetapi agar menarik banyak orang untuk mau ikut berperan dalam terang kasih itu.
Di dalam kehidupan sehari-hari, sering orang bukan tidak mau menolong, tetapi condong menunggu sampai ada yang berani memulainya.
Kristus mau mengingatkan kita untuk tidak pernah ragu berbuat kasih sekalipun yang dapat dilakukan masih jauh dari sempurna.
Lihat juga: Dipersatukan dalam Kasih Kristus
Lihat juga: Pesan Terakhir Kristus Menjelang Kenaikan ke Surga
Sebagai garam dunia, di dalam melakukan perbuatan kasih, kita tidak boleh menonjolkan diri.
Orang tidak perlu tahu siapa kita atau dari kelompok mana.
Yang penting, mengembalikan kebahagiaan orang yang sedang bersedih dan mencegah keputusasaan.
Jangan kawatir segala pengorbanan kita sia-sia begitu saja kalau tidak ada yang mengetahui.
Ingatlah apa yang diajarkan Kristus: ‘Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu’ (Matius 6:4).
Akan tetapi, dalam beberapa keadaan, Kristus meminta kita untuk menjadi teladan perbuatan kasih.
Kita perlu mengajak orang untuk bersama-sama memulai sesuatu yang baik, untuk peduli kepada sesama dan lingkungan hidup, menegakkan keadilan dan disiplin.
Untuk itu kita harus berani menjadi teladan.
Dalam hal ini Kristus meminta kita untuk menjadi seperti pelita yang bernyala, yang harus diletakkan di atas kaki pelita.
Lihat juga: Gambar ILAHI Romo Subroto SJ, Puisi oleh Antonius Laba
Lihat juga: Sikap Hati dalam Berdoa
Untuk menentukan sikap, kapan harus berfungsi menjadi garam atau terang dunia, sangat perlu ketulusan dan kerendahan hati serta kepekaan untuk mendengar bimbingan Roh Kudus.
Jangan sampai keraguan malah membuat kita tidak melakukan apa-apa.
Dalam hal seperti ini, Santo Paulus berpesan: ‘Karena Yesus Kristus, Anak Allah yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya” (2 Korintus 1:19).
Kita harus berani melakukan perintah Allah.
Tuhan tidak akan menyesali kita karena melakukan perbuatan kasih yang keliru karena ketidak tahuan.
Hal ini jauh lebih baik dari pada tidak pernah berani melakukan suatu kebaikan, karena kawatir berbuat salah.
Ketika Allah menggerakan kita berbuat kasih, jawablah ‘ya Tuhan’ karena ketika Dia memberi perintah, pasti Dia akan buka jalan.
Mari kita saling mengingatkan dan meneguhkan untuk dapat menjadi garam dan terang dunia baik di dalam keluarga, di tempat beraktivitas maupun dalam dalam pelayanan.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Kasih Tuhan Terwujud melalui Pelayanan Harian Kita
Lihat juga: Pelayanan Paroki Secepat Chatting Medsos
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.











