Belajar dari Tokoh Masa Lalu

1 Tesalonika 2:9-13
Matius 23:27-32

Shalom,

Kristus mengecam sikap orang-orang Farisi yang membangun makam-makam yang indah bagi para nabi dan tugu-tugu peringatan untuk orang-orang yang saleh.

Kecaman itu bukan karena perbuatan itu buruk tetapi Kristus ingin mengkritisi tujuannya.

Kalau mereka membangun itu dengan tujuan menghormati para nabi dan menyatakan penyesalan karena pembunuhan yang dilakukan leluhur mereka, tentu ini merupakan hal yang baik.

Dengan begitu mereka dapat belajar dari kesalahan fatal yang telah dilakukan nenek moyang mereka, agar tidak sampai melakukan kesalahan seperti itu lagi.

Tetapi orang-orang Farisi ini membangun makam para nabi dengan berpikir bahwa mereka pasti tidak akan melakukan kesalahan seperti itu kalau mereka hidup pada masa itu.

Pemikiran seperti ini adalah suatu kesombongan rohani yang malahan merendahkan, menghakimi nenek moyang mereka yang telah meninggal.

Pemikiran seperti ini sama sekali tidak ada gunanya untuk pertumbuhan iman.

Merekapun seharusnya berdoa memohon pengampunan Tuhan bagi leluhur mereka dan bukan malahan menjadikan kesalahan leluhur untuk mengangkat citra diri bahwa mereka tidak seperti itu.

Karena tidak mau belajar dari kesalahan masa lalu, pada akhirnya mereka malahan melakukan hal yang lebih keji dan fatal lagi, yaitu dengan membunuh Kristus, Sang Mesias yang telah berabad-abad dinubuatkan dan dinantikan bangsa Israel.

Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes

Lihat juga: Kristus Menggenapi Hukum Taurat

Penulis-penulis Injil mencatat kecaman-kecaman Kristus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bukan sebagai bentuk kemarahan kepada mereka yang telah membunuh Kristus.

Bukan juga untuk mengabadikan perbuatan-perbuatan buruk mereka, tetapi agar kita belajar dari kesalahan-kesalahan orang Farisi tersebut, supaya tidak mengulangi lagi cara berpikir, sikap hati maupun perbuatan-perbuatan mereka.

Ada banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang Farisi, yang sadar/tidak terus dilakukan juga oleh banyak orang termasuk diri kita pada saat ini, seperti sifat-sifat munafik dan kesombongan rohani.

Kristus mengatakan, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sama seperti kuburan yang dilabur putih.

Dari luar tampaknya bersih, tetapi di dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran.

Orang-orang Farisi senang berdoa dan berpuasa di depan banyak orang dan dalam berdoa menggunakan kata-kata yang indah dan panjang-panjang agar dikagumi dan mendapat citra sebagai orang saleh di tengah masyarakat.

Ketika kesan itu telah diperoleh, mereka menggunakannya untuk kepentingan diri.

Perilaku pencitraan diri seperti ini, sampai sekarangpun masih begitu sering terjadi, baik dalam dunia politik, di kalangan bisnis bahkan di lingkup rohani.

Orang-orang yang berlaku seperti ini bukan menggunakan Firman untuk menguduskan diri tetapi memanfaatkan Firman untuk mencari keuntungan materi dan duniawi.

Waspada dan perlu sering bagi kita untuk periksa diri agar dijauhkan dari cara berpikir dan perbuatan2 yg penuh tipu daya seperti ini, karena tidak ada satu halpun yang dapat disembunyikan dari tatapan mata Allah.

Lihat juga: Pastor Kopong: Kehadiran Gereja Katolik Jadi Kegelisahan Ahli Taurat Zaman ini

Lihat juga: Bunda Maria Diangkat ke Surga

Kepada umat di Tesalonika, Santo Paulus menulis tentang apa yang telah dia lakukan saat dia ada bersama mereka.

‘Kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, (selagi) kami memberitakan Injil Allah kepada kamu’ (1 Tesalonika 2:9).

Paulus bekerja sebagai pembuat tenda untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, di tengah kesibukannya mewartakan Injil Kristus untuk mereka.

Paulus melakukan ini supaya tidak membebani umat di sana yang sebagian terbesar memang orang-orang yang kehidupan ekonominya masih berkekurangan.

Sebagai guru yang penuh karisma dan sangat dihormati jemaat, Paulus sebenarnya dapat saja hidup ‘berkecukupan’ tanpa harus bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tetapi dia memilih melakukannya sendiri karena dia mengasihi umat seperti Allah yang sangat mengasihi dirinya.

Yang menarik, Paulus tidak mengatakan hal ini selagi masih di tengah mereka supaya mendapat simpati. Dia mengemukakan ini setelah dia pergi.

Tujuannya agar umat Tesalonika juga mau saling mengasihi dengan tulus seperti yang diteladaninya.

Dengan begitu Paulus telah mewartakan Injil bukan hanya dengan kata-kata atau surat-suratnya saja tetapi juga dengan keteladanan hidupnya.

Lihat juga: Memberitakan Injil ke Segala Makhluk

Lihat juga: Jangan Takut untuk Diutus

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat selau ingin menonjolkan ‘kekudusan dan kepintaran mereka dalam menafsirkan Firman Tuhan’ dengan mencari-cari kesalahan orang lain termasuk leluhurnya sendiri.

Paulus menujukkan kekudusan diri dengan banyak berbuat kasih kepada jemaat yang dilayaninya, tanpa menonjolkan diri.

Semua dilakukannya karena dia ingin membalas kasih Allah.

Marilah kita berusaha untuk tidak bersikap dan berpikir seperti orang-orang Farisi.

Mari ikuti teladan Santo Paulus.

Tuhan menganugerahkan kepada kita contoh-contoh hidup dari tokoh-tokoh masa lalu baik yang kudus dan tulus maupun yang buruk dan penuh kemunafikan.

Semoga kita dapat menjadikan semua itu untuk semakin menumbuhkan iman dan ketaatan kepada Firman yang diajarkan Kristus.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Mendengarkan Firman dengan Sepenuh Hati

Lihat juga: Menjadi Teladan Ketaatan


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading