Rahmat Allah via Uang Kertas dari Celengan Anak

HATIYANGBERTELINGA.COM – Entah apa saja di benak saya hingga akhirnya mengorek uang kertas dari celengan kedua anak saya pada Rabu malam (21/5/2025). Uang kertas lembar hijau, 20 ribu dari celengan anak sulung dan lembar biru, 50 ribu dari celengan anak bungsu.

Sebelum menarik kedua uang kertas tersebut, saya sudah mengatakan kepada istri bahwa uang yang tersisa di dompet saya sisa beberapa lembar ribuan saja. Saldo dalam rekening payroll tidak sampai 25 ribuan.

Batin saya bergejolak karena penarikan uang kertas dari celengan itu. Akhirnya saya memutuskan malam ini merefleksikan kembali banyak hal dari pengalaman hidup dalam terang iman saya.

Refleksi ini bukan tentang sekadar cerita tentang anak sulung dan bungsu, ini juga bukan sekadar tentang cerita bendahara yang tidak jujur, bukan juga sekadar cerita lainnya dari Kitab Suci, tetapi ini kisah kehidupan nyata saya yang sampai pada titik terendah ini mengalami pengelolaan keuangan yang kurang baik dan benar.

Lihat juga: Lima Kiat Bijak Atur Pengeluaran Uang

Lihat juga: Tips Kelola Keuangan Keluarga dari Selebritas

Setelah akhir bulan Maret lalu, tidak ada lagi signifikan penghasilan tambahan dan kartu kredit pun saya putuskan untuk ditutup pada awal Mei ini. Keduanya itu telah membuat saya ketar-ketir soal penggunaan dana dalam keuangan saya.

Mungkin masih dibilang beruntung karena beberapa hari lalu saya sudah membeli susu dan popok anak untuk seminggu ke depan.

Namun pada saat ini, saya justru memikirkan piutang (pemberian pinjaman kepada orang lain) yang belum saya terima kembali uang milik saya. Sedangkan utang saya pada pinjaman koperasi masih dapat dibayarkan bulan depan.

Lihat juga: Tips Agar Ibu Tangguh Fisik dan Keuangan di Masa Pandemi

Lihat juga: Tips Keuangan untuk Milenial dan Gen Z

Ya, soal uang memang seperti mamon yang pada satu sisinya dibutuhkan tapi bukanlah tujuan dari akhir kehidupan ini. Bagi saya uang adalah sarana, tujuan akhirnya adalah untuk Tuhan dan kemuliaan Allah lebih besar.

Kalau dibilang kesal memang ada dalam diri saya ketika istri mengatakan: “pada malam ini di Jabu Bona terjadi pembobolan celengan anak”. Saya pun kemudian mencubit kedua pipinya beberapa kali seraya bergumam.

Kadang muncul juga kesal ke orang lain yang telah diberikan pinjaman uang, namun sulit mengembalikan uang yang telah dipinjamkan.

Ya, kalau mau dinyatakan kesalahan, letaknya pada diri saya yang tidak benar dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga kecil saya.

Lihat juga: Tips Ajarkan Anak Menabung

Lihat juga: Sembilan Aturan Penting dalam Pernikahan

Uang yang diterima saya selama ini memang dipergunakan dengan boros, tidak dilakukan efisiensi anggaran dan merasa diri untuk menyepelekan rezeki uang yang telah diterima.

Sejenak saya terbenam dalam pikiran bahwa kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, semoga tidak berlarut-larut lama hingga melarat.

Saya menyadari masih banyak orang yang menderita dalam kemiskinan, kelaparan dan kekurangan lainnya, melebihi pengalaman yang saya alami saat ini.

Malam ini saya tersadarkan kembali terhadap uang kertas 20 ribu dan 50 ribu yang sedikit robek-robek akibat dipaksa keluar dari celengan. Kedua uang itu saya perlu pergunakan untuk dana cadangan, berjaga-jaga bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Lihat juga: Tujuh Tips Efisiensi Uang untuk Bahan Makanan di Rumah

Lihat juga: Tips Kelola Keuangan Agar Ramadan Berjalan Aman dan Nyaman

Saya teringat ungkapan “menambahkan sehasta pada jalan hidupnya” dalam Matius 6:27, dalam Alkitab berbunyi,

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”

Ayat ini menekankan bahwa kekhawatiran tidak akan memberikan manfaat apa pun, bahkan tidak dapat memperpanjang hidup sedikit pun.

