Taat karena Kasih

Roma 8:12-17
Lukas 13:10-17

Shalom,

Pada suatu hari Sabat, Kristus mengajar di rumah ibadat. Di situ ada seorang wanita yang sudah 18 tahun punggungnya bungkuk sehingga tidak bisa berdiri tegak lagi.

Sudah pasti wanita itu telah berusaha untuk menyembuhkan sakit penyakitnya, tetapi ternyata segala usahanya tidak pernah berhasil.

Karena tidak diketahui penyebabnya, orang percaya bahwa sakit itu disebabkan karena kerasukan roh jahat.

Ketika Kristus melihat dia, Ia mengatakan kepada ibu itu: ‘Hai ibu, penyakitmu telah sembuh’.

Lalu Ia meletakkan tanganNya pada wanita itu, dan saat itu juga ibu itu sembuh.

Wanita itu sangat bersyukur dan lalu memuliakan Allah.

Semua yang hadir di rumah ibadat itupun tercengang-cengang melihat adanya kuasa yang begitu dahsyat yang dapat begitu mudah mengusir roh jahat.

Merekapun ikut bergembira dan memuji kebesaran Tuhan. Tetapi kepala rumah ibadat justru merasa gusar.

Dia melihat Kristus secara terang-terangan telah melanggar larangan untuk beraktivitas di hari Sabat dan dia sangat tidak senang itu terjadi di tempatnya.

Dia tidak berani menegur Kristus yang punya kuasa seperti itu, tetapi dia menegur orang-orang banyak yang datang dan membawa wanita itu kehadapan Kristus.

Lihat juga: Melawan Kemunafikan

Lihat juga: Kristus Melemparkan Api

Kristus menjawab kemarahan orang itu dengan mengatakan: ‘Hai orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini yang sudah 18 tahun diikat oleh iblis harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia keturunan Abraham?’

Pada hari Sabat orang dilarang bekerja, karena hari itu dikhususkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan untuk beristirahat.

Tetapi Kristus menunjukkan bahwa dihari Sabat mereka tetap bekerja melepaskan ternak mereka dan memberi minum. Itu jelas melanggar larangan bekerja.

Tetapi hal ini dikecualikan karena kalau tidak, hewan-hewan itu bisa sakit. Jadi selalu ada pengecualian untuk hal-hal yang dianggap penting dan tidak bisa dihindari.

Wanita itu sudah 18 tahun sakit. Kalau untuk hewan yang dikawatirkan bisa sakit (padahal belum tentu) dapat dibuat kekecualian, apalagi untuk wanita yang sudah sakit sekian lama, kenapa tidak boleh diberi kekecualian?

Melakukan pekerjaan di hari Sabat dikhawatirkan membuat orang tidak punya waktu lagi menghormati Allah.

Pada kenyataannta mujizat penyembuhan yang dilakukan Kristus malah membuat banyak orang memuji-muji Tuhan.

Lihat juga: Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

Lihat juga: Hari Sabat Diciptakan untuk Kita

Hari Sabat adalah hari untuk memuliakan Tuhan.

Mekakukan perbuatan kasih dengan tulus kepada orang yang sangat membutuhkan bantuan juga merupakan wujud syukur dan memuliakan Tuhan yang telah memampukan kita untuk menolong.

Kristus tidak bermaksud membatalkan hukum kekudusan hari Sabat, tetapi Dia ingin meluruskan pemahamannya sehingga tidak terpaku semata-mata pada apa yang tertulis.

Berbuat kasih adalah melakukan kehendak Tuhan. Karena itu harus dikakukan kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Kepala rumah ibadat itu mentaati segala hukum Taurat, lebih karena takut terkena hukuman atau kutukan Allah.

Kristus mau mengajarkan bahwa Allah itu Maha Pengasih.

Janganlah memiliki gambaran bahwa Allah itu seperti Hakim yang siap menghukum setiap pelanggaran dengan tegas dan keras tanpa peduli alasan apapun.

Lihat juga: Jangan Menghakimi

Santo Paulus mengatakan:
‘Kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita (dilayakkan ) berseru: “ya Abba, ya Bapa” (Roma 8:15).

Seorang anak yang baik, akan berusaha taat kepada perintah orang tuanya bukan karena takut dihukum tetapi karena takut mengecewakan orang tua yang selalu mengasihinya.

Dasarnya adalah kasih bukan ketakutan. Dengan begitu orang dapat melakukannya dengan rela dan gembira.

Di dalam kasih kita tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu sesama sehingga bukan hanya melakukannya sekedar agat tidak dihukum.

Kristus telah melayakkan kita untuk menjadi anak-anak Allah.

Dia rela memberikan RohNya ke dalam diri kita, sehingga dengan begitu kita bukan hanya tidak melakukan apa yang dilarang tetapi tahu apa yang perlu dilakukan, sesuai dengan ajaran-ajaran kasihNya.

Lihat juga: Keberanian Berkorban untuk Mendapat Harta Terpendam

Kristus menunjukkan dengan jelas bahwa Dia tidak pernah ragu untuk berbelas kasih kepada siapapun, kapanpun dan di manapun juga.

Dia mengajar dan memberi teladan di hari Sabat, agar semua orang dapat lebih mengenal Allah, memahami kasihNya dan tergerak membalas kasih itu dengan ketaatan.

Mari kita ikuti keteladanan Kristus itu.

Jagalah kata-kata dan perbuatan kita, agar jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk mengenal Allah melalui Kristus dan mengenal Kristus melalui diri kita, murid-muridNya.

Biarkanlah Roh Allah bekerja dengan bebas menguasai hati dan pikiran kita sehingga kita dapat sungguh-sungguh mewujudkan diri sebagai anak-anak Allah.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Menjadi Hamba yang Setia

Lihat juga: Dibaptis: Diangkat Menjadi Anak Allah


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading