“Breaktime” Bantu Sehatkan Mental Pada Masa Pandemi

HATIYANGBERTELINGA.COM – Psikolog klinis dari Angsamerah Institution, Inez Kristanti mengatakan memberikan jeda waktu atau breaktime dapat dilakukan seseorang untuk meringankan beban pikiran dan menekan potensi masalah kesehatan mental pada masa pandemi ini.

Menurut Inez, bekerja dari rumah telah mengaburkan garis waktu kita untuk beristirahat dan kembali bekerja.

“Sangat penting untuk bisa mengalokasikan waktu yang cukup bagi diri kita sendiri untuk beristirahat dan recharge,” kata Inez dalam diskusi daring terkait kesehatan mental antar pasangan yang digelar pada Jumat (17/7/2021).

Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia ini, tubuh dapat memberikan sinyal bahwa kondisinya sudah merasakan letih dan lelah. Namun bila diabaikan justru akan memicu stress.

“Waktu istirahat tidak harus memakan waktu lama yang penting memang didedikasikan untuk rehat,” jelas Inez.

Bentuk jeda waktu untuk tiap orang dikatakan Inez dapat berbeda-beda.

Sebagian orang bisa melepaskan rasa stress dengan berolahraga, memasak, menonton film atau bercengkrama dengan orang tersayang.

Meskipun bentuk jeda waktu bisa bervariasi untuk tiap-tiap orang, namun yang terpenting adalah kualitasnya bukan kuantitas.

“Karena percuma sebanyak apapun waktu jeda waktu yang kita punya tapi kita tidak pergunakan dengan maksimal. Badan bisa rebahan, tapi otak tetap bekerja itu sama saja bohong,” kata Inez.

Untuk yang sudah berpasangan, jeda waktu dapat menjadi alternatif untuk melakukan aktivitas yang berbeda dari biasanya.

Selain untuk melepas stress masing-masing, jeda waktu ini juga dapat kembali merekatkan hubungan pasangan yang dapat jadi renggang akibat kesibukan masing-masing saat WFH (work from home).

“Sekedar mengobrol dari hati ke hati, masak lalu makan bersama, atau nonton film. Hal-hal sederhana tapi bermakna,” kata Inez.

Sementara untuk mereka yang sudah memiliki buah hati, ada baiknya memperhatikan kebutuhan emosi anak tidak sekedar fisik seperti makan dan kebersihan pribadi.

Inez menjelaskan bahwa meskipun masih tergolong usia muda, anak-anak juga memiliki perasaan dan dapat merasa tertekan atau stress.

“Ajari anak untuk mengenali perasaannya. Kalau anak sudah bisa diajak berkomunikasi cobalah tanya bagaimana perasaannya, ngobrol sambil bermain bersama anak. Ini tampak sepele tapi inilah jeda waktu untuk anak,” jelas Inez.

Namun bila anak belum dapat diajak berkomunikasi, cobalah untuk meluangkan waktu dengan bermain bersama anak.

Alih-alih memegang dan memperhatikan gawai, Inez mengatakan untuk coba memperhatikan ekspresi anak sambil mengajaknya ngobrol tatkala bermain.

Leave a Reply