Malam ini, hari Rabu, 14 Januari 2026, saya duduk di depan laptop milik adik saya untuk mengetik refleksi yang telah direnungkan sepanjang jalan arah pulang kerja dari Jakarta menuju ke rumah di Bekasi Utara.
Saya menyadari sejak pagi di hari yang ke-14 pada bulan ini, ternyata saya telah banyak mengabaikan kebaikan orang lain dan menolak berkat Tuhan melalui orang-orang yang dihadirkan Tuhan dalam berbagai peristiwa dan pengalaman hari ini.
Pertama, menolak orderan online awal pagi hari yang dari arah Kelapa Gading ke Monas Jakarta. Saya sadar arahnya agak ribet berputar mengambil barang di titik penjemputan. Selain itu tujuannya juga pada arah jalannya berputar kejauhan sedangkan jam masuk kerja kantor sudah mepet waktunya.
Kedua, menolak tawaran rekan kerja saya yang pada pagi hari itu mau membagikan bekal sarapannya.
“Mas Melki ini ada rebusan, mau nggak?” kira-kira begitu kata rekan saya yang duduk di samping meja kerja saya.
Lihat juga: Dari Arti WFH Menjadi Memberitakan Kerajaan Allah
Lihat juga: RIP Om Adri, Sang Baret Merah Sejati! Nanti Kamu Jadi Tentara ya!
Memang, saya tidak terlalu memperhatikan apa yang ditawarkan rekan kerja saya itu karena saya sedang fokus berkotak-katik di depan layar komputer.
Beberapa menit kemudian saya tersadar dalam lamunan di depan layar komputer. Hati kecil saya berkata bahwa saya telah mengabaikan niat baik dari rekan kerja saya dan menolak rahmat berkat Tuhan yang hendak tercurahkan bagi saya pagi itu.
“Koq saya jadi menghambat niat baik orang lain ya pagi-pagi?” kira-kira demikian kata hati saya kala itu.
Saya memang menolak tawaran rekan kerja saya saat itu dengan alasan dikarenakan telah makan camilan combro dalam perjalanan menuju ke kantor.
Pagi itu saya sadar, bahwa ternyata saya telah menolak rezeki di pagi hari sekaligus juga menolak kebaikan dan berkat Tuhan yang hadir melalui rekan kerja saya yang berniat baik menawarkan camilan sarapannya.
Saya pun kemudian menghampiri rekan saya yang telah membawa makanan ringan rebusan ubi dan singkongnya. Saya merasa tidak enak hati akhirnya mengambil juga sebagian potongan singkong rebusnya, lalu memakannya.
Lihat juga: Rahmat Allah via Uang Kertas dari Celengan Anak
Lihat juga: RIP Mami Ice, WKRI Sejati Perangkai Salib Bunga
Pada jam istirahat siang saya juga sempat mau menolak rezeki dari penjual makanan kantin yang berbaik hati mau memberikan sebagian kecil daging kerang jualannya kepada saya. Namun saat itu saya tidak jadi menolaknya yang kemudian menerimanya pada porsi menu makan siang saya dengan tambahan lauknya itu.
Siang telah berlalu hingga menjelang sore hari. Untuk ketiga kalinya saya menolak berkat Tuhan yang mau memberikan rezeki melalui orderan aplikasi online.
Sore itu, saya sudah menuju ke titik penjemputan di daerah Cideng Timur, Jakarta. Namun setibanya di sebuah rukan (rumah kantor) saya baru diberitahukan bahwa paket yang hendak diantarkan ke Kelapa Gading itu ada dua kardus dengan total seberat 45 kilogram.
Saya sempat mempertimbangkan antara mau menerimanya atau menolaknya tetapi karena paketnya itu melebihi ketentuan yang berlaku di aplikasi dan selain itu tidak ada kesepakatan lain untuk biaya tambahan atau tips lebih maka akhirnya saya meninggalkan rukannya itu tanpa membawa paketnya.
Kemudian menjelang magrib, saya sempat mengisi bensin motor, lalu membeli kopi segelas plastik kecil dan siomay sebungkus seraya menunggu orderan lain yang searah pulang ke Bekasi.
Lihat juga: Kebaikan Tuhan via Korek Gas
Lihat juga: RIP Eyang Romo Subroto SJ; Sang Moderator Humoris dan Pendebatku
Sekitar pukul 7 malam, untuk keempat kalinya saya menolak kebaikan dan berkat Tuhan yang hadir melalui seorang pria paruh baya yang mau memesan pengantaran penumpang secara offline atau tanpa aplikasi online.
Jadi saat saya melipir di sekitar Tugu Tani untuk membeli roti cokelat di gerobakan sepeda. Lalu tiba-tiba, seorang bapak menghampiri saya dengan berkata:
“Pak, Ojol ya? Bisa antar ke Kemayoran nggak, tapi tidak pakai aplikasi??” kira-kira demikian yang disampaikan bapak itu yang menjelaskan posisi tempat tujuan pengantaran dengan tangannya.
Tetapi saya ragu memberikan kepastian untuk mengiyakan permintaannya. Dalam hati saya mau mengantarkannya dengan ikhlas, namun di sisi lain saya curiga dengan situasi di Jakarta yang nanti bisa-bisa modusnya justru saya yang dihiptonis lagi.
Tapi akhirnya saya menjawab: “enggak pak, maaf ya” sekaligus menolaknya untuk kesekian kalinya.
“iya gapapa, pak,” balasan bapak itu yang kemudian saya tinggalkan pergi mengendarai motor ke arah Pasar Senen.

Tidak hanya sejumlah peristiwa penolakan di atas saja yang telah saya tolak dari pagi hari tetapi bahkan 400-an lebih orderan yang masuk pada akun aplikasi online saya tolak dan terabaikan begitu saja hingga malam hari.
Dari ratusan lebih itu, alasan utamanya saya tolak karena tidak mendapat orderan yang searah jalan pulang ke Bekasi dan kondisi cuaca saat itu gerimis hujan yang disertai jalanan macet di sekitaran Jakarta Pusat.
Akhirnya saat refleksi ini dibuat untuk dipublikasikan, saya sempat di-chat WhatsApp istri saya yang meminta saya untuk berdoa semoga besok ada rezeki dari Tuhan.
[14/1/2026, 22.05] Mama Nuela Cesco: Berdoalah
Besok mungkin ada rejeki Tuhan untuk mu
Saudara-saudari terkasih,
Dari secuil kisah nyata di atas, saya memaknai segala pengalaman hari ini sebagai ungkapan tanda-tanda ilahi yang luar biasa bahwa Tuhan masih hadir di dalam kehidupan saya ini dengan begitu nyata dan dekat sekali.
Dia menyatakan kebaikan-kebaikan dan berkat-Nya yang ditawarkan kepada pribadi saya melalui orang lain.
Hanya saja saya begitu egois, angkuh, dan tidak peduli sama sekali selama peristiwa berlangsung atau pada saat semua pengalaman itu terjadi. Namun baru disadari ketika saya merefleksikannya dan memaknai cinta kasih Tuhan ini.
Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma ini menguatkan saya kembali akan kehadiran Allah dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28
Kutipan ayat dari Surat Rasul Paulus itu meneguhkan saya kembali bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu, pada segala hal dan apa saja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya.
Lihat juga: Yesus Makan Ikan Bakar dan Roti Panggang, Bangkit!
Lihat juga: Kronologis Foto Umat Katolik Misa di Sekolah yang Sempit; Ini Penjelasan Pihak Terkait
Terkait ini semua, saya juga memetik beberapa buah hikmat dari semua peristiwa yang dialami hari ini.
Satu, ternyata kuasa Tuhan begitu nyata dan hadir menawarkan kebaikan-kebaikan, cinta kasih dan berkat-Nya di dalam kehidupan kita; mengabaikan kebaikan orang lain berarti sama saja kita menolak berkat dari Tuhan.
Dua, Tuhan hadir juga dalam setiap peristiwa penolakan-penolakan saya yang ternyata saya sangat egois, sombong, dan tidak peduli pada rahmat-Nya yang dinyatakan dalam hidup ini.
Tiga, Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk merefleksikan dan memaknainya, serta membagikan buah-buah refleksi ini kepada anda saat ini.
Manfaatkanlah secuil refleksi ini untuk menjadi cerminan pelajaran bagi anda sekalian sehingga kita sungguh menyadari kebaikan-kebaikan orang lain dan berkat-berkat dari Tuhan di dalam kehidupan ini.
Semoga kita semua masih diberikan kesempatan untuk mensyukuri rahmat Tuhan dalam segala kebaikan, cinta kasih, dan berkat-Nya melalui orang-orang di sekitar kita.
Tuhan memberkati kita semua.
Salam Mecin
“Mendengar dengan Cinta”
Lihat juga: Doa Mulia Si Tukang Parkir
Lihat juga: Tuhan Memberkati Kita Melalui Orang Lain
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










