Imamat 25:1, 8-17
Matius 14:1-12
Shalom,
Pengajaran-pengajaran yang disertai mujizat-mujizat yang dilakukan Kristus di Kapernaum, membuat Kristus begitu populer sehingga di mana pun Dia berada banyak orang mengerumuniNya.
Hal ini terdengar oleh Herodes Antipas, raja di daerah Galilea, di bawah pemerintahan kekaisaran Roma.
Herodes mendengar seruan-seruan pertobatan yang disampaikan Kristus sama seperti yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis, sehingga dia yakin Kristus adalah Yohanes yang telah bangkit.
Herodes sebenarnya mengagumi Yohanes dan mengakui bahwa dia orang yang kudus, sehingga di dalam hatinya ada rasa menyesal telah membunuh nabi itu.
Yohanes Pembaptis dipakai Allah untuk mempertobatkan banyak orang.
Dia bukan hanya berseru-seru tetapi juga memberi teladan untuk melakukan kebenaran Firman Allah.
Ketika dia tahu Herodes telah berbuat hal yang sangat keji yaitu merebut istri saudaranya sendiri untuk dijadikan istrinya, Yohanes dihadapkan pada pilihan: apakah mau diam saja demi keselamatan dirinya, atau tetap dengan tegas menyuarakan kebenaran.
Allah pasti sangat sedih melihat kekejian raja Israel itu.
Dalam situasi ini, Yohanes memilih menyuarakan kebenaran Allah.
Dengan tegas dia mengatakan kepada Herodes: ‘Tidak halal engkau memilih Herodias’.
Tentu teguran ini membuat Herodes marah. Dia lalu membungkam mulut Yohanes dengan memenjarakannya.
Tetapi Herodias yang mendengar itu, sangat kawatir suaminya lama-lama terpengaruh oleh Yohanes yang memang dikaguminya.
Karena itu dia mencari-cari kesempatan untuk membunuh Yohanes.
Lihat juga: Yohanes Pembaptis
Lihat juga: Viral Hoaks! Paus Yohanes Paulus II Pindah Agama
Ketika merayakan ulang tahunnya, Herodes mengundang banyak pejabat-pejabat negara dan kenalannya.
Dia sangat senang melihat tarian Salome, anak tirinya dari Herodias.
Dalam kemabukan dia mengucapkan janji yang sangat bodoh bahwa dia akan memberikan kepada anaknya itu apapun yang dia minta.
Salome lalu dimanfaatkan ibunya untuk meminta kepala Yohanes.
Suatu permintaan yang sama sekali tidak disangka oleh Herodes.
Tetapi dia telah terlanjur berjanji dan janji itu diucapkan di depan banyak pejabat.
Herodes dihadapkan pada pilihan, mau mempertahankan Yohanes yang dia yakini sebagai nabi Allah atau demi menjaga wibawanya tetap konsisten dengan janji yang dia ucapkan.
Dalam situasi ini Herodes memilihi lebih mementingkan menjaga wibawa dirinya dari pada takut dan taat kepada Allah yang telah mengutus nabiNya.
Lihat juga: Jangan Takut untuk Diutus
Lihat juga: Jangan Pernah Putus Asa
Melalui nabi Musa, Yahwe berfirman agar setiap 50 tahun diperingati sebagai tahun Yobel, sebagai puncak dari 7 tahun Sabat dimana satu tahun Sabat adalah 7 tahun.
Jadi setelah melalui siklus 7×7 tahun, tahun berikutnya merupakan puncaknya yang dirayakan selama setahun.
Pada intinya, tahun Yobel adalah tahun pembebasan dan pemurnian.
Lahan-lahan pertanian tidak boleh ditanami, dibebaskan dari segala bentuk garapan agar dapat memulihkan kesuburannya.
Budak-budak dibebaskan sebagai simbol orang mau melepaskan diri dari perbudakan nafsu kedagingan, sehingga dapat semakin kudus di hadapan Tuhan, semakin mampu dan mau mendengar bimbinganNya dan melakukannya.
Allah ingin agar orang tidak hidup dalam rutinitas dan hanya terfokus mengejar harta dan kekuasaan, sehingga cepat atau lambat menjadikan harta dan kekuasaan sebagai berhala yang disembah.
Tuhan berfirman dengan tegas: ‘Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah Tuhan Allahmu’ (Imamat 25:17).
Lihat juga: Melakukan yang Baik di Hadapan Allah
Lihat juga: Berpegang Teguh pada Janji Allah
Di dalam kehidupan, kita akan selalu menghadapi saat di mana kita harus memilih. Setiap pilihan pasti ada akibat/konsekwensinya.
Allah mau menyadarkan kita agar jangan demi kepentingan atau kesenangan diri sendiri kita tega merugikan orang lain, khususnya mereka yang lebih lemah.
Tetapi iblis selalu menggoda dengan menunjukkan kesenangan-kesenangan dan kemudahan-kemudahan yang dapat kita peroleh, meskipun yang kita lakukan merugikan atau menyakitkan orang lain.
Yohanes yang hidup sebagai pertapa, hati dan pikirannya jernih dan dimampukan mengalahkan nafsu-nafsu kedagingan sehingga dalam segala situasi dia memilih taat pada kehendak Allah.
Herodes yang terbiasa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenanagan diri, dengan mudah diperalat iblis untuk mengabaikan Allah demi kepentingan diri sendiri.
Yohanes dibunuh dengan kejam tetapi dengan kematiannya itu dia mendapatkan kebahagiaan hidup yang kekal bersama Kristus dan orang-orang kudusNya.
Herodes merasa dirinya hebat karena dengan kuasanya dia dapat membunuh seorang tokoh yang sangat dikagumi banyak orang.
Tetapi kegelisahan selalu ada didalam dirinya dan dia akan mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan untuk selamanya, pada saat kematian menjemputnya.
Marilah kita terus membekali diri dengan bertekun dalam doa, merenungkan Firman dan melatih diri mematahkan nafsu-nafsu kedagingan, agar pada saat harus memilih, di manapun dan kapapun juga, kita dapat dengan tegas memilih untuk tetap taat melakukan kehendak Allah.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Melakukan Kehendak Allah yang Sesungguhnya
Lihat juga: Kuasa Panggilan Allah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










