HATIYANGBERTELINGA.COM – Staf Khusus Menteri Agama bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Farid F. Saenong, menegaskan bahwa kita perlu belajar dari Katolik tentang “Kasih” untuk memperdalam materi pembelajaran berbasis cinta dan ekoteologi supaya melahirkan hal-hal yang baru.
Hal itu ditegaskan Farid pada Minggu (30/11/2025), dalam kegiatan Revisi Buku Mata Pelajaran Keagamaan Katolik Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) yang diselenggarakan Ditjen Bimas Katolik di Jakarta, Sabtu s.d. Selasa, 29 November s.d. 2 Desember 2025.
“Kita belajar banyak dari Katolik yang sejak awal belajar tentang kasih. Hal ini perlu diperdalam lagi supaya melahirkan hal-hal baru dalam pembelajaran. Contoh-contoh dalam materi ajar diperkaya dengan ekoteologi dan cinta,” katanya.
Lihat juga: Kantor Kemenag dapat Digunakan sebagai Rumah Ibadat Sementara
Lihat juga: Menag Izinkan Umat Kristiani Natalan 100% di Gereja
Farid mengapresiasi Ditjen Bimas Katolik dan guru SMAK yang ikut serta mendukung Asta Cita Presiden melalui Asta Protas Menteri Agama. Menurutnya, Moderasi Beragama, Kurikulum Berbasis Cinta, dan Ekoteologi merupakan arah besar pendidikan Kementerian Agama yang sejalan dengan perhatian Paus Fransiskus terhadap karya kasih, ekologi integral, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah.
“Saya ingin mengajak kita semua dengan profil yang sudah dibangun begitu lama oleh Pak Menteri, kita bisa menaruh harapan yang lebih besar untuk kehidupan beragama yang lebih baik,” katanya.
Farid mengatakan bahwa kurikulum berbasis cinta ini adalah packaging untuk melindungi seluruh kelompok masyarakat yang ada di Indonesia ini dengan bergerak melalui lembaga pendidikan yang dapat mengedukasi banyak orang. “Kita coba sebarkan virus baik ini kepada generasi-generasi baru,” ujarnya.
Lihat juga: Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah
Lihat juga: Syarat Dari Katolik ke Agama Lain, Lalu Ingin Menjadi Katolik Lagi

Sementara itu Dirjen Bimas Katolik, Suparman, menegaskan pentingnya kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi masuk dalam muatan buku pelajaran SMAK, secara khusus dalam mata pelajaran keagamaan Katolik seperti Doktrin Gereja Katolik dan Moral Kristiani, Kitab Suci, Sejarah Gereja, Pastoral Katekese, dan Liturgi.
“Kami sedang menyusun buku mata pelajaran keagamaan Katolik dengan menginsersi cinta dan ekoteologi. Ini arah besar pendidikan Katolik kita,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pendidikan Katolik, Albertus Triyatmojo mengatakan bahwa kurikulum berbasis cinta dapat terlaksana secara efektif implementasinya melalui pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam. Pendekatan ini mendorong peserta didik tidak hanya memahami materi pada permukaan, tetapi mengolahnya secara reflektif, integratif, dan transformatif.
“Pembelajaran mendalam adalah kunci agar Kurikulum Berbasis Cinta tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar membentuk keutuhan pribadi peserta didik,” ungkap Direktur.
Lihat juga: Kronologis Foto Umat Katolik Misa di Sekolah yang Sempit; Ini Penjelasan Pihak Terkait
Albertus mengajak penyusun buku SMAK untuk memastikan bahwa setiap bab, contoh kasus, dan aktivitas belajar memberi ruang bagi peserta didik untuk mengalami cinta sebagai nilai dasar iman Katolik, sekaligus mampu menghubungkannya dengan persoalan dunia nyata, termasuk persoalan ekologis dan sosial.
Selain merevisi tiga buku dan menyusun dua buku mata pelajaran keagamaan Katolik, kegiatan ini juga sekaligus menyusun panduan kurikulum berbasis cinta pada satuan pendidikan keagamaan Katolik SMAK dan Taman Seminarium. Panduan ini penting karena pendidikan keagamaan Katolik tidak hanya berfokus pada pengajaran mata pelajaran, tetapi pada pembentukan pribadi secara utuh sesuai spiritualitas Gereja. Nilai cinta dan ekoteologi memerlukan penerapan yang menyeluruh agar tidak berhenti pada aspek kognitif di ruang kelas saja. Panduan menjadi penopang utama untuk membentuk budaya sekolah yang konsisten, di mana cinta, kepedulian terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab terhadap ciptaan dihidupi dalam relasi antarwarga sekolah, tata kelola, manajemen sarana dan prasarana, serta kegiatan harian, bahkan juga sampai ke orangtua.
Hadir pada kegiatan ini praktisi pendidikan seperti Romo Prof. Dr. Antonius Eddy Kristiyanto, OFM. (Ahli Sejarah Gereja Katolik); Dr. Taufiq Damarjati, M.T. (Pengembang Kurikulum Ahli Madya Puskurjar Kemendikdasmen); Romo Dr. Yohanes Berchmans Heru Prakosa, SJ (Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma); Romo Dr. Vincensius Darmin Mbula, OFM (Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik); Romo Christy Mahendra, S.Kom., M.Kom., Pr (Dosen TIK pada STIKOM Yos Sudarso Purwokerto); Susi Herawati, S.E., M.Pd. (Staf Majelis Nasional Pendidikan Katolik); Antonius Nahak, B.Th. (Puskurjar Kemendikdasmen), Drs. Intansakti Pius X, M.Th. (Dosen STP IPI Malang); Romo Ambrosius Heri Krismawanto, S.Lic., M.Th. (Dosen STPKat Santo Fransiskus Assisi Semarang); Romo Dr. Laurentius Prasetyo, S.S., M.Th., M.M. (Dosen STAKat Negeri Pontianak).
Lihat juga: RP Eddy OFM Soal Buku Sejarah SMP Kristen yang Sebut Katolik Roma Gereja Nestorian: Tidak Semua Mengakui Konsili Ekumenis
Lihat juga: Pastor Kopong MSF: Kelompok Katolik yang Persalahkan Konsili Vatikan II Hanya Jadi Pemecah Belah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.











