Roma 12:5-16a
Lukas 14:15-24
Shalom,
Setelah Kristus mengajarkan bagaimana seharusnya sikap orang saat diundang dan apa yang harus dilakukan waktu mengundang orang dalam perjamuan makan, salah seorang dari tamu yang hadir berkata kepadaNya:
‘Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah’.
Menanggapi kata-kata tamu tersebut, Kristus memberi perumpamaan tentang seseorang yang akan mengadakan perjamuan besar dan mengundang banyak orang untuk datang keperjamuan itu.
Tetapi ternyata pada harinya, mereka yang diundang tidak mau hadir, dengan mengajukan berbagai alasan kesibukan pribadi ‘yang masuk akal’.
Pemilik pesta sangat kecewa karena para undangannya menolak hadir.
Karena itu dia memerintahkan hamba-hambanya pergi ke segala jalan dan lorong kota dan membawa semua orang miskin dan cacat, yang buta dan lumpuh untuk datang ke pesta.
Dengan perumpamaan ini Kristus mau mengingatkan bahwa sebenarnya bangsa Yahudi adalah bangsa yang pertama dipilih Allah untuk diselamatkan, untuk dipulihkan relasinya dengan Allah sehingga kembali dapat mengalami kebahagiaan sejati.
Perjamuan makan adalah lambang terjalinnya persatuan.
Lihat juga: Berjuang Melalui Pintu yang Sesak
Lihat juga: Berpuasa untuk Memperbaiki Relasi dengan Allah
Untuk memulihkan relasi, Allah telah berkali-kali mengutus nabi-nabiNya kepada bangsa Israel, tetapi mereka bukan hanya menolak panggilan itu, mereka malahan membunuhi nabi-nabi Allah itu.
Karena orang-orang Yahudi menolak undangan untuk bersatu lagi dengan Allah, maka Allah memanggil semua orang, dari semua suku bangsa.
Orang-orang Yahudi menganggap bangsa-bangsa lain sebagai bangsa kafir yang martabatnya lebih rendah dari mereka yang merupakan bangsa pilihan.
Undangan kepada bangsa-bangsa lain dilambangkan dengan diundangnya orang-orang miskin dan orang-orang yang tubuhnya cacat, yang oleh orang Yahudi dianggap sebagai orang-orang yang sedang dihukum Allah karena dosa-dosanya.
Dengan begitu Kristus mau mengatakan, semua orang diberi kesempatan untuk bersatu dengan Allah.
Semua orang diundang tanpa membeda-bedakannya.
Baru pada akhir zaman, Allah akan menghakimi setiap orang, apakah mereka memang layak untuk bersatu selamanya di ‘rumah’Nya.
Lihat juga: Viral Hoaks! Paus Yohanes Paulus II Pindah Agama
Lihat juga: Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan
Kepada umat di Roma, Paulus menulis bahwa setiap orang dianugerahkan Tuhan karunia Roh, agar kehadiran Allah di dunia ini dapat diwujudnyatakan (1 Korintus 12:7).
Karunia yang diterima setiap orang berbeda-beda, tetapi setiap karunia harus digunakan secara optimal, sehingga kasih dan kuasa Allah dapat dinikmati semua orang:
‘Jika (menerima) karunia untuk melayani, baiklah kita melayani. Jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar. Jika karunia menasehati, baiklah kita menasehati’ (Roma 12:6-8a).
Jadi dengan menganugerahkan karunia-karunia itu, Allah telah melayakkan kita untuk turut bekerja diladangNya, agar suatu saat dapat menikmati hasil panenan bersama-sama Dia.
Karunia-karunia Roh dalam hal ini merupakan suatu undangan Allah untuk menghadiri perjamuan pesta seperti yang dikatakan Kristus.
Lihat juga: Roh Kudus Memperbarui Hidup Kita
Lihat juga: Tanda Kasih dan Kuasa Allah
Persoalannya adalah apakah kita mau menanggapi undangan itu dengan serius?
Apakah kita mau melatih, menggunakan secara optimal karunia-karunia yang telah dianugerahkan Tuhan itu untuk melayani sesama, atau kita memilih tetap menyibukkan diri dengan segala urusan pribadi: kesibukan dalam pekerjaan, menikmati hobby, membenamkan diri dalam kesibukan memburu nafsu-nafsu kedagingan dan lainnya.
Sesungguhnya dengan mau saling melayani, kita akan memperoleh kekuatan iman yang membuat hidup menjadi lebih berbahagia dan damai.
Kita akan lebih dimampukan untuk tetap bersuka cita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan dan lebih bertekun dalam doa (Roma 12:12).
Tamu yang datang dalam perjamuan makan di rumah orang Farisi, mengatakan kepada Kristus: ‘Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah’.
Kebahagiaan itu sebenarnya bukan akan tetapi sudah disediakan Allah di hadapan setiap kita, karena Tuhan telah mengundang kita untuk bersatu denganNya dengan menganugerahkan karunia-karunia Roh dan membuka kesempatan untuk berbelas kasih kepada sesama.
Kebahagiaan akan diperoleh bila kita mau melayani, mengampuni dan mengasihi semua orang tanpa memilih-milih dan memilah-milah.
Kebahagiaan tidak akan dapat dialami kalau kita terus mengejar-ngejar kepuasan daging yang tidak bertepi.
Persoalan sebenarnya bukan apakah Tuhan mengundang kita atau tidak, tetapi apakah kita mau menanggapi undangan itu dengan sepenuh hati atau tidak.
Karena itu berbahagialah kita kalau selalu mau mendengarkan Firman Tuhan dan dengan taat berusaha melakukannya.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Mendengarkan Firman dan Pelayanan
Lihat juga: Diampuni, Diubah dan Diutus
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












