Berpegang Teguh pada Janji Allah

Kejadian 21:5, 8-20

Matius 8:28-34

Shalom,

Abraham dan Sara sangat lama harus menanti janji Allah untuk memberi mereka banyak anak.

Ketika janji itu tidak juga diperoleh padahal mereka semakin hari semakin tua, Sara mengambil inisiatif untuk melakukan apa yang sering dilakukan para wanita yang tidak punya anak pada masa itu, yaitu mengambil seorang budak wanita untuk dijadikan ‘selir’ bagi suaminya (Kejadian 16:3), karena anak dari selir secara adat diakui sebagai anak istri.

Cara ini kelihatannya berhasil karena Hagar, hambanya yang dipilih Sara untuk diserahkan ke suaminya, melahirkan anak laki yang diberi nama Ismael.

Tetapi Allah tidak melupakan janjiNya. Saat Abraham berusia 100 tahun, Sara melahirkan sorang anak laki yang diberi nama Ishak (Kejadian 21:5).

Saat Ishak mulai tumbuh besar, Sara menjadi khawatir bahwa kelak kalau suaminya meninggal, Ishak akan berebut warisan dengan Ismael yang merupakan anak laki sulung suaminya.

Karena itu dia meminta Abraham mengusir Hagar dan anaknya.

Abraham sedih harus berpisah dengan Ismael karena bagaimanapun itu adalah anak kandungnya. Tetapi akhirnya dia mengikuti permintaan Sara setelah hal itu diijinkan Allah.

Setelah diusir tuannya, Hagar bersama Ismael anaknya mengembara di padang gurun Bersyeba.

Suatu saat mereka hampir mati karena kehabisan air. Melihat itu, Allah turun tangan menolong Hagar sehingga dia dapat menemukan sumur air.

Allah lalu berjanji kepada Hagar bahwa Allah akan membuat Ismael menjadi bangsa yang besar, karena bagaimanapun juga Ismael adalah keturunan Abraham hamba yang disayangi Yahwe (Kejadian 21:17-20).

Lihat juga: Allah Tidak Pernah Tertidur

Lihat juga: Melakukan yang Baik di Hadapan Allah

Ismael lahir karena Sara tidak cukup sabar dan percaya kepada janji Allah. Tetapi dengan kerahimanNya, Allah tetap berkenan menjaga dan memelihara Ismael.

Untuk mencapai keinginannya, Sara merekayasa perbuatan agar suaminya memperoleh anak.

Jadi Ismael bukan anak yang dijanjikan Allah.

Dia anak yang dihasilkan dari pemikiran dan kehendak manusia. Yang menjadi anak perjanjian adalah Ishak.

Apa yang dilakukan Sara juga sering dilakukan banyak orang sampai saat ini, malah mungkin termasuk kita juga. Tidak sabar dan tidak cukup punya iman untuk menanti waktu Allah memberi kita yang terbaik menurut rancanganNya.

Karena itu kita cenderung mencari jalan yang lebih cepat dan masuk akal untuk memperoleh yang diinginkan: kesembuhan dari sakit penyakit, mendapat pasangan hidup, keturunan, kekayaan atau kesuksesan.

Seperti apa yang terjadi pada Sara, awalnya mungkin kita gembira karena apa yang diinginkan dapat diperoleh, tetapi apa yang bukan kehendak Allah, lambat atau cepat pasti mendatangkan hal yang buruk.

Lihat juga: Melakukan Kehendak Allah

Lihat juga: Memaknai “Tanda” Sesuai Kehendak Tuhan

Setelah menyeberangi danau Galilea, Kristus dan para rasul sampai di Gadara, tempat pemukiman orang-orang bukan Yahudi.

Kristus melakukan ini, sesuai dengan yang Dia katakan tentang seorang gembala yang baik:

‘Ada lagi padaKu domba-domba lain yang bukan dari kandang ini. Domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan, satu gembala’ (Yohanes 10:16).

Di Gadara Kristus ‘disambut’ dua orang yang kerasukan setan. Keduanya sering mencelakakan orang lain sehingga tidak ada orang yang berani mendekati daerah itu.

Mereka punya kekuatan lebih dari orang-orang biasa, karena di dalam diri mereka ada banyak iblis dengan kuasa-kuasanya.

Ketika bertemu Kristus, iblis-iblis itu segera mengenali Siapa Dia, sehingga mereka berteriak-teriak ketakutan.

Setan-setan itu lalu meminta agar mereka diusir saja ke dalam kawanan babi (hewan yang dianggap haram oleh orang Yahudi) yang ada di dekat tempat itu.

Kristus lalu memerintahkan iblis-iblis itu keluar dari kedua orang tersebut dan pindah ke dalam tubuh babi-babi itu.

Akibatnya babi-babi itu menjadi gelisah dan berlari-lari sendiri sehingga akhirnya terjun ke dalam danau sehingga mati.

Melihat kejadian itu, para penjaga kawanan babi itu segera lari melaporkan apa yang terjadi kepada pemilik ternak dan orang-orang di kota.

Tentu saja suasana menjadi geger. Mereka beramai-ramai menemui Kristus.

Mereka melihat bahwa kedua orang yang tadinya gila telah sembuh tetapi juga melihat bagaimana babi-babi milik mereka telah mati.

Mereka menjadi takut dan segera mengusir Kristus.

Mereka khawatir kedatangan Kristus akan mendatangkan banyak kerugian material lagi bagi mereka.

Yang mereka perhatikan bukan kesembuhan kedua teman mereka sehingga bersyukur atas kuasa Allah yang telah bekerja secara luar biasa tetapi kematian babi-babi mereka yang menimbulkan kerugian materi.

Lihat juga: Berpengharapan dalam Kuasa Roh

Lihat juga: Dibaptis: Mengenakan Kristus, Menerima Roh Kudus dan Menolak Roh Jahat

Di dalam kehidupan, sering kali kita tidak cukup percaya kepada Allah dengan segala rancangan keselamatanNya yang sempurna.

Sara memilih merekayasa perbuatan sesuai dengan pikirannya sendiri untuk mendapatkan anak bagi dia dan suaminya.

Orang-orang di Gadara lebih memilih melindungi kekayaan materi mereka dari pada menerima Kristus yang telah memperlihatkan kasih dan kuasa Ilahi dengan menyembuhkan teman-teman mereka.

Mari periksa diri dengan jujur. Apakah kita tetap mau percaya kepada janji Allah bahwa dalam segala hal Dia selalu ikut bekerja untuk kebaikan kita, kalau kita mau taat dan percaya kepada bimbinganNya? (Roma 8:28).

Apakah kita percaya bahwa jalan dan waktu Allah selalu lebih indah dari yang mampu kita pikirkan?

Apakah kita percaya bahwa bukan harta dan kuasa yang dapat membawa kita kepada kebahagiaan sejati tetapi ketaatan kita untuk melakukan apa yang telah diajarkan Kristus?

Semoga dengan merenungkan ini, kita dapat memperoleh kekuatan iman untuk tetap percaya kepada Allah, lepas dari mengerti atau tidak.

Tuhan memnberkati kita.

Lihat juga: Roh Kudus Memampukan Kita Mengenal Allah

Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Pendidikan Bernafas Eros

    Pendidikan Bernafas Eros

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading