Roma 2:1-11
Lukas 11:42-46
Shalom,
Kristus dengan keras memperingatkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk 3 hal penting dalam gaya hidup dan cara berpikir mereka.
Peringatan ini bukanlah didasarkan atas kebencian tetapi justru karena Kristus mengasihi mereka dan ingin mereka sadar akan kesalahan-kesalahan yang sudah menjadi suatu kebiasaan dalam hidup mereka, sehingga tidak disadari sebagai hal yang salah.
Kecaman-kecaman ini jangan diartikan sebagai suatu kutukan, karena dengan kuasa yang ada padaNya, kalau Kristus mengutuk, saat itu juga pasti terjadi sesuai dengan kata-kataNya.
Peringatan-peringatan ini lebih sebagai suatu ajakan untuk berubah, agar mereka tidak mengalami akibat-akibat buruk dari perbuatan-perbuatan, sikap hati dan cara berpikir mereka.
Orang-orang Farisi mengimani bahwa kalau mereka melakukan apa yang tertulis di dalam hukum Taurat, mereka akan memperoleh keselamatan. Karena itu mereka berusaha melakukannya seketat dan setepat mungkin.
Tetapi ketaatan mereka hanya sebatas ketaatan lahiriah, tanpa berusaha menangkap maksud sebenarnya dari Firman Allah yang bertujuan mengubah sikap hati dan cara berpikir semua orang agar semakin mau dan mampu berbelas kasih.
Mereka dengan taat membayar perpuluhan dan cara-cara mempersembahkannya tepat sesuai yang tertulis dalam Taurat, tetapi mereka tidak mempedulikan bagai mana memperoleh uangnya.
Mereka percaya bahwa semakin besar perpuluhan yang dibayarkan, semakin banyak rejeki dan anugerah yang akan diberikan Tuhan kepada mereka.
Karena itu demi untuk memberikan perpuluhan dalam jumlah besar, mereka tidak peduli bahwa untuk mendapatkannya dilakukan dengan cara memeras orang yang lebih lemah atau menipu yang lengah.
Kecaman Kristus ini, bukan tertuju pada hukum tentang perpuluhan tetapi cara menafsirkan dan motivasi mereka yang sesat.
Lihat juga: Belajar dari Tokoh Masa Lalu
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Orang-orang Farisi senang memperlihatkan diri secara menyolok saat beribadat, berpuasa dan berdoa karena dengan demikian mereka terlihat kudus dan dipuji-puji orang.
Atas puji-pujian itu mereka merasa diri sebagai orang-orang yang lebih terhormat dibanding orang lain sehingga menganggap diri layak untuk selalu duduk di tempat-tempat terhormat.
Padahal saat berdoa, beribadat dan berpuasa, justru seharusnya dilakukan dengan kerendahan hati sehingga dapat mendengar teguran-teguran dan arahan-arahan Allah dan siap melakukan apa yang dikehendakiNya, termasuk kerelaan untuk mau berubah dan mengubah rancangan-rancangan atau keinginan-keinginan hati yang tidak sesuai dengan kehendakNya.
Lebih celaka lagi dengan merasa diri lebih kudus dan mengerti hukum-hukum Allah, mereka merasa berhak untuk menghakimi dan menjatuhkan hukuman kepada orang yang dianggap telah melanggarnya.
Kesombongan rohani seperti ini menjadi penghalang besar bagi suatu pertobatan diri, tetapi sikap hati seperti ini sering kali tanpa sadar ada pada diri kita saat ini.
Santo Paulus mengingatkan hal ini dalam suratnya kepada umat di Roma: ‘Hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari (berbuat) salah. Sebab dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama’ (Roma 2:1).
Kristus memang meminta kita saling menegur bila ada yang berbuat salah. Tetapi menegur yang dimaksud adalah dengan kasih mengingatkan orang itu, agar tersadar dan terhindar dari akibat buruk karena perbuatannya.
Menegur bukan dengan maksud mempermalukan, membalas dendam atau memegahkan diri karena kita merasa lebih baik.
