Imamat 23:1, 4-11, 15-16, 27, 34b-37
Matius 13:54-58
Shalom,
Setelah mewartakan Injil di banyak tempat, Krtistus kembali ke desa tempat asalnya, Nazaret, bersama dengan para rasulNya. Di situ Dia mengajar orang banyak di sinagoga.
Orang-orang yang mendengar pengajaranNya menjadi takjub karena Dia mengajar dengan kuasa Allah sehingga mampu membuka pikiran mereka tentang kebenaran kehendak Allah yang dinyatakan dalam hukum-hukumNya.
Tetapi di tengah kekaguman, mereka teringat asal usul Yesus.
Mereka menjadi curiga setelah ingat bahwa Yesus bukan dari keluarga ahli Taurat atau para imam.
Dia anak tukang kayu biasa dan keluarga besarnya juga ‘orang-orang biasa’ saja dan masih tinggal bersama mereka.
Atas dasar latar belakang kehidupanNya itu, mereka menolak untuk percaya bahwa Dia seorang Nabi Besar seperti yang dipercaya orang-orang Kapernaum.
Penolakan yang dialami Kristus di Nazaret adalah nubuat akan penolakan oleh pemimpin-pemimpin bangsaNya yang akan Dia alami. Penolakan ini disaksikan oleh para rasul.
Dengan begitu para rasul dapat melihat dan belajar bahwa tidak selamanya pewartaan Injil diterima dengan baik.
Sebentar lagi mereka akan mulai diutus untuk mewartakan Injil.
Mereka harus siap dihadapkan dengan kenyataan penerimaan yang tidak selalu ramah, bahkan penolakan-penolakan keras.
Tetapi apapun yang dihadapi, pewartaan Injil tetap harus terus dilakukan.
Dalam kehidupan saat ini, perbuatan kasih kitapun tidak selalu dimengerti dan dihargai.
Kadang pengorbanan kita malahan dicemoh, dicurigai atau tidak dihargai sama sekali.
Akan tetapi sebagai murid-murid Kristus, kasih dan pengampunan terhadap mereka yang bersalah, tetap harus diwartakan dan dilakukan sesuai dengan yang telah diajarkan Kristus kepada kita.
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Lihat juga: Menjadi Murid yang Sama Seperti Yesus Sang Guru
Melalui nabi Musa, Yahwe menyampaikan hari-hari raya yang secara turun temurun harus diperingati orang-orang Israel (Imamat 23:4-6, 15-16, 27):
-Perayaan Roti tidak beragi yang dimulai dengan Paskah, untuk mengingat bagaimana nenek moyang mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir dengan kuasa Tuhan yang dahsyat.
-Pentakosta, yang dirayakan 50 hari setelah Paskah, untuk mengingat bagaimana Allah menurunkan 10 FirmanNya kepada nabi Musa di atas gunung Sinai. Ke 10 Firman itu menjadi dasar utama kehidupan/kebudayaan Yahudi.
-Hari raya Pondok daun untuk mengenang kehidupan nenek moyang mereka saat ada di padang gurun.
-Selain itu ada juga hari raya Pendamaian, di mana secara khusus mereka memohon ampun atas segala dosa dengan berpuasa. Perayaan ini biasanya dirayakan bersamaan dengan peringatan Pondok Daun.
Yahwe memerintahkan agar bangsa pilihanNya itu memperingati hari-hari raya tersebut, agar mereka selalu ingat sejarah keselamatan yang dialami nenek moyang mereka, setelah kelak mereka hidup di Tanah terjanji.
Dengan mengenang itu, mereka bukan hanya diminta bersyukur atas hal-hal dahsyat yang telah dialami, tetapi juga disadarkan bahwa tanpa Allah, mereka bukan apa-apa karena tidak punya tanah air dan bukan siapa-siapa karena selama 4 abad di Mesir mereka hidup sebagai budak-budak yang sangat direndahkan martabatnya.
Lihat juga: Mengikuti Bimbingan Allah
Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia
Mengingat masa lalu, dapat memberi dampak yang baik sebagai suatu pembelajaran berharga dalam melangkah ke depan tetapi juga dapat membuka kembali luka-luka hati yang lama, sehingga kemarahan dan dendam yang mungkin telah sempat reda dimakan waktu, dapat kembali bernyala.
Kalau kita melihat masa lalu dengan iman, kita dapat melihat bahwa ternyata Tuhan telah banyak menolong dengan kasih dan kuasaNya yang ajaib.
Dengan demikian, iman kepercayaan kita akan bertumbuh.
Hati akan dipenuhi syukur dan damai, serta dapat semakin tegar dalam melangkah ke depan yang penuh ketidakpastian, karena yakin, sama seperti di waktu-waktu yang lalu, di masa yang akan datang pun Tuhan pasti menolong.
Orang-orang Nazaret, ketika mendengar Kristus mengajar dengan begitu mempesona, mula-mula terkagum-kagum tetapi kemudian karena ingat Siapa dan Apa Dia diwaktu yang lalu, mereka menutup diri untuk mau percaya kepada ajaran-ajaranNya.
Segala peristiwa dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berlawanan.
Sebagai murid Kristus, kita harus melihat masa lalu sebagai suatu pembelajaran bahwa ternyata Tuhan selalu bekerja untuk memberi kebaikan kepada kita, sekalipun untuk mencapai itu kita harus melewati hal-hal yang pahit dan berat.
Lihat juga: Konsekuensi Menjadi Murid Kristus
Lihat juga: Komitmen Menjadi Murid Kristus
Kristus mengatakan: ‘Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di kampung halamannya dan di rumahnya’.
Kebaikan-kebaikan, kasih, pertolongan orang-orang yang setiap hari kita jumpai, biasanya dengan cepat dilupakan atau dianggap memang sudah seharusnya begitu.
Tetapi kalau orang lain melakukan sedikit saja kebaikan atau beberapa kali saja menolong, kita akan mengingat-ingat dan terus memuji-muji dia.
Meskipun begitu, seorang nabi sejati bekerja tidak untuk dihormati.
Dia melakukan itu untuk menghormati Allah dan bersyukur kepadaNya yang sangat amat baik.
Karena itu, sebagai murid-murid Kristus, marilah kita juga terus berbuat baik, berbuat banyak kasih, tanpa harus mempedulikan sikap penerimaan orang atau upah apa yang akan diterima dari Tuhan.
Ingatlah akan masa-masa lalu, akan segala pertolongan Tuhan, sehingga kita rela dan gembira melakukan perbuatan kasih, sebagai wujud nyata syukur kepadaNya.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Tuhan Setia Mengirim Pertolongan
Lihat juga: Bersyukur dan Berbagi
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












