Mendengarkan Firman dengan Sepenuh Hati

Keluaran 19:1-2, 9-11, 16-20b

Matius 13:10-17

Shalom,

Ketika orang-orang banyak yang mendengarkan pengajaran-pengajaranNya sudah meninggalkan Kristus, para rasul bertanya kepadaNya: ‘Kenapa Engkau berbicara kepada mereka (orang-orang banyak itu) dalam perumpamaan?’

Kristus menjawab, para rasul telah diberi karunia iman oleh Tuhan, sehingga mereka mau belajar dan percaya kepadaNya tentang Kerajaan Allah, kebijakan-kebijakanNya dan kasihNya kepada semua manusia yang sering sulit dipahami manusia.

Sedangkan orang-orang banyak itu tidak punya cukup keseriusan untuk belajar dan merenungkan hal-hal yang mendalam, sehingga Kristus ‘hanya’ menyampaikan hal-hal yang tidak sulit dipahami dan disampaikan dalam berbagai perumpamaan yang sesuai dengan aktivitas sehari-hari kehidupan mereka sendiri.

Kepada para petani, Kristus memberi perumpamaan tentang tanaman. Kepada para nelayan, Kristus berbicara tentang penang kapan ikan.

Lihat juga: Allah Tidak Pernah Tertidur

Lihat juga: RIP Sr Hildegard Hayon CB, Teman Curhat Online Kami, Penulis Renungan

Kristus lalu mengatakan, sesungguhnya semakin orang mau merenungkan dan mencoba memahami kebijaksanaan-kebijaksanaan Allah, dia akan semakin menemukan betapa dalam kasih Allah yang menginginkan kita semua hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian.

Tetapi bagi mereka yang hanya mau mendengar dengan ‘separuh hati’, dengan tidak serius, mereka justru akan menemukan banyak sekali ajaran-ajaran Kristus yang tidak masuk akal atau yang sekalipun bagus untuk didengar tetapi tidak mungkin dapat dilakukan.

‘Siapa yang mempunyai (iman dan hati) kepadanya akan diberi (pengertian) sehingga ia berkelimpahan, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun yang ada padanya akan diambil darinya’.

Lihat juga: Iman di tengah Kekhawatiran

Lihat juga: Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

Orang-orang yang tidak mau serius di dalam mencoba memahami Firman Tuhan, sesungguhnya tetap dilimpahi Allah kasih dan kuasaNya yang tidak terbatas.

Tetapi sekalipun melihat dan mengalami kuasa Allah yang dahsyat, mereka tidak mampu melihat kehadiran Allah sebagai Pencipta dan Pemberi yang penuh kasih.

Meskipun mereka mendengar Firman tetapi menganggap firman itu lebih ditujukan untuk orang lain dari pada untuk dirinya sendiri.

Kristus mengeluh bahwa bangsa Israel telah menebalkan hati, artinya tidak mau belajar dari pengalaman hidup nenek moyang mereka dan dari kehidupan mereka sendiri, bahwa segala rancangan Allah sungguh sempurna dan membawa segala kebaikan.

Mereka lebih percaya dengan pikiran-pikiran sendiri dan menganggap firman Tuhan terlalu berat untuk dapat dilaksanakan.

Lihat juga: Menyimpan Firman dalam Hati

Lihat juga: Berdoa dan Mendengarkan FirmanNya

Pada bulan ketiga setelah orang-orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai.

Tuhan lalu mengatakam kepada Musa bahwa Dia akan menampakkan Diri dalam awan yang tebal agar semua orang dapat mendengar FirmanNya dan percaya kepada dia sebagai utusanNya.

Supaya semua yang ada disitu mampu mendengar SuaraNya, mereka harus lebih dulu mempersiapkan Diri dengan menguduskan diri selama dua hari dan mencuci pakaian mereka (Keluaran 19:9-10).

Maka pada hari ke 3, ada guruh dan kilat dan awan padat diatas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bani Israel (Keluaran 19:16).

Ada kuasa yang teramat dahsyat dalam Firman Tuhan, kuasa yang menggetarkan seluruh alam ciptaan Allah dan membuat yang mendengarNya menjadi gemetar ketakutan.

Karena itu untuk dapat mendengarNya dengan baik, orang harus menyiapkan hati dengan sungguh-sungguh, yaitu dengan menguduskan diri terlebih dahulu.

Lihat juga: Mengimani Tritunggal Maha Kudus

Lihat juga: Roh Kudus Memperbarui Hidup Kita

Firman Allah yang didengar bani Israel di padang gurun Sinai dengan begitu dahsyat sesungguhnya sama seperti Firman yang disampaikan Kristus kepada banyak orang dalam penginjilanNya, sehingga mujizat-mujizat yang mencengangkan banyak terjadi.

Firman Allah itu juga yang diberikan Tuhan kepada kita setiap hari.

Akan tetapi karena sering kali kita tidak mau bersungguh-sungguh menyiapkan hati untuk mendengarkannya, kuasa Allah yang dahsyat menjadi seperti terselubung awan tebal sehingga kita tidak mampu melihat dan menikmatinya.

Sekalipun Israel melihat dan mengalami limpahan anugerah Allah kepada mereka tetapi di dalam kelimpahan itu mereka sering melupakan Yahwe dan malahan berbuat kekejian dengan membuat dan menyembah berhala-berhala buatan mereka sendiri.

Lihat juga: Melakukan yang Baik di Hadapan Allah

Lihat juga: Berpegang Teguh pada Janji Allah

Mari kita periksa diri kita dengan jujur: Apakah kita punya hati dan iman untuk sungguh-sungguh mau mendengarkan firman Allah setiap hari?

Apakah kita mau dengan serius mencari hikmat Allah didalam setiap peristiwa kehidupan, sehingga dapat menemukan Dia di dalam rancanganNya yang sempurna untuk setiap kita?

Atau kita sama saja seperti orang-orang Yahudi yang menebalkan hati, tidak mau belajar bagai mana Allah senantiasa membimbing dan menyediakan yang terbaik untuk setiap kita?

Ketika Allah menganugerahkan kesehatan yang prima, kita tidak ingat akan Dia.

Tetapi ketika sakit, kita mengeluh dan menyalahkan Allah.

Saat Tuhan menganugerahkan kesuksesan dan kelebihan harta, kita meninggalkan Dia untuk mencari kenikmatan-kenikmatan dan kebanggaan-kebanggaan hidup.

Tetapi ketika kita mengalami kegagalan, waktu merasa berkekurangan, kita menyalahkan Allah yang tidak mau peduli dan mendengar doa-doa kita.

Marilah kita merendahkan hati untuk terus belajar memahami jalan Tuhan, mau mendengarkan FirmanNya setiap hari dengan sepenuh hati, karena hanya Firman Allah yang secara dahsyat dapat membuat kita mengalami kedamaian sejati ditengah gelombamg kehidupan yang sering membuat kita cemas.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Perbuatan Kasih Tidak Ada yang Sia-sia

Lihat juga: Antara Mujizat dan Iman


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Spiritualitas

    Katolik Kutip 1 Timotius 2:1-4 dan Doa Santo Fransiskus Asisi Saat Doa Kebangsaan di Monas

    Katolik Kutip 1 Timotius 2:1-4 dan Doa Santo Fransiskus Asisi Saat Doa Kebangsaan di Monas

    Mengucapkan Hal yang Tersembunyi

    Mengucapkan Hal yang Tersembunyi

    Uskup Larantuka Ajak Umat Katolik Ziarah Rohani ke Bukit Fatima dan Kapela Gabriel Manek

    Uskup Larantuka Ajak Umat Katolik Ziarah Rohani ke Bukit Fatima dan Kapela Gabriel Manek

    Rosario Jadi Harta Diaspora Asal Flores Menurut Uskup Hans Monteiro

    Rosario Jadi Harta Diaspora Asal Flores Menurut Uskup Hans Monteiro

    Uskup Hans Monteiro Tegaskan Pelecehan Seksual Dosa Berat, Hukumannya Berat

    Uskup Hans Monteiro Tegaskan Pelecehan Seksual Dosa Berat, Hukumannya Berat

    Uskup Larantuka Harapkan Diaspora Flotim-Lembata Jadi Duta Damai

    Uskup Larantuka Harapkan Diaspora Flotim-Lembata Jadi Duta Damai

    Uskup Yohanes Hans Monteiro: Memahami Imago Dei Maka Kita Tidak Ada Perpecahan atau Perang

    Uskup Yohanes Hans Monteiro: Memahami Imago Dei Maka Kita Tidak Ada Perpecahan atau Perang

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membumikan Ensiklik Perdana Paus Leo XIV dan SKB Tujuh Menteri dalam KBC

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Membedah Refleksi Kristus Menjagaku

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Kesaksian Panggilan Hidup dan Tips Buat Gen Alpha Setia Melangkah Bersama Tuhan Yesus

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading