Keluaran 2:1-15a,
Matius 11:20-24
Shalom,
Setelah beberapa lama Kristus mengajar dengan penuh kuasa di daerah Galilea, Dia mengecam penduduk kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum, karena meskipun Dia telah mengajar di kota-kota tersebut dan membuat mujizat-mujizat untuk meyakinkan mereka bahwa Dia adalah Mesias, penduduk kota-kota tersebut tidak juga mau percaya dan mengabaikan begitu saja ajaran-ajaranNya.
Mengecam bukanlah mengutuk dan juga bukan suatu penyesalan karena seperti sia-sia saja telah mengajar di kota-kota tersebut.
Mengecam dalam hal ini adalah suatu ungkapan menyayangkan, suatu perasaan iba, karena dengan penolakan itu, pada saat Penghakiman Terakhir, mereka akan menerima akibatnya yaitu mengalami penderitaan abadi.
Kecaman Kristus itu diikuti dengan membandingkan 3 kota tersebut dengan 3 kota yang dalam sejarah Yahudi dikenal sebagai kota-kota yang penduduknya jahat dan penyembah berhala: Tirus, Sidon dan Sodom.
Kristus mengatakan, kelak pada hari Penghakiman, hukuman yang dialami penduduk di 3 kota sejarah itu masih lebih ringan dari pada penduduk Betsaida, Khorazim dan Kapernaum.
Pernyataan Kristus ini menjadi suatu peringatan bahwa bagi orang yang sudah mengetahui Firman Tuhan tetapi tidak mau percaya dan mentaatinya, akan dimintakan pertanggungan jawab yang lebih besar dari pada orang-orang yang melakukan kejahatan karena belum pernah mendengar Firman Tuhan.
Lihat juga: Menyimpan Firman dalam Hati
Lihat juga: Berdoa dan Mendengarkan FirmanNya
Musa dilahirkan dari orangtuanya yang suku Lewi. Saat itu Firaun memerintahkan kepada rakyatnya agar setiap bayi laki-laki Yahudi harus dibunuh dengan dibuang ke dalam sungai Nil.
Ibunya berusaha tetap mempertahankan bayinya, tetapi setelah 3 bulan, dia menyerah, tidak mungkin dapat menyembunyikan bayinya itu lebih lama lagi.
Dia lalu membuat peti dari pandan dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau (rumputan tinggi yang ada di tempat yang berair) di tepi sungai Nil.
Mujizat terjadi, ketika puteri dari Firaun yang sedang mandi di sungai Nil, tersentuh hatinya saat melihat bayi itu.
Dia malahan mau mengangkat bayi itu menjadi anaknya.
Puteri Firaun inilah yang menamakan bayi itu dengan nama Musa, yang berarti: ‘yang ditarik dari air’, sebagai kenangan bahwa dia telah menyelamatkannya dari sungai Nil.
Musa bertumbuh menjadi dewasa di kalangan istana Firaun sehingga menikmati kehidupan dan segala fasilitas pendidikan yang sangat jauh lebih baik dari kehidupan orang-orang sebangsanya.
Kepandaiannya sebagai anak Ibrani ternyata jauh melebihi anak-anak Firaun, sehingga menimbulkan kecemburuan ‘saudara-saudaranya’.
Suatu kali ketika Musa keluar dari kalangan istana, dia melihat ada orang Mesir memukuli seorang budak Yahudi dengan kejam.
Lihat juga: Penampakan Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Lihat juga: Bekerja untuk Kehidupan Kekal
Dalam perkelahian membela orang Yahudi itu, Musa membunuh orang Mesir itu.
Dia tahu bahwa membunuh orang Mesir akan mendapat hukuman mati dari Firaun, sehingga dia mencoba menyembunyikan mayat orang itu ke dalam pasir di tempat yang sunyi.
Keesokan harinya ketika Musa melihat ada dua orang Yahudi tengah berkelahi, saat dilerai salah seorang di antaranya malahan menantang Musa dengan mengatakan: ‘Apa engkau bermaksud membunuh aku sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?’
