1 Yohanes 4:7-16
Yohanes 11:19-27
Shalom,
Kristus datang lagi ke Betania setelah diberitahu Marta dan Maria bahwa Lazarus, saudara kandung mereka sedang sakit kritis.
Saat itu, Kristus sedang berada di seberang sungai Yordan, tempat yang dulu dipakai Yohanes membaptis.
Setelah diberi kabar, Kristus tetap tinggal di situ dua hari lagi sebelum balik ke Betania (Yohanes 11:6).
Ketika Dia sampai di Betania, Lazarus sudah 4 hari dimakamkan.
Menurut kepercayaan orang Yahudi, roh orang yang telah meninggal, masih selalu ada di dekat tubuhnya sampai hari ke 3.
Artinya dalam 3 hari itu, bisa saja orang itu hidup kembali.
Hal ini sebenarnya karena kemungkinan orang tersebut ‘hanya’ mati suri.
Karena Kristus datang pada hari keempat, saat Marta menyambut kedatanganNya, di hatinya ada rasa sesal, kenapa Kristus datang begitu terlambat.
Kalau Kristus segera berangkat ke Betania saat menerima kabar, Dia bisa sampai di hari kedua, sehingga masih memungkinkan Dia menghidupkan Lazarus.
Karena itu Marta mengatakan: ‘Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepadaMu segala sesuatu yang Engkau minta kepadaNya’.
Marta tahu bahwa saudaranya memang benar-benar telah mati, tetapi di hatinya masih ada sedikit harapan, Kristus mungkin dapat menghidupkan Lazarus kembali.
Lihat juga: Mengenakan Kuk Kristus
Lihat juga: Konsekuensi Menjadi Murid Kristus
Sikap Marta yang kecewa kepada Kristus karena ‘keterlambatanNya’ juga sering kita rasakan pada saat kehilangan orang yang kita kasihi, pada waktu harus menghadapi suatu musibah atau kegagalan yang menyakitkan.
Tetapi Allah tidak pernah terlambat. Dia tahu apa yang harus dilakukan dan kapan waktu terbaik melakukannya.
Kematian Lazarus akan digunakan Kristus untuk menyatakan keagunganNya supaya banyak orang percaya bahwa Dia sungguh Mesias yang telah dinubuatkan para nabi sejak berabad-abad sebelumnya.
‘Lazarus sudah mati, tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu sebab hal itu lebih baik bagimu supaya kamu dapat belajar percaya’ (Yohanes 11:14).
Menanggapi kekecewaan Marta, Kristus mengatakan: ‘Akulah Kebangkitan dan Hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?’
Orang yang percaya kepada Kristus akan mengikuti teladan dan ajaran-ajaranNya yang didasarkan atas kasih.
Dengan begitu, saat kematian di dunia terjadi, dia akan dilayakkan mengikuti kebangkitan Kristus untuk tinggal bersama Dia di Rumah Bapa, di alam keabadian.
Rasul Yohanes menyampaikan pesan Allah: ‘Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8).
Mengasihi diwujudkan dengan memberi (to love is to give): memberi perhatian, pertolongan, pengampunan dan kerelaan berkorban demi kebahagiaan dan keselamatan orang yang dikasihi.
Lihat juga: I love You Jesus and All (Sekolah Minggu 1 Menit)
Lihat juga: Pendidikan Bernafas Eros
Kristus telah memberi teladan yang sempurna tentang kasih, dengan merelakan nyawaNya untuk menyelamatkan kita yang sering tidak mau percaya kepadaNya.
KasihNya yang begitu dalam bukan hanya terjadi di masa lalu.
Setiap hari Kristus menganugerahkan kasihNya di dalam kehidupan sehari-hari kita.
Sayangnya, seringkali kita terlalu sibuk untuk menyadari dan mensyukurinya.
Semua dianggap sebagai sesuatu yang memang seharusnya terjadi.
Agar kita dapat terus membangun kepercayaan kepada Allah, setiap malam kita perlu mengingat bagaimana Allah telah menyatakan kasihNya kepada kita pada hari yang akan segera berlalu.
Renungkan juga apakah kita telah membalas kasihNya itu dengan ketaatan kepada ajaran-ajaranNya.
Setelah Kristus menjelaskan kepada Marta arti kehidupan dan kematian yang sesungguhnya, Dia bertanya kepada Marta: ‘Percayakah engkau akan hal ini?’.
Pertanyaan Kristus ini dapat menjadi refleksi iman bagi kita saat ini: Percayakah kita bahwa hanya Kristus yang dapat memberi kehidupan kekal?
Untuk membuktikan kepercayaan itu, kita harus mengasihi Allah dengan cara mengasihi sesama seperti Kristus mengasihi kita.
Kita tidak pernah tahu, kapan Allah akan memanggil kita menghadapNya, tetapi kita dianugerahi Allah pengetahuan dan iman bagaimana mempersiapkan diri agar pada saat itu terjadi, kita boleh dilayakkan beralih kekehidupan kekal yang berbahagia bersama Kristus dan orang-orang kudusNya.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia
Lihat juga: Kuasa Panggilan Allah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