Demikianlah yang dapat saya temukan dari buah-buah refleksi pengalaman saya kali ini. Saya tidak perlu khawatir berlebihan karena saya punya Tuhan yang maha kasih, penuh berlimpah berkat dan berkuasa atas segalanya.

Saya masih percaya Tuhan yang menyertai kita, Allah Imanuel, Tuhan beserta kita.

Lihat juga: Perlindungan Allah Via Bearing Roda Motor

Lihat juga: Kebaikan Tuhan via Korek Gas

Sejak muda saya diteguhkan atas iman kepada Tuhan Allah yang menyediakan segala sesuatunya untuk saya dan hingga sekarang adanya keluarga kecil saya. Dia tetap menyertai dan memberkati.

Malam ini saya bersyukur tidak sangat kekurangan soal uang, tetapi di tempat lain ada orang lain yang lebih kesulitan dan kesusahan dalam membutuhkan bantuan yang ternyata belum dapat saya berikan untuk mereka.

Saya merefleksikan kembali dalam tulisan ini bahwa banyak hal yang dapat dimaknai dari peristiwa malam ini sebelum tidur. Mulai dari celengan anak-anak yang dibobol pertama kalinya hingga istri yang masih mau menemani suka duka hidup berkeluarga bersama saya.

Saat refleksi ini diketik di teras, anak-anak dan istri sudah berada di kasur untuk beristirahat malam. Tadi kami telah berdoa bersama dengan mendaraskan 3 kali doa Salam Maria.

Masing-masing dari kami mendoakan doa Salam Maria secara bergilir, satu kali – satu kali, bergantian mendaraskan doanya dengan diterangi lampu kecil lilin elektrik. Walaupun si Bungsu belum lancar mengucapkan doa Salam Maria namun keceriaannya saat ikutan berdoa bersama menjadi suatu sukacita tersendiri bagi kami.

Lihat juga: Doa Mulia Si Tukang Parkir

Lihat juga: Ayah yang Tidak Sempurna 2024

Sebelum mengakhiri tulisan refleksi pribadi ini, saya menyampaikan doa dalam hati untuk semua pergumulan yang sedang dihadapi ini kepada Bunda Maria dan Yesus Sang Sahabat Sejati.

“Bunda Maria, saya mohon bantuanmu untuk menyampaikan kepada Putra-Mu supaya dapat menolong kami seperti peristiwa kekurangan anggur dalam Pesta Pernikahan di Kana, kami mohon agar saudara-saudari kami yang lebih menderita dan lebih kekurangan dalam hidupnya dapat terselesaikan masalah hidup yang dihadapinya, terutama agar saya dapat diutus untuk selalu menjadi berkat bagi sesama kami yang membutuhkannya. Demikian doa, harapan dan permohonan ini disampaikan kepadamu Bunda, kiranya Yesus, Putera Allah mengabulkan dengan curahan Roh Kudus untuk kami menerima berkat Allah. Terima kasih Tuhan, untuk pengalaman hidup kami hingga detik ini, kami bersyukur dan memuji Engkau karena dapat melihat kebaikan dan rahmat Allah selama ini dan selama-lamanya. Dimuliakanlah Allah, kini dan sepanjang masa. Amin.”

Bekasi Utara, B14, pada hari biasa pekan Paskah V, 21 Mei 2025, SY Melki SP.

Lihat juga: Imanuel: Allah Menyertai Kita

Lihat juga: Yesus Utuslah Aku Menjadi Jala-Mu


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Wartakanlah Injil dengan Kasih

    1 Korintus 9:16-19, 22-23 Markus 16:15-20 Shalom, Sebelum Kristus kembali ke surga untuk bersatu dengan BapaNya, Dia memerintah kan semua muridNya untuk mewartakan Injil: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil

    Menyambut Raja Damai

    Yesaya 11:1-10 Lukas 10:21-24 Shalom, Setelah menyelesaikan tugasnya, ke 70 murid Kristus yang pertama kali diutus untuk mewartakan Injil, kembali menemui Kristus dengan gembira karena mereka mengalami sendiri bagaimana di

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Pendidikan Bernafas Eros

    Pendidikan Bernafas Eros

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Alleluya Kristus Bangkit; Awas Halelupa Halelupa

    Alleluya Kristus Bangkit; Awas Halelupa Halelupa

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading