Kasih dan Kerendahan Hati yang Menyelamatkan

Yesaya 4:2-6
Matius 8:5-11

Shalom,

Di Kapernaum, seorang pewira tentara Roma menemui Kristus untuk memohon agar Dia berkenan menyembuhkan hambanya (seorang Yahudi) yang sedang sakit parah.

Sebagai perwira di Kapernaum, dia tentu telah mendengar bagaimana Kristus menyampaikan pengajaran-pengajaran kasihNya dan menunjukkan kuasa Ilahi Nya di kota itu, dengan menyembuhkan banyak orang sakit.

Hal ini membuat dia sangat kagum dan hormat kepada Kristus sehingga ketika dia ingin meminta pertolonganNya, dia tergerak menemuiNya sendiri (tidak menyuruh anak buahnya).

Kristus merasa tertarik melihat kerendahan hati perwira ini dan lebih tertarik lagi setelah mendengar permohonannya.

Dia ternyata datang bukan untuk kepentingan pribadi arau keluarganya, tetapi untuk hambanya yang orang Yahudi yang menderita kelumpuhan dan sangat menderita.

Memahami penderitaan orang lain menunjukkan kelembutan hatinya, padahal sebagai tentara, karena pengalaman dalam berbagai pertempuran yang kejam, biasanya membuat hati orang menjadi keras.

Lihat juga: Sikap Hati dalam Berdoa

Lihat juga: Wartakanlah Injil dengan Kasih

Kerendahan hati dan kasih tanpa peduli dengan perbedaan bangsa dan kedudukan sosial dari perwira ini sebenarnya sudah cukup membuat Kristus mau mengabulkan permintaannya.

Tetapi lebih dari itu semua, ternyata perwira ini menunjukkan imannya yang mendalam terhadap Kristus.

Dia percaya penuh bahwa Kristus adalah Allah yang berkuasa atas alam sentosa, sehingga apapun yang diucapkanNya, pasti akan terjadi.

Dia membandingkan wewenang seorang komandan dalam ketentaraan dimana perintahnya harus dituruti oleh anak buahnya.

Begitu juga dia percaya Kristus punya wewenang memerintahkan apa saja dan kepada siapa saja, termasuk mengusir segala penyakit dari seseorang.

Kristus kagum dengan iman perwira ini karena sampai saat itu, murid-muridNya saja belum punya pemahaman yang benar bahwa Dia sungguh Putera Allah.

Kebanyakan orang Yahudi mengagumi Dia sebatas sebagai salah satu nabi besar atau malahan sebagai “pembuat mujizat” saja.

Kristus lalu menyembuhkan kelumpuhan hamba perwira itu dari jauh, tanpa melihat dan menyentuhnya, karena perwira ini sadar bahwa bagi orang Yahudi dia adalah orang kafir, sehingga tidak boleh Kristus yang seorang Yahudi masuk ke dalam rumahnya.

Kasih, kelembutan hati dan iman kepercayaan perwira itu telah menyelamatkan hambanya dari kelumpuhan.

Lihat juga: Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman

Lihat juga: Konsekuensi sebagai Murid Kristus

Di masa Advent, saat secara khusus kita bersama-sama diajak mempersiapkan diri untuk kedatangan Kristus yang kedua kali, kita perlu menyadari betapa banyak dosa dan kelalaian yang telah kita lakukan, yang membuat iman kita kadang seperti lumpuh saat menghadapi tantangan dan godaan hidup.

Marilah kita bersujud dan berdoa memohon Kristus untuk membersihkan noda-noda dosa kita.

Kita imani dan amini nubuat nabi Yesaya, bahwa kalau Tuhan berkenan membersihkan kekotoran hati kita, sebagai orang-orang yang percaya dan berharap kepada Kristus seperti puteri Sion yang percaya dan berharap akan kedatangan mempelai pria, maka kita akan semakin dapat melihat perlindungan Allah dan petunjuk-petunjukNya untuk tetap berjalan di Jalan Allah, sekalipun harus melewati padang gurun kehidupan (Yesaya 4:4-5).

Saat melalui padang gurun untuk menuju Tanah Terjanji, bani Israel hanya berjalan dengan mengikuti gerakan awan yang melindungi mereka dari sengatan matahari dan dengan mengandalkan terang dari tiang api di saat malam.

Hanya dengan begitu mereka tidak tersesat dan dapat mencapai Tanah Terjanji (Keluaran 13:21).

Iman, kerendahan hati dan kelembutan hati perwira Roma di Kapernaum bukan hanya membuat imannya semakin teguh tetapi juga memyelamatkan hambanya dari kelumpuhan, ketika Kristus menujukkan kuasa IlahiNya dengan mujizat penyembuhan dari jarak jauh.

Marilah kita teladani iman perwira ini. Dengan mau memberi pengampunan, perhatian dan pertolongan kepada sebanyak mungkin orang yang kita jumpai, kita mau mewujudkan pertobatan dan berjaga-jaga agar pada saat Kristus datang kedua kalinya, kita boleh dilayakkan masuk ke Rumah Bapa, seperti yang telah dijanjikan Kristus.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

Lihat juga: Biarawati Asal Ambon Maknai Ziarah ke Rumah Allah Bapa Saat Jalan Sama Biksu Thudong dari Jakarta ke Candi Borobudur


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Mengabaikan Kebaikan Orang Lain Berarti Menolak Berkat Tuhan

    Malam ini, hari Rabu, 14 Januari 2026, saya duduk di depan laptop milik adik saya untuk mengetik refleksi yang telah direnungkan sepanjang jalan arah pulang kerja dari Jakarta menuju ke

    Wartakanlah Injil dengan Kasih

    1 Korintus 9:16-19, 22-23 Markus 16:15-20 Shalom, Sebelum Kristus kembali ke surga untuk bersatu dengan BapaNya, Dia memerintah kan semua muridNya untuk mewartakan Injil: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Pendidikan Bernafas Eros

    Pendidikan Bernafas Eros

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading