Keluaran 34:29-35
Matius 13:44-46
Shalom,
Kristus memberikan dua perumpamaan yang sejajar untuk menjelaskan arti Kerajaan Allah:
Ada seorang buruh yang menemukan harta terpendam di ladang yang sedang digarapnya.
Ketika tahu harta tersebut sangat tinggi nilanya, dia memendam kembali harta tersebut, menjual seluruh harta bendanya untuk dapat membeli sebagian dari ladang tersebut.
Ada juga seorang pedagang perhiasan yang mencari-cari mutiara yang indah.
Setelah ditemukan, dia menjual seluruh hartanya untuk dapat memiliki mutiara itu.
Dengan kedua perumpamaan tersebut Kristus mau mengatakan, Kerajaan Allah sebenarnya bukan berada di tempat yang sangat jauh di atas langit yang tidak terjangkau.
Kerajaan Allah ada di ladang yang sedang digarap.
Ada di tengah aktivitas yang setiap hari kita lakukan.
Tetapi untuk memperolehnya, harus ada kemauan kuat dan keberanian untuk mengorbankan segalanya.
Lihat juga: Menghadirkan Kerajaan Allah
Lihat juga: Jangan Melupakan Kasih Allah
Kerajaan Allah adalah Pribadi Allah sendiri.
Siapa yang berbicara denganNya, mendengarkan dan melakukan apa yang disampaikanNya, di dalam hatinya akan ada kedamaian yang akan terpancar dari wajahnya.
Inilah yang terjadi pada nabi Musa ketika dia turun dari gunung Sinai setelah bertemu Allah (Keluaran 34:29).
Semua orang, dari orang-orang miskin seperti buruh penggarap, sampai pengusaha kaya seperti pedagang perhiasan, pasti ingin menikmati kedamaiam dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Allahpun berkenan bertemu secara pribadi dengan kita.
Tetapi untuk itu, seperti Musa, kita perlu meluangkan waktu khusus untuk masuk ke tempat sunyi yang memungkinkan kita benar-benar berkonsentrasi mengarahkan hati dan pikiran berbicara denganNya, lalu melakukan apa yang dikehendakiNya.
Sayangnya, sebagian terbesar orang baru sebatas mau.
Tidak berani untuk berkorban untuk memperolehnya, apalagi mengorbankan segalanya:
Ada banyak orang yang ingin mendapat kedamaian tetapi tidak mau melepaskan kemarahan dan dendam kepada orang yang telah menyakitinya.
Ada juga yang mendambakan kebahagiaan, tetapi tidak mau melepaskan nafsu besarnya untuk mendapat kekayaan dan kekuasaan dengan segala cara termasuk yang melawan ajaran kasih Kristus.
Karena tidak mau melepaskan cara berpikir dan sikap hati yang lama, orang akan terus terbenam di dalam dendam, iri, cemburu, ketamakan yang menimbulkan kegelisahan, kekawatiran.
Kegagalan banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan dan kedamaian Ilahi, sesungguhnya bukan karena tidak mampu tetapi karena tidak mau melepaskan cara berpikir dan sikap hati lamanya, untuk diganti dengan ajaran-ajaran kasih Kristus yang penuh syukur.
Kita tidak berani menganggap apa yang selama ini memenuhi hati dan pikiran kita sebagai sampah yang harus dibuang agar tercipta ruang untuk menyimpan mutiara yang sangat indah!
Lihat juga: Segala Sesuatu Butuh Keterbukaan Hati
Lihat juga: Hati Kita Bagi Kemurahan Kasih Tuhan
Perjumpaan Musa dengan Tuhan telah mengubah sikap hati dan cara berpikirnya, sehingga kedamaian Allah ada padanya.
Perubahan yang terjadi di dalam dirinya itu terpancar dari wajahnya yang bercahaya.
Orang yang sungguh telah menghayati hukum-hukum Allah yang disampaikan Kristus, akan mengalami kedamaian dan kebahagiaan, yang akan membuat wajahnyapun menjadi cerah, tenang dan damai.
Allah adalah kasih (1 Yohanes 4 : 8).
Sangat tidak mungkin orang yang dekat dengan Allah wajahnya mencerminkan kekerasan, mulutnya dipenuhi sumpah serapah terhadap orang lain.
Dari buah kita tahu pohonnya. Dari apa yang tampak pada wajah, perbuatan dan kata-kata seseorang akan terlihat apa yang sesungguhnya ada di dalam hatinya.
Wajah nabi Musa berubah karena pancaran kekudusan Allah melekat padanya saat dia berbicara hati ke hati dengan Tuhan.
Saat kita menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam sakramen Ekaristi, sesungguhnya adalah saat yang paling intim bagi kita untuk berbicara dan mendengarkan suara Allah.
Sangat sayang kalau dalam saat-saat sakral seperti itu, kita tetap tidak mau melepaskan diri dari persoalan-persoalan dan kesibukan-kesibukan dunia, sehingga tidak mampu menyerap sinar kekudusan Allah yang dapat menerangi hati dan pikiran.
Lihat juga: Roh Kudus Memperbarui Hidup Kita
Lihat juga: Mengimani Tritunggal Maha Kudus
Mari kita periksa diri. Sejauh mana kesungguhan kita untuk mendekat pada Allah, untuk menekuni dan melakukan hukum-hukumNya?
Ketika kita bersungguh-sungguh untuk menjadikan diri sebagai bagian dari Kerajaan Allah yang damai, tidak ada hal yang terlalu mahal untuk dilepaskan.
Penggarap ladang tidak akan mampu membeli sebagian ladang kalau tidak menjual seluruh harta miliknya.
Mutiara yang sangat indah tidak mungkin dapat dimiliki pedagang perhiasan yang menemukannya kalau dia tidak lebih dulu berani menjual perhiasan-perhiasan lain yang ada padanya.
Kitapun tidak mungkin dapat memperoleh kerajaan Allah kalau tidak berani melepaskan cara berpikir dan sikap hati lama yang dikuasi iri, dendam, cinta diri, cinta harta dan cinta akan kenikmatan hidup yang hanya sesaat.
Mari kita sungguh-sungguh menyadari hal ini.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Bertekun Menjalani Relasi dengan Tuhan
Lihat juga: Cinta Kasih Tuhan Mentahirkan Keluarga
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












