2 Makabe 12:43-46 (Deuterokanonika)
1 Korintus 15:20-24a, 25-28
Yohanes 6:37-40
Shalom,
Di Kapernaum, di depan banyak orang, Kristus mengatakan bahwa sebagai Putera Allah, Dia turun dari Sorga, karena kehendak Allah Bapa yang ingin agar semua orang pada saatnya dapat masuk ke dalam RumahNya.
‘Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir jaman’.
Apa yang dikatakan Kristus ini menegaskan bahwa hidup kita tidak berakhir dengan kematian di dunia ini.
Kematian hanya suatu peralihan dari kehidupan yang fana menjadi kehidupan yang kekal.
Persoalannya adalah, apakah didalam kekekalan itu kita nanti dilayakkan memperoleh kebahagiaan atau malahan kesengsaraan abadi?
Apa yang akan terjadi di dalam kehidupan kekal itu, sangat tergantung kepada kehidupan kita saat ini.
Lihat juga: Para Pemenang Kehidupan
Lihat juga: Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan
Sekalipun Kristus telah dengan tegas mengatakan adanya kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal, pada kenyataannya masih ada saja orang yang tidak percaya.
Mereka lebih yakin bahwa setelah kematian di dunia, semuanya akan berakhir.
Karena itu selagi masih hidup di dunia, perlu untuk menikmati dan mengejar segala kesenangan dan kepuasan duniawi.
Paulus berjumpa dengan Kristus setelah Kristus wafat, bangkit dan naik ke sorga.
Dengan begitu Paulus sadar bahwa kalau kita menghendaki kehidupan kekal maka jalan satu-satunya adalah kita harus bersatu dengan Kristus yang telah bangkit.
‘Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus’ (1 Korintus 15:20, 22).
Kita dapat bersatu dengan Kristus kalau kita mau menyangkal diri, tidak mengikuti nafsu-nafsu kedagingan, memanggul salib kehidupan bersama Dia dan mengikuti ajaran-ajaranNya dengan taat dan setia.
Lihat juga: Menanggapi Undangan Allah
Lihat juga: PBB Ajak Melawan Neo-Nazi, Xenofobia, Anti-Yahudi
Yudas Makabe adalah orang Yahudi yang gagah perkasa dan penuh iman.
Dia meneruskan perjuangan ayahnya bersama saudara-saudaranya untuk melawan penjahahan kerajaan Seleukia dengan rajanya Antiochus, yang mau memaksa semua orang Yahudi menyembah dewa-dewa berhala yang dia sembah.
Suatu kali Yudas menyerang kota Idumea. Sekalipun dengan pertolongan Tuhan, Yudas berhasi memenangkan peperangan tetapi tentaranya banyak yang tewas.
Hal ini membuat Yudas dan pasukannya sedih. Mereka lalu memakamkan jenasah-jenasah itu dipekuburan nenek moyang mereka dengan peribadatan sesuai hukum Taurat.
Tetapi saat memandikan jenasah, mereka sangat terkejut karena dibalik jubah mereka yang gugur itu ditemukan jimat.
Ini menunjukkan bahwa mereka yang gugur itu selain menyembah Allah, ternyata juga menyembah berhala (2 Makabe 12:40).
Dengan begitu jelaslah bahwa orang-orang itu gugur karena mereka telah berbuat dosa besar.
Tetapi hal ini juga menimbulkan kebingungan orang-orang Yahudi.
Di satu sisi, orang-orang itu telah berperang dan gugur dalam nama Yahwe untuk melawan bangsa kafir.
Di sisi lain, mereka ternyata secara tersembunyi juga menyembah allah lain.
Atas bimbingan Allah, Yudas Makabe yang percaya akan adanya kehidupan setelah kematian di dunia, meminta orang-orang sebangsanya untuk berdoa, mohon ampun kepada Allah, atas segala dosa dari teman-teman mereka yang telah gugur.
Selain itu dia juga mengajak untuk mengumpulkan uang untuk dipersembahkan di Bait Allah sebagai korban penghapus dosa (2 Makabe 12:43).
Dari kejadian itulah orang-orang Yahudi mempunyai tradisi untuk mendoakan arwah orang-orang yang telah meninggal.
Lihat juga: Raja Larantuka: Semana Santa itu Tradisi Doa 13 Suku, Baik Jadi Ikon Katolik Nasional
Lihat juga: Mensyukuri Kebangkitan Kristus
Kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal adalah suatu kebenaran iman yang tidak tersangkal.
Untuk dapat berbahagia di kehidupan kekal, kita mutlak harus percaya dan taat akan apa yang diajarkan Kristus, supaya di dalam persatuan dengan Kristus, kitapun boleh dilayakkan ikut dalam kebangkitanNya yang mulia.
Akan tetapi pada kenyataannya, seperti para tentara Makabe yang gugur di Idumea, yang secara tersembunyi juga menyembah berhala, banyak orang saat ini yang juga masih menyembah berhala, dengan menjadikan, harta, kuasa dan kenikmatan hidup sebagai allah yang lebih disembah dari pada Kristus.
Hal yang sama juga sangat mungkin dikakukan oleh orang-orang terkasih yang telah meninggal.
Karena itu, seperti yang dilakukan Yudas Makabe, gereja mengajak kita berdoa untuk arwah orang yang telah meninggal, agar Allah bekenan mengampuni dosa-dosa mereka.
Kita tidak berdoa kepada arwah untuk meminta petunjuk-petunjuk atau berkat, karena itupun bentuk penyembahan berhala yang merupakan kekejian bagi Allah (Ulangan 18:10-12).
Kita memohon Tuhan berbelas kasihan kepada mereka karena orang-orang yang telah meninggal tidak dapat lagi berbuat sesuatu untuk menebus dosa yang masih melekat pada mereka, sehingga menghalangi mereka untuk mampu masuk ke dalam Rumah Bapa yang Maha Kudus.
Mari kita lakukan itu dengan penuh iman, karena pada saatnya nanti, ketika Allah telah memanggil kita dari kehidupan di dunia ini, setiap kitapun membutuhkan doa-doa dari orang yang masih hidup di dunia.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Sikap Hati dalam Berdoa
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










