Keluaran 16:1-5, 9-15,
Matius 13:1-9
Shalom,
Orang-orang Israel seperti mimpi ketika mereka bisa keluar dari Mesir dan menjadi orang-orang yang bebas, bukan lagi budak-budak mereka sangat bersyukur ketika dapat menyeberangi laut Teberau, yang airnya terpecah dua dan menciptakan daratan di tengahnya sehingga dapat mereka lewati.
Apalagi ketika mereka menyaksikan bagaimana bala tentara Mesir yang mengejar mereka, musnah dalam sekejap mata, karena air laut kembali menyatu.
Tetapi setelah 1,5 bulan mereka ada di padang gurun, mereka mulai sangat cemas karena persediaan makanan yang mereka bawa sudah hampir habis.
Di padang gurun mereka tidak dapat menemukan makanan bahkan airpun sangat sulit.
Apalagi mereka tidak tahu sampai berapa lama mereka akan terus ada di padang gurun itu.
Oleh karena itu dari rasa syukur atas berkat Tuhan, mereka berbalik menjadi marah dan menyesali Musa yang telah membawa mereka keluar dari Mesir.
Lihat juga: Tuhan Memberkati Kita Melalui Orang Lain
Lihat juga: Ngubah Hati Najis Jadi Berkat
Allah mendengar keluh kesah mereka dan kemudian berfirman melalui nabi Musa: ‘Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu, maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak’ (Keluaran 16:4).
Maka terjadilah: ‘Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung putuh yang menutupi perkemahan itu dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan’ (Keluaran 16:13).
Dengan mengalami kejadian itu, bangsa Israel sadar bahwa hidup mereka, hari demi hari sangat bergantung kepada kemurahan hati Allah.
Tetapi Alkitab mencatat bagaimana dalam peziarahan di padang gurun itu bangsa Israel berkali-kali jatuh kembali dalam dosa penyembahan berhala.
Hati mereka begitu keras, tidak mau benar-benar berubah dan bertobat.
Karena itulah hanya sangat sedikit dari mereka yang pernah hidup di Mesir dapat sampai ke Tanah Terjanji.
Lihat juga: Bertobat dengan Berbuat Kasih
Lihat juga: Bertobatlah, Manfaatkan Kerahiman Tuhan
Di dalam pengajaran tentang Kerajaan Allah, Kristus memberi perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih.
Pada waktu ia menabur, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, sebagian lagi ke tanah yang berbatu-batu, sebagian lagi jatuh ke tengah semak duri dan sebagian lagi jatuh ditanah yang baik, yang lalu bertumbuh dan berbuah.
Dengan perumpamaan ini, Kristus ingin menggambarkan bagaimana Allah menaburkan benih Firman, mencurahkan rahmat dan berkat kepada semua orang tanpa memilih dan memilah.
Namun sikap orang dalam menanggapi anugerah Tuhan itu dapat berbeda-beda.
Ada orang yang tidak mau peduli dengan Firman Tuhan, dengan segala kebaikan Allah karena menganggap semua yang diperoleh adalah karena hasil kerja, kepandaian dan keberuntungannya sendiri.
Inilah hati orang yang digambarkan begitu keras seperti tanah di pinggir jalan.
Ada juga yang menyadari dan mensyukuri kebaikan Tuhan, tetapi saat berhadapan dengan berbagai kekhawatiran hidup, menjadi panik dan kemudian tergoda mencari allah-allah lain yang dianggap lebih mampu menolong.
Orang-orang seperti ini seperti tanah yang penuh dengan semak duri, sehingga meskipun pada awalnya benih dapat bertumbuh, benih itu akan terhimpit dan akhirnya mati oleh akar-akar semak.
Lihat juga: Berpuasa untuk Mendengarkan Kehendak Tuhan
Lihat juga: Membawa Persembahan untuk Tuhan
Situasi seperti inilah yang terjadi pada bani Israel yang dibebaskan Tuhan dari perbudakan yang kejam di Mesir.
Ketika mereka mulai khawatir dengan kelangsungan kehidupan mereka di padang gurun karena tidak menemukan makanan, mereka tidak ingat lagi bagaimana Allah telah menunjukkan kuat kuasaNya sehingga mereka dapat menyeberangi laut Teberau dan terbebas dari kejaran bala tentara Mesir. Semuanya begitu cepat terlupa.
Bagaimana dengab diri kita sendiri saat ini?
Seperti Allah memberi manna dan daging burung puyuh setiap hari kepada nenek moyang bangsa Israel, Allah setiap hari menganugerahkan kepada kita segala yang terbaik: rejeki yg cukup, kesehatan, kegembiraan dan lain-lain.
Tetapi apakah kita sungguh mensyukuri itu semua? Atau kita menganggap semua itu memang sudah seharusnya terjadi?
Bagaimana sikap hati kita saat harus berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup? Apakah kita tetap percaya pada kasih dan kuasa Tuhan karena telah mengalami sendiri pertolongan-pertolonganNya di waktu yang lalu diberbagai situasi kondisi?
Kristus dengan keras berseru: ‘Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!’.
Kita memang dianugerahi Tuhan telinga untuk mendengar, tetapi apakah hati kita terbuka untuk mau percaya dan taat?
Semoga kita mau mendengar Firman Allah dan kemudian melakukannya.
Karena hanya dengan begitu kita akan dilayakkan Kristus masuk ke dalam Rumah BapaNya.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Mengenakan Kuk Kristus
Lihat juga: Konsekuensi Menjadi Murid Kristus
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












