Ulangan 10:12-22
Matius 17:22-27
Shalom,
Kristus berkata kepada murid-muridNya: ‘Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan’.
Yang dimaksud dengan ‘Anak Manusia’, adalah DiriNya sendiri sebagai Putera Allah yang kekuasaanNya kekal dan tidak terbatas, seperti yang dilihat Daniel dalam penglihatannya (Daniel 7:13-14).
Tetapi Kristus lalu menyampaikan peristiwa yang sangat tragis yang akan dialamiNya.
Menariknya pembunuhan yang akan Dia alami seakan terjadi pada orang lain, karena Dia tidak memakai kata ‘Aku’ melainkan ‘Anak Manusia’.
Hal ini menunjukkan Kristus memang tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada DiriNya. Bagi Dia, seluruh hidupNya adalah untuk mentaati kehendak Bapa karena apa yang direncanakan dan dikehendaki Bapa, pasti sempurna.
Yang kelak menyerahkan Dia untuk dibunuh, bukanlah para imam kepala dan orang-orang Farisi.
Mereka tidak punya kuasa dan tidak mampu menangkapNya. Tetapi Dia sendirilah yang akan menyerahkan DiriNya karena ketaatan kepada Bapa dan kasihNya kepada semua manusia.
Kristus menyampaikan hal ini kepada para rasul, agar mereka mau mengikuti teladanNya dalam ketaatan dan kasih.
Ketaatan ini juga diserukan nabi Musa kepada bangsanya menjelang mereka menyeberangi sungai untuk masuk ke Tanah Terjanji.
‘Yang diminta dari padaMu oleh Tuhan adalah takut akan akan Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkanNya, mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu’ (Ulangan 10:12).
Lihat juga: Normalisasi Kehidupan dengan Lindungi Kesehatan Jiwa
Lihat juga: Pastor Kopong Ajak “Netizen” Katolik Menjadi Misioner dengan Jiwa Martiria
Di dalam kehidupan sehari-hari, pada kenyataannya kita sering tidak mau mentaati perintah-perintah Allah.
Sebagai wujud kasih, Kristus meminta kita untuk selalu saling mengampuni. Tetapi yang sering kita lakukan, tetap memilih membalas dendam.
Inilah salah satu bentuk ketidak taatan. Kristus memberi teladan ketaatan yang sempurna.
Dia tidak peduli bahwa Dia akan mengalami peristiwa yang sangat tidak adil dan menyakitkan.
Bagi Dia yang terpenting adalah taat melaksanakan rencana Bapa karena semua yang direncanakan Bapa pasti akan berakibat baik.
Setiap laki-laki dewasa orang Yahudi yang berusisa 20 tahun ke atas, selain wajib membayar pajak kepada negara, juga harus membayar pajak untuk pemeliharaan Bait Allah, karena Bait Allah yang sangat megah dan luas tentu perlu biaya perawatan yang mahal.
Besar pajak itu 2 dirham per orang (1 dirham = 1 dinar yang merupakan upah kerja buruh satu hari).
Lihat juga: Upah Mengikuti Kristus
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Ketika Kristus dan para rasulNya sedang di Kapernaum, seorang petugas pemungut pajak mendatangi Petrus untuk menagih pajak itu dari Kristus, karena Dia tinggal di rumah Petrus.
Bait Allah adalah Rumah Allah. Sebagai Putera Allah seharusnya Kristus tidak perlu membayar pajak tersebut karena tidak ada anak yang harus bayar biaya perawatan rumah kepada orang tuanya untuk tinggal di rumah mereka.
Begitu juga dengan orang-orang Yahudi yang dilayakkan Allah menjadi umat pilihanNya.
Mereka juga anak-anak Allah sehingga sebenarnya tidak perlu bayar pajak untuk Bait Allah.
Hal ini berbeda dengan orang dari bangsa-bangsa lain sehingga mereka layak membayar pajak tersebut.
Tetapi Kristus mengerti bahwa Bait Allah memang perlu biaya besar untuk perawatannya dan biaya itu tidak mungkin dapat diperoleh dari pemerintah penjajah Roma.
Karena itu Dia tetap membayar, supaya tidak memberi contoh kepada banyak orang lain untuk ikut tidak membayar.
Lihat juga: Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah
Lihat juga: Kronologis Foto Umat Katolik Misa di Sekolah yang Sempit; Ini Penjelasan Pihak Terkait
Pembayaran pajak ini sebagai bentuk gotong royong untuk memelihara ‘Rumah Bapa’ dan wujud syukur dan cinta kepada Allah, bukan sekedar kewajiban.
Kristus meminta Petrus untuk memancing di danau Galilea dan dari ikan pertama yang dia pancing dia mendapat uang 4 dirham, jumlah yang cukup untuk membayar bea atas nama DiriNya dan Petrus.
Dengan kejadian ini Kristus memperlihatkan kuasaNya atas seluruh alam sentosa sehingga ikan di danaupun dapat Dia perintahkan menuruti kehendakNya.
‘Sebab Tuhan, Allahmu Allah segala allah dan Tuhan atas segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat’ (Ulangan 10:17a).
Segala kekuasaan ada padaNya, tetapi Kristus tidak mau memperlihatkan kekuasaanNya untuk mendapat keistimewaan yamg dapat disalahtafsirkan banyak orang.
Hal Ini juga merupakan teladan bagi kita, karena sering kali karena merasa punya kuasa, kita bukan memberi contoh ketaatan tetapi malahan bangga karena boleh atau berani berbuat tidak taat.
Lihat juga: Kuasa Panggilan Allah
Lihat juga: Berpengharapan dalam Kuasa Roh
Kristus taat kepada Bapa dengan segenap hati dan jiwa ragaNya.
Dengan ketaatan Dia menunjukkan bahwa Dia percaya sepenuhnya kepada Bapa, sehingga apapun yang dikehendaki Bapa, sekalipun harus melewati hal-hal yang sangat sulit dan menyakitkan, tetap akan Dia lakukan dengan hati yang rela.
Kristus juga memberi keteladanan tentang kepedulian untuk kepentingan bersama sebagai bentuk kasih kepada sesama, sekalipun kuasa yang ada padaNya tidak terbatas.
Mari kita renungkan dan tanamkan kedua hal ini dalam hati.
Marilah mentaati hukum-hukum Allah termasuk ketaatan untuk beribadah.
Mari kita juga mentaati hal-hal yang diatur untuk kepentingan bersama seperti ketaatan berlalu lintas dan menjaga kebersihan, sehingga hidup kita yang telah dilayakkan Kristus menjadi anak-anak Allah, dapat menjadi teladan ketaatan di tengah kenaifan dan kerancuan berpikir anak-anak dunia.
Mari kita menjadi terang di tengah kegelapan dan bukan malahan tertarik untuk ikut masuk dalam kegelapan itu.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Kristus Membangun GerejaNya
Lihat juga: Bersama Kristus Mengatasi Badai
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