Mendengar itu, Musa tahu bahwa perbuatannya tidak bisa disembunyikan lagi sehingga terpaksa dia melarikan diri dari Mesir ke Midian.
Musa bermaksud baik dengan membela orang yang sedang diperlakukan dengan sangat kejam dan melerai perkelahian di antara sesama bangsa Yahudi.
Tetapi akibatnya, dia harus keluar dari kenyamanan hidup di kalangan istana dan hidup di negara lain sebagai seorang pelarian.
Perbuatan baiknya kelihatannya malah mendatangkan bencana bagi dirinya.
Tetapi sesungguhnya, semua ini tidak lepas dari rancangan Allah, yaitu agar pada saatnya Musa dapat diutus untuk menyelamatkan bangsanya dari perbudakan di Mesir.
‘Akibat buruk’ dari perbuatan kasihnya, ternyata tidak lepas dari rancangan Yahwe untuk menjadikan dia sebagai penyelamat bangsanya.
Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia
Lihat juga: Berpegang Teguh pada Janji Allah
Kristus banyak mengajar dan membuat mujizat di Galilea, khususnya di Kapernaum.
Tetapi ternyata penduduk di sana hanya menyambut Dia karena ingin menikmati mujizat-mujizatNya saja.
Mereka tidak mau bertobat dan merubah cara berpikir, sikap hati dan gaya hidup mereka seperti yang diajarkanNya.
Kecaman Kristus juga tidak mengubah apa-apa untuk penduduk Khorazim, Betsaida dan Kapernaum saat itu.
Tetapi apa yang dilakukan Kristus tersebut tidak ada yang sia-sia.
PengajaranNya dan kecamanNya terhadap tiga kota tersebut sangat berguna untuk kita renungkan saat ini.
Mari kita dengan jujur memeriksa diri.
Kita telah mengalami banyak pertolongan Tuhan di dalam pergumulan hidup sehari-hari.
Kita telah dianugerahkan FirmanNya sehingga tahu apa yang benar, yang dikehendaki Tuhan untuk dilakukan agar dapat mengalami kebahagiaan sejati.
Lihat juga: Berpuasa untuk Mendengarkan Kehendak Tuhan
Lihat juga: Menghayati Mujizat Allah
Apakah kasih dan kuasa Allah ini telah menggerakkan kita untuk mau selalu percaya, pasrah dan taat kepada ajaran-ajaran Kristus?
Jangan-jangan kita sama saja dengan penduduk di 3 kota yang dikecam Kristus, yang datang kepadaNya hanya untuk menikmati mujizat-mujizatNya saja.
Tidak semua perbuatan baik dan pewartaan Injil yang kita lakukan dapat langsung terlihat hasilnya yang menggembirakan.
Tidak semua perhatian dan kasih yang kita lakukan untuk orang lain, dapat diterima dan disyukuri oleh orang tersebut.
Malahan ada saja orang-orang jahat yang mencoba memanfaatkan kebaikan kita untuk kepentingan dirinya sendiri.
Tetapi belajar dari apa yang dialami Nabi Musa dan Kristus, kita mengerti bahwa setiap perbuatan kasih tidak ada yang sia-sia.
Saat Musa harus melarikan diri dari Mesir, sepertinya perbuatan baik dia malah mendatangkan malapetaka hebat bagi dia.
Tetapi ternyata dibalik peristiwa itu, Allah telah merencanakan dia untuk menjadi nabi besar dan penyelamat bangsanya.
Karena itu jangan pernah merasa lelah berbuat kasih, untuk saling mendoakan dan saling melayani satu sama lain, karena tidak ada perbuatan kasih yang sia-sia di hadapan Allah.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Membawa yang Lumpuh ke Hadapan Kristus
Lihat juga: Beristirahat di Hadapan Tuhan
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