Menegur dengan maksud menghakimi adalah hal yang melawan ajaran kasih Kristus, sehingga sama saja dengan orang yang dianggap bersalah karena telah melawan ajaran kasih Allah.
Lihat juga: Kristus Menggenapi Hukum Taurat
Lihat juga: Dikuduskanlah NamaMu, Datanglah KerajaanMu
Tidak ada gunanya dipandang kudus di hadapan manusia dengan berbagai pencitraan diri, karena yang paling utama adalah berusaha semakin kudus di hadapan Allah yang mengetahui segalanya.
Pencitraan diri mungkin berhasil membuat kita dihormati dan dikagumi banyak orang, tetapi bagi Allah, orang-orang semacam ini tidak lebih seperti sebuah makam.
Dari luar tampak indah tetapi di dalamnya tersimpan daging-daging yang telah membusuk dan serakan tulang-tulang yang tidak berarti lagi.
Ahli-ahli Taurat biasanya dari kelompok Farisi. Mereka dipercaya mengajarkan hukum Taurat kepada banyak orang.
Mereka kemudian membuat peraturan-peraturan tambahan yang bertujuan agar Taurat dapat dilakukan semakin tepat seperti yang tertulis.
Tetapi Kristus menyoroti bahwa kenyataannya mereka sendiri tidak konsekwen melakukan apa yang mereka ajarkan.
Untuk peraturan-peraturan tambahan yang kemudian disebut sebagai tradisi, karena mereka yang buat, mereka yang tahu celah-celah untuk tidak melakukannya dan menggunakan celah-celah itu untuk berdalih.
Karena itu Kristus mengatakan: ‘Kamu meletakkan beban-beban yang tidak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun’.
Teguran Kristus ini juga dapat tertuju kepada kita saat ini.
Kita menuntut orang untuk selalu jujur tetapi apakah kita sendiri tidak pernah berdusta?
Kita mengharap orang memahami maksud dan pikiran kita, tetapi apakah kita juga selalu berusaha mengerti orang lain?
Dengan begitu, kita menuntut orang melakukan hal-hal yang kita sendiri tidak selalu mau melakukannya.
Lihat juga: Kasih Kristiani Mengatasi Dendam
Lihat juga: Kasih yang Menyelamatkan
Perbuatan yang terlihat baik, tidak selalu didasarkan atas motivasi dan tujuan yang baik dan benar.
Padahal Allah bukan terutama menilai dari apa yang terlihat mata, tetapi justru apa yang tersembunyi di dalam hati dan pikiran kita.
Kasih yang murni seperti yang diajarkan Kristus akan menuntun kita untuk melakukan apa yang baik di hadapan Allah dan menjadi benteng kokoh untuk tidak melakukan apa yang dapat mengecewakan Tuhan.
Marilah kita periksa diri dengan jujur dan rendah hati, agar apa yang dikecam Kristus, jangan sampai sadar/tidak, malahan kita lakukan dalam aktivitas sehari-hari.
Persepuluhan mengingatkan kita bahwa dalam setiap rejeki yang dianugerahkan Allah, Dia menitipkan sebagian untuk diberikan kepada orang-orang yang sedang membutuhkan.
Lakukanlah ini dengan tujuan dan motivasi yang benar sehingga semua orang juga mengalami kasih Allah.
Janganlah melakukan perbuatan baik atau beribadat untuk dipuji banyak orang karena puji-pujian itu dapat menjerumuskan kita ke dalam kesombongan rohani.
Jangankah merasa diri lebih kudus dari orang lain sehingga merasa diberi hak oleh Allah untuk menghakimi.
Terhadap sesama, jangan menuntut orang lain bersikap terhadap kita lebih baik dari sikap kita terhadap mereka.
Semoga kita dapat belajar dari kesalahan-kesalahan orang Farisi untuk memperbaiki diri.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Jangan Mencurigai Kasih Allah
Lihat juga:Belajar dari Biji Sesawi dan Ragi
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










