Kisah Para Rasul 20:28-38,
Yohanes 17:11b-19
Shalom,
Pada perjamuaan makan malam terakhir bersama para rasulNya, setelah Kristus menyampaikan pesan-pesan penting kepada mereka, Kristus berdoa kepada Allah Bapa agar para muridNya terhindar dari perpecahan: ‘Supaya mereka (selalu) menjadi satu, sama seperti Kita’.
Selama Kristus ada bersama para rasul, bibit-bibit perpecahan sudah terlihat, antara lain ketika para rasulNya berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Markus 10:35-41).
Saat itu Kristus menyadarkan mereka bahwa perdebatan seperti itu sama sekali tidak ada gunanya dan justru menunjukkan ketidakmengertian mereka akan apa yang telah diajarkanNya.
Kristus menyampaikan kekawatiranNya kepada para muridNya, jangan sampai setelah Dia secara jasmani tidak lagi bersama mereka, godaan-godaan duniawi, tipu daya iblis dan kedagingan yang masih melekat dalam diri mereka, menimbulkan terjadinya perpecahan, sekalipun mereka telah menerima Firman Tuhan dan telah diberi teladan tentang kasih sejati kepada sesama sebagai wujud kasih kepada Bapa.
Lihat juga: Berdoa dan Mendengarkan FirmanNya
Lihat juga: Berlindung Pada Firman Allah
Setelah sekitar 3 tahun tinggal dan mewartakan Injil di kota Efesus, Paulus sadar Tuhan ingin dia segera pergi ke Yerusalem.
Paulus mendapat firasat bahwa dia segera akan ditangkap, dipenjarakan dan dijatuhi hukuman mati di Yerusalem.
Karena itu dia mengumpulkan para pengurus jemaat dan mengatakan bahwa mereka semua tidak akan melihat dia lagi dan tugas untuk memelihara iman dan persatuan umat, untuk selanjutnya ada ditangan para penatua itu.
Paulus bernubuat bahwa setelah kepergiannya dari Efesus dan di Asia Kecil, akan datang serigala-serigala ganas yaitu para nabi palsu yang akan mempengaruhi umat dengan ajaran-ajarannya sendiri yang menjanjikan kenikmatan-kenikmatan duniawi padahal semua itu untuk kepentingan diri pribadi atau kelompok mereka sendiri.
Nabi-nabi palsu ini bisa datang dari luar tetapi bisa juga dari kalangan jemaat sendiri.
Karena itu Paulus mengingatkan para penatua itu agar mereka sungguh-sungguh tetap berpegang pada Injil Kristus tanpa mengurangi atau menambah-nambahkannya demi kepentingan diri sendiri.
Paulus ingin mereka melihat dan mengikuti teladannya saat membangun dan mengembangkan jemaat.
Selama di Efesus, Paulus selain mewartakan Injil, dia bekerja menjadi tukang pembuat tenda.
Lihat juga: Memberitakan Injil ke Segala Makhluk
Lihat juga: Bersama Yesus Pergi Beritakan Injil ke Tempat Lain
Dari pekerjaan itu dia mendapatkan penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidupnya dan orang-orang yang menyertainya.
Malahan dia dapat membantu beberapa umat yang berkekurangan.
Paulus tidak meminta dilayani, dicukupi segala kebutuhannya sehingga bisa menjadi beban bagi jemaat meskipun mereka rela memberinya.
Paulus juga mau menepis pandangan bahwa seakan-akan dia mewartakan Injil untuk mencari popularitas dan kehormatan diri sehingga dapat memperoleh banyak uang tanpa harus bekerja keras.
Dia mengingatkan bahwa di dalam kasih, orang akan lebih berbahagia ketika dapat memberi dari pada menerima (Kisah 20:35).
Dia telah bekerja keras dengan cucuran keringat dan air mata untuk memberi yang terbaik kepada jemaat dan bukan mengharap mendapatkan segalanya dari jemaat dengan menggunakan nama Kristus.
Setelah menyampaikan pesan-pesan terakhirnya itu, Paulus mengajak mereka berdoa bersama dengan berlutut di hadapan Allah.
Paulus berdoa agar Allah melindungi umat di Efesus dari segala yang jahat dan penyesatan-penyesatan yang dapat menimbulkan perpecahan.
Para penatua lalu berdoa untuk keselamatan Paulus dalam perjalanan dan karya-karyanya di Yerusalem.
Lihat juga: Sikap Hati dalam Berdoa
Lihat juga: Doa Mulia Si Tukang Parkir
Kristus berdoa memohon kepada Bapa agar Bapa terus memelihara dan menguduskan murid-muridNya setelah kepergianNya.
Kristus memohon agar para muridNya diberi kekuatan sehingga tidak kalah dalam menghadapi kebencian dunia dengan penyesatan-penyesatannya yang dapat memecah belah kesatuan di antara mereka.
Sekalipun para murid akan menghadapi banyak tantangan, Kristus tidak meminta Allah segera memanggil mereka dari dunia ini.
Justru Dia ingin para murid menjadi terang dan garam yang mengembalikan kebahagiaan dunia.
Dunia selalu sibuk untuk mengejar segala kenikmatan hidup, kekayaan atau kekuasaan sehingga tidak senang kalau ‘diganggu’ dengan hal-hal rohani yang dapat membatasi keinginan mereka.
Karena itu mereka membenci murid-murid Kristus yang berusaha mengingatkan bahwa yang seharusnya dikejar adalah kebahagiaan hidup, bukan kesenangan-kesenangan sesaat yang tidak bertepi.
Lihat juga: Menjadi Murid Kristus
Lihat juga: Menjadi Murid yang Sama Seperti Yesus Sang Guru
Sebagai murid-murid Kristus, kita harus mempunyai kerendahan hati untuk siap dibentuk Tuhan, baik melalui orang-orang yang diutusNya atau lewat berbagai kejadian hidup.
Berhati-hatilah kalau kita semakin lama merasa semakin hebat, semakin mengerti semua firman Tuhan, semakin banyak berbuah atau merasa diri paling banyak berkorban untuk Tuhan dan sesama.
Pemikiran-pemikiran dan perasaan hati seperti ini adalah tipu daya iblis dan dunia, yang ingin menghancurkan iman dan menimbulkan pertengkaran dan perpecahan.
Berjaga-jagalah senantiasa agar kita tetap dapat menjadi domba Kristus yang selalu mau mendengar suara Dia sebagai Gembala dan bukan mendengarkan tipu daya iblis yang mau menjadikan kita sebagai serigala-serigala yang siap memangsa domba-domba Kristus.
Semoga dengan bimbingan Roh Kudus dan dengan kuasa karunia-karuniaNya yang dahsyat, kita semua tidak mengecewakan Kristus.
Mari kita berusaha agar selalu hidup dalam kasih, mau saling menolong dengan tulus, semakin rendah hati dengan menganggap orang lain lebih penting dari diri kita dan mau saling memaafkan dengan mau memahami kekurangan, keunikan dan kelebihan orang-orang di sekitar kita.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Tuhan Memberkati Kita Melalui Orang Lain
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












