Maleakhi 3:13-18, 4:1-2a
Lukas 11:5-13
Shalom,
Setelah mengajarkan murid-muridNya berdoa, Kristus mengajarkan bagaimana seharusnya sikap hati kita saat berdoa.
Kristus menyampaikan suatu perumpamaan tentang seseorang yang pada tengah malam kedatangan tamu.
Di daerah Palestina, adalah biasa orang memulai perjalanan pada saat matahari telah terbenam, untuk menghindari sengatan matahari yang luar biasa di siang hari.
Dengan begitu orang sering sampai ke tempat tujuan pada tengah malam.
Orang yang kedatangan tamu dalam perumpamaan Kristus ini bingung karena saat itu dia tidak punya makanan apapun, padahal sesuai adat istiadat dan kebiasaan, kalau ada tamu datang dari tempat yang jauh, wajib diberi makan.
Karena itu orang itu terpaksa pergi ke rumah sahabatnya untuk meminjam 3 roti.
Sebenarnya yang mau dipinjam bukan hal yang mahal, tetapi masalahnya saat itu sudah tengah malam sehingga sahabat dan keluarganya tentu sudah tidur.
Beruntunglah dia karena selama ini, relasi dengan sahabatnya itu terjalin baik, sehingga sahabatnya itu mau bangun dan memberikan roti kepadanya
Lihat juga: Roti Kehidupan
Lihat juga: RIP Momot, Sahabat Sejati Muda-Mudi Gereja Santa Clara
Perumpamaan ini, mau menyampaikan pesan, kalau seorang sahabat, demi persahabatannya saja mau membantu temannya di waktu yang sangat mengganggu, apalagi Tuhan yang sangat mengasihi kita.
Kalau kita berdoa memohon pertolongan dengan penuh iman, demi kasihNya pastilah Dia menolong kita.
Tetapi bagaimana Allah mengabulkan doa kita, ada dua hal yang diajarkan Kristus yang perlu diperhatikan:
Yang pertama: ‘Mintalah maka akan diberikan kepadamu, carilah maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu’.
Allah memang tahu segalanya. Sebelum kita mintapun Dia sudah tahu keinginan kita.
Tetapi Dia ingin kita meminta kepadaNya supaya kita sadar bahwa kita banyak bergantung kepadaNya dan agar kita mempunyai relasi yang erat denganNya.
Allah ingin kita bersikap seperti anak-anak kecil yang dengan tidak malu meminta segala yang dia inginkan kepada orang tua atau opa/oma yang mengasihinya.
Kalau anak sudah tidak mau lagi meminta sesuatu kepada orang tuanya, ini menunjukkan keretakan relasi yang hebat di antara anak dengan orang tuanya.
Lihat juga: Kiat Bantu Pemulihan Korban Perundungan Anak
Lihat juga: Mendengarkan Firman dan Pelayanan
Melalui FirmanNya ini, Kristus menunjukkan kepada kita pintu masuk bagi pengabulan doa, yaitu relasi yang baik denganNya.
Kalau relasi orang dalam perumpamaan Kristus dengan sahabatnya tidak baik, sahabatnya itu tidak akan mau meminjamkan roti sekalipun roti bukan hal yang mahal.
Pintu pengabulan doa sudah ditunjukkan Kristus, tinggal tergantung kita, mau percaya dan mengetuknya atau tidak.
Yang kedua, Kristus mengingatkan, tidak ada bapa yang memberikan kepada anaknya ular yang akan mencelakakannya sebagai ganti ikan yang diminta anaknya itu.
Tidak mungkin Allah memberikan sesuatu yang serupa (mirip) tetapi berbahaya bagi kita.
Allah tidak akan memberi, mengabulkan permintaan kita untuk sesuatu yang hanya untuk memenuhi berbagai kepuasaan sesaat yang kemudian dapat berakibat buruk.
Yang mau Dia berikan adalah hal yang kita butuhkan untuk memperoleh kebahagiaan sejati, bukan untuk memberi kepuasan sesaat yang akan terus menuntut kepuasan-kepuasan yang lebih banyak lagi.
Masalahnya,seperti seorang anak kecil, sering kali kita sulit membedakan antara kesenangan dengan kebahagiaan, antara kepuasan dengan kedamaian hati sejati.
Lihat juga: Ajarkan Anak Berpikir Kritis Pada Kecerdasan Buatan AI
Lihat juga: Rahmat Allah via Uang Kertas dari Celengan Anak
Seorang anak yang baik, ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan tentu kecewa tetapi kekecewaan ini hanya sesaat karena di dalam hatinya dia tetap percaya orang tuanya akan memberi dia sesuatu yang lebih baik.
Sebaliknya, seorang anak yang manja, akan terus merajuk dan berbuat hal-hal buruk untuk menunjukkan kekecewaannya.
Perilaku anak manja yang tidak tahu berterima kasih seperti itu, ditunjukkan oleh bani Israel yang meskipun telah berulang-ulang kali mengalami kasih dan kuasa Allah yang dahsyat, tetap merasa Tuhan belum memberi apa-apa kepada mereka: ‘Adalah sia-sia beribadah kepada Allah.
Apa untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadapNya dan berjalan dengan pakaian berkabung (untuk menyatakan tobat) di hadapan Tuhan semesta alam?’ (Maleakhi 3 : 14).
Sebagai murid-murid Kristus, janganlah kita bersikap seperti orang-orang Israel ini ketika apa yang kita minta tidak diberikan Allah.
Setelah mengajarkan bagaimana harus berdoa, Kristus mengajarkan kita sikap hati dalam berdoa.
Dia ingin kita sepenuhnya percaya kepada Allah dan mau menyampaikan segala isi hati kita kepada Tuhan tanpa harus menutup-nutupi apapun.
Lihat juga: Jangan Gelisah, Percayalah pada Allah
Lihat juga: Relasi Mesra dengan Allah
Keterbukaan kepada Tuhan menunjukkan eratnya relasi kita denganNya, seperti relasi seorang anak kecil kepada orang tuanya.
Selain itu, yang juga sangat penting, Kristus ingin kita memiliki kedewasaan rohani dalam menyikapi jawaban-jawaban Allah atas segala doa permohonan.
Kita harus yakin bahwa tidak ada doa yang tidak didengar dan dijawab Bapa.
Tetapi, Allah hanya mau memberikan sesuatu yang berguna yang memang kita butuhkan untuk mengalami kebahagiaan sejati.
Dia tidak akan memberi sesuatu yang ‘serupa’ berupa kesenangan-kesenangan sesaat tetapi berakibat buruk di kemudian hari.
Kalau kita memiliki kepercayaan dan kepasrahan untuk masuk kedalam rancangan-rancangan Allah, maka inilah janji Tuhan kepada kita: ‘Mereka akan menjadi milik kesayanganKu sendiri. Pada hari yang Kusiapkan, Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia’. (Maleakhi3 : 17).
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan
Lihat juga: Tuhan Memberkati Kita Melalui Orang Lain
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.











