Roma 8:31b-39
Lukas 13:31-35
Shalom,
Karena melihat semakin banyak orang yang percaya kepada Kristus, orang-orang Farisi berusaha mengusir Dia dari daerah Galilea dengan menakut-nakuti Dia bahwa Herodes, penguasa daerah itu akan membunuhNya.
Kristus memang akan meninggalkan Galilea untuk menuju ke Yerusalem, karena seperti yang dikehendaki Allah, di kota itulah Dia akan menyerahkan Diri untuk menebus dosa dunia.
Tetapi Dia meninggalkan Galilea bukan karena takut dibunuh Herodes.
Tidak ada kuasa yang dapat membunuhNya karena Dia adalah Putera Allah.
Dia telah membuktikan kuasaNya itu dengan mengusir setan dan menyembuhkan segala penyakit.
Bagi Dia, Herodes tidak ubahnya hanya seperti seekor rubah, hewan yang menjadi lambang kelicikan dan kekejaman.
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Kristus meninggalkan Galilea bukan untuk menyelamatkan Diri dari kematian, karena Dia justru segera akan masuk ke Yerusalem, di kota di mana banyak nabi-nabi utusan Allah dibunuh.
Dia tahu dikota itu Dia juga akan dibunuh.
Dalam hal inilah Kristus mengeluh dan malah menangisi kota Yerusalem.
Di kota itu dibangun Bait Allah, yang menjadi tanda kehadiran Allah dan tempat di mana Allah memberi kesempatan banyak orang menyembahNya.
Tetapi kota itu dikuasai oleh para pemimpin rohani yang karena kekerasan hati dan kesombongan rohani, membunuhi nabi-nabi Allah dan sesaat lagi malahan akan membunuh Putera Allah.
Karena kesesatan itu, Allah tidak lagi berkenan atas kota itu dan Kristus bernubuat, kota itu akan dihancurluluhkan orang-orang kafir.
‘Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan (Allah)’.
Yerusalem baru akan kembali mengalami kemegahannya kalau kelak penduduknya sudah bertobat dan mau mengakui bahwa Yesus adalah ‘Dia yang datang dalam nama Tuhan’.
Lihat juga: Bertobat dengan Berbuat Kasih
Lihat juga: Memberitakan Injil ke Segala Makhluk
Dalam melaksanakan tugas untuk mewartakan Injil ke bangsa-bangsa bukan Yahudi, Paulus menghadapi banyak sekali halangan.
Berkali-kali dia difitnah, ditangkap, dipenjara dan dirajam batu.
Tetapi seperti Kristus yang mengutusnya tidak gentar masuk ke kota Yerusalem, Paulus juga tidak gentar menghadapi berbagai tantangan dan siksaan itu karena dia sangat yakin: ‘Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita?’ (Roma 8:31b).
Tantangan, godaan dan kesulitan pasti akan dihadapi saat kita mau melakukan kehendak Allah, tetapi semua itu tidak pernah lebih besar dari kasih Allah kepada kita yang telah dinyatakan dengan kerelaanNya menyerahkan PuteraNya sendiri untuk menyelamatkan kita.
Karena itu dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup apapun, Paulus meyakinkan kita bahwa di dalam kasih, Allah pasti hanya memberikan yang terbaik bagi semua orang yang mau tetap percaya, terlepas kita memahaminya atau tidak.
‘Sebab aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat mau pun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 8:38-39).
Lihat juga: Taat karena Kasih
Lihat juga: Menghayati Makna Pembaptisan
Melekat dengan baptisan yang kita terima, kita semua menerima tugas perutusan dari Kristus, untuk mewartakan Injil dan menjadi garam serta terang dunia di mana pun kita berada.
Ada banyak tantangan dan godaan yang harus dihadapi.
Tidak mudah untuk tetap hidup jujur di tengah dunia yang materialistis, tetap mau lebih berbelas kasih dan peduli kepada orang yang menderita, di tengah masyarakat yang semakin individualis dan egoist.
Meskipun begitu, janganlah takut.
Paulus menjadi sangat berani dan bersemangat mewartakan Injil seperti yang diperintahkan Kristus, karena dia mengalami sendiri kasih Allah yang mengampuni ketersesatannya di masa muda dan malahan menganugerahkannya karunia-karunia Roh yang dahsyat untuk memudahkannya mewartakan injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi.
Setiap kita juga pasti pernah mengalami pengampunan, kasih dan kuasa Allah secara pribadi.
Karena itu mari kita ikuti teladan Santo Paulus.
Berjuanglah untuk menjadi pelaku-pelaku Firman yang teguh, sehingga dunia dapat mengalami dan melihat kasih dan kuasa Allah melalui diri kita.
Jangan biarkan apapun atau siapapun memisahkan kita dari kasih Kristus, karena kasihNya itu yang menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi segala penindasan atau kesesakan, penganiayaan atau kelaparan (jasmani dan rohani) atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang (Roma 8:35).
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Waspadalah Kebutaan Rohani
Lihat juga: Kasih yang Menyelamatkan
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










