Roma 4:1-8
Lukas 12:1-7
Shalom,
Di depan ribuan orang yang mengerumuniNya, Kristus memperingatkan agar mereka waspada dengan ragi yaitu kemunafikan orang Farisi.
Mereka lebih mementingkan pencitraan diri di hadapan orang banyak dari pada kemauan untuk sungguh-sungguh taat dan hormat kepada Tuhan.
Celakanya, sikap seperti ini biasanya cepat ditiru oleh banyak orang.
Karena itu Kristus menyamakan kemunafikan orang-orang Farisi itu seperti ragi, yang meskipun jumlahnya kecil tetapi dapat sangat berpengaruh terhadap seluruh adonan.
Orang-orang Farisi jumlahnya sedikit namun sebagai pemimpin-pemimpin agama, mereka punya pengaruh besar di dalam masyarakat karena dianggap sebagai teladan kekudusan.
Kristus mengingatkan bahwa Allah yang Maha Tahu pasti tahu segalanya, termasuk apa yang ada dalam hati dan pikiran setiap kita.
Dengan begitu tidak ada gunanya menyembunyikan apapun di hadapan Tuhan.
Dia tahu apa motivasi dari setiap perbuatan kita yang terkesan baik dihadapan banyak orang.
‘Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui’.
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Lihat juga: Belajar dari Kesalahan Orang Farisi
Pada kenyataannya di dalam kehidupan sehari-hari, cukup sering situasi kondisi menjerumuskan kita untuk bersikap munafik, tidak berani untuk menyatakan kebenaran yang kita imani, demi untuk menjaga relasi baik dengan teman, dengan keluarga atau dengan siapapun di sekitar kita.
Ketika melihat sikap atau perbuatan yang salah atau malahan sesuatu yang jahat di hadapan Allah yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita, kadang kita lebih memilih untuk tidak menegur atau mencoba mengingatkan dalam kasih.
Sering dalam situasi seperti itu kita memilih diam sehingga memberi kesan kitapun menyetujui perbuatan itu.
Kita sering lupa bahwa Kristus mengutus kita untuk menjadi terang dunia, untuk mengusir segala kegelapan yang ada di hadapan kita.
Sikap seperti inilah yang ingin dibongkar habis Kristus:
‘Aku berkata kepadamu, sahabat-sahabatKu, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnyalah Aku berkata kepadamu, takutilah Dia.’
Membiarkan orang di depan mata kita berbuat sesuatu yang jahat tanpa mencegah atau setidaknya mengingatkan orang itu, adalah suatu dosa kelalaian yang harus dipertanggungjawabkan pada Penghakiman Terakhir (Matius 25:45).
Janganlah kita lebih takut kehilangan relasi yang baik dengan orang lain (dengan mengingatkan kesalahannya) dari pada takut mengecewakan Allah karena tidak mentaati perintahNya.
Apalagi kalau demi menjaga relasi yang baik, kita ikut melakukan hal yang salah.
Sikap seperti ini menunjukkan kita lebih takut kepada orang-orang di sekitar kita dari pada takut kepada Tuhan yang punya kuasa untuk menghukum, bukan hanya sebatas di dunia fana ini saja tetapi juga sampai kehidupan kekal.
Lihat juga: Kesesatan yang Tersembunyi
Lihat juga: Belajar dari Tokoh Masa Lalu
Kepada jemaat di Roma, Paulus mengingatkan Abraham dibenarkan dan dikasihi Allah karena iman kepercayaannya, bukan karena dia telah melakukan hal-hal yang baik yang sesuai dengan hukum Taurat, yang saat itu belum dianugerahkan Allah kepada manusia.
‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran’ (Roma 4:3).
Dengan begitu, kebenaran bukan hanya didasarkan atas perbuatan yang sesuai dengan apa yang tertulis di dalam Taurat saja.
Allah meminta Abraham meninggalkan tanah airnya untuk menuju ke suatu tempat yang belum diberi tahu, meskipun saat itu dia sudah berusia 75 tahun dan kehidupannya sudah sangat mapan.
Allah berjanji akan menjadikannya sebagai bapa banyak bangsa dan keturunannya akan menjadi seperti bintang-bintang di langit yang tidak terhitung jumlahnya.
Abraham percaya dan membuktikan kepercayaannya dengan mau melakukannya, meskipun secara logika janji Allah tidak punya dasar untuk dipercaya. Itulah iman.
Allah memperhitungkan itu sebagai suatu kebenaran karena berani melakukan perintah Allah meskipun tidak mengerti.
Dengan mengatakan itu, Paulus mau menegaskan, yang dapat memberi keselamatan adalah mentaati kehendak Allah seperti yang diajarkan Kristus, bukan dengan melakukan hukum Taurat seperti yang tertulis, tetapi dengan tidak memperdulikan apa yang ada didalam hati dan pikiran orang itu.
Pemahaman ini yang ada pada orang-orang Farisi, sehingga mereka terlihat kudus, tetapi hatinya jauh dari kasih.
Sikap hati seperti ini yang disebut Kristus sebagai kemunafikan.
Lihat juga: Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan
Lihat juga: Ganti Suku Cadang, Jadi Manusia Baru Citra Kristus
Menunjukkan iman Kristiani dengan menyatakan ajaran-ajaran Kristus di tengah orang-orang yang sedang berbangga dengan hasil perbuatan-perbuatannya yang melawan kasih, pasti ada resiko dan belum tentu menghasilkan pertobatan.
Tetapi seandainya pun kita gagal mencegah suatu kesesatan setelah berusaha sungguh-sungguh, kita tidak akan kehilangan ‘upah’ dari Tuhan.
‘Bukankah burung pipit dijual 5 ekor satu duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah.’
Suatu perbuatan baik yang tidak dihargai dunia seperti burung pipit yang tidak dihargai orang, tetap akan diperhatikan Allah, karena Dia tidak menuntut kesuksesan melainkan kesetiaan.
Lihat juga: Waspadalah di dalam Kesuksesan
Lihat juga: Belajar dari Biji Sesawi dan Ragi
Kristus mengingatkan kita untuk meninggalkan sikap munafik.
Jangan takut ditertawakan atau dicemoh untuk menjadi lebih jujur, lebih kudus, lebih punya komitment dalam tugas dan pelayanan, karena yang menjadi tujuan kita seharusnya adalah takut mengecewakan Allah yang telah teramat baik bagi setiap kita.
Mencari puji-pujian dari banyak orang hanya dapat memberi kebanggaan dan kepuasan sesaat saja.
Tetapi kalau kita melakukan hal yang terpuji di hadapan Allah, kebahagiaan kekal telah dijanjikan Kristus untuk kita.
Karena itu mari terus berusaha berjalan di jalan kebenaran Allah di manapun kita berada dan dalam situasi seperti apapun.
Jadilah terang dan garam dunia.
Jangan tergoda bersikap munafik dengan mengingkari jati diri sebagai murid-murid Kristus, hanya untuk menyenangkan orang lain.
Tidak ada perbuatan baik kita yang sia-sia di hadapan Allah karena rambut di kepala kita, yang kita sendiri tidak tahu jumlahnya, semua diperhitungkan Allah.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Allah Tidak Pernah Tertidur
Lihat juga: Tetaplah Percaya Kebijaksanaan Allah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












