Kesesatan yang Tersembunyi

Roma 1:16-25
Lukas 11:37-41

Shalom,

Suatu kali setelah Kristus selesai mengajar, seorang Farisi mengajak Kristus untuk makan di rumahnya.

Ketika makan, orang Farisi itu heran karena Kristus tidak melakukan ritual untuk membersihkan tangan dan mentahirkan diri (bukan sebatas mencuci tangan untuk menjaga kesehatan tubuh).

Ritual ini bukan berasal dari hukum Taurat atau Kitab Para Nabi tetapi berdasarkan penafsiran para ahli Taurat untuk menjaga kekudusan diri, karena Nabi Musa memerintahkan agar semua orang menjaga diri agar tetap kudus, tidak tercemar hal-hal yang najis.

Agar segala hal yang najis yang mungkin tersentuh dalam kegiatan sehari-hari tidak masuk ke dalam tubuh dan menjadikan diri kita menjadi najis di hadapan Tuhan, maka dibuat ritual pembasuhan tangan.

Ritual ini diajarkan secara turun temurun di kalangan orang Yahudi dan dianggap sebagai suatu tradisi yang harus ditaati.

Kristus menjawab keheranan orang Farisi itu dengan mengatakan kepadanya: ‘Kamu orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalamnya penuh rampasan dan kejahatan’.

Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes

Lihat juga: Belajar dari Biji Sesawi dan Ragi

Dalam hal ini Kristus mengingatkan kemunafikan yang dilakukan orang-orang Farisi.

Mereka selalu sangat memperhatikan apa yang dapat terlihat kudus di hadapan banyak orang tetapi mengabaikan untuk membersihkan hati mereka dari segala bentuk ketamakan akan harta, kesombongan rohani, iri dan dengki.

Kristus tahu para ahli Taurat ini sering memeras orang-orang yang meminta nasihat hukum kepada mereka atas suatu perkara yang sedang dihadapi, karena hukum Taurat saat itu dijadikan hukum yang mengikat dalam kehidupan orang-orang Yahudi.

Jadi orang-orang Farisi juga berfungsi seperti seorang pengacara pada saat ini.

Kristus mau menegaskan, bagi Tuhan tidak ada gunanya mereka melakukan ritual pembasuhan tangan kalau makanan yang mereka makan adalah hasil dari memeras orang atau dari kejahatan-kejahatan lain.

Dengan berbuat begitu, mereka berusaha menyembunyikan kesesatan/kejahatan mereka dengan melakukan ritual rohani.

Allah bukan seperti manusia yang hanya melihat apa yang tampak dari luar, tetapi justru menilai dari segala yang tersembunyi di dalam hati dan pikiran.

Yang dapat meracuni diri kita, bukan kotoran-kotoran yang ada di bagian luar dari cawan dan piring, tetapi yang ada di bagian dalamnya, tempat kita menaruh minuman atau makanan.

Kristus lalu mengatakan: ‘Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu’.

Untuk dapat membersihkan ‘bagian dalam’ yaitu hati dan pikiran kita dari segala dosa, lakukanlah banyak perbuatan kasih, antara lain dengan bersedekah.

Tetapi ajaran Kristus ini jangan ditafsirkan bahwa segala perbuatan dosa dapat dihapus dengan memberikan sejumlah uang untuk kegiatan sosial atau perkembangan gereja.

Ini salah satu kesesatan beriman lain yang masih terus terjadi sampai saat ini.

Lihat juga: Iman di tengah Kekhawatiran

Lihat juga: Antara Mujizat dan Iman

Allah adalah kasih. Ketika kita mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka kita telah menyatakan kasih dan ketaatan kepada Allah.

Di dalam kasih, kita rela memberikan apa yang kita makan (isi cawan dan piring makan kita) kepada orang-orang yang sedang lapar.

Di dalam kasih kita tidak akan melakukkan pemerasan atau hal-hal curang yang dapat membuat orang lain lapar dan terluka.

Jemaat di Roma telah terbentuk sebelum Paulus datang ke sana.

Pengenalan akan Kristus ini telah dibawa oleh orang-orang Yahudi dari Yerusalem yang melarikan diri karena tekanan-tekanan yang keras dan kejam di kota itu.

Jemaat Roma terdiri dari orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi.

Jemaat yang bukan Yahudi ternyata meskipun telah tahu akan Allah dan mendengar tentang Kristus, tetapi mereka tetap saja menyembah berhala.

Bagi mereka, Yahwe hanya salah satu Allah yang mereka sembah.

Mereka membuat patung-patung baik yang mirip manusia yang fana mapun binatang-binatang, kemudian mereka mengadakan ritual-ritual untuk menyembahnya.

‘Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana (artinya yang kekal), dengan gambaran yang mirip manusia, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar’ (Roma 1:23).

Paulus mengecam itu sebagai suatu perbuatan amat bodoh.

Bagaimana mungkin hal-hal yang fana dapat membawa kita untuk berbahagia di alam yang kekal?

Dengan begitu, meskipun mereka beribadah tetapi mereka sama sekali tidak menjadi kudus: ‘Sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap’ (Roma 1:21).

Lihat juga: Dari Arti WFH Menjadi Memberitakan Kerajaan Allah

Lihat juga: Tetaplah Percaya Kebijaksanaan Allah

Orang-orang Farisi berpikir mereka akan dapat menjaga kekudusan diri dengan melakukan berbagai ritual pembersihan tangan dan perlatan makanan.

Jemaat Roma yang bukan Yahudi mengadakan ritual-ritual pemujaan kepada berhala-berhala karena menganggap dengan berbuat begitu mereka akan dipenuhi hikmat Allah.

Baik orang-orang Farisi mupun jemaat Roma telah tersesat dalam mencoba memahami Allah.

Sebagai murid-murid Kristus, kalau tidak berhati-hati, kitapun dapat tersesat seperti mereka.

Kita dapat berpikir lamanya berdoa setiap hari atau berulang-ulang membaca Alkitab dari kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, dapat menjamin kekudusan kita di hadapan Allah.

Berdoa hanya sebatas ritual, tanpa benar-benar ingin berrelasi yang akrab dengan Tuhan atau berulang kali membaca atau bahkan menghafal Alkitab tetapi tidak berusaha menghayati maksud Allah di dalamnya dan berusaha menjadi pelaku-pelaku Firman yang berbelas kasih, tidak akan dapat membuat orang menjadi kudus di hadapan Allah.

Kitapun dapat jatuh ke dalam pemujaan berhala kalau menjadikan benda-benda rohani sebagai jimat yang dapat memberi rezeki dalam berusaha dan melindungi kita dari marabahaya.

Mari kita belajar dari Kristus, siapa sesungguhnya Allah Pencipta Alam sentosa yang harus kita sembah dan apa yang diajarkanNya, agar kita dapat hidup damai dan bahagia, di dunia dan di alam baka dan agar kita tidak tersesat dalam peziarahan menuju Rumah Bapa.

Tuhan memberkai kita.

Lihat juga: Ganti Suku Cadang, Jadi Manusia Baru Citra Kristus

Lihat juga: Menyangkal Diri, Memanggul Salib dan Mengikuti Kristus


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Bunda Maria Kasihanilah Kami Seperti Engkau Mengasihi Putra-Mu

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading