Cegah Pelecehan Anak dari Pelaku Child Grooming

HATIYANGBERTELINGA.COM – Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Kasandra A. Putranto menyebut terdapat sejumlah karakteristik pelaku child grooming yang harus diketahui oleh masyarakat guna mencegah anak terkena pelecehan seksual.

“Pelaku sering kali membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka, yang dapat terjadi di mana saja, baik di dunia nyata maupun di dunia maya,” kata Kasandra dilansir dari ANTARA di Jakarta, Selasa (8/4/2025).

Lihat juga: Anak Mendengkur Jadi Sinyal Bahaya

Kasandra mengatakan pelaku child grooming biasanya cenderung manipulatif, ia sangat terampil dalam melakukan manipulasi emosional, mampu membangun kepercayaan dan hubungan yang kuat dengan anak dan orang dewasa di sekitarnya.

Pelaku juga gemar menunjukkan empati dan perhatian yang berlebihan terhadap anak.

Lihat juga: Kiat Bimbing Anak Agar Tidak Ikut-ikutan Sedang Viral

Tujuannya yakni menciptakan kesan bahwa mereka peduli dan memahami kebutuhan anak.

“Pelaku sering kali memiliki kemampuan sosial yang baik, membuat mereka mudah bergaul dan disukai oleh anak-anak dan orang dewasa. Mereka mungkin menunjukkan minat yang tidak biasa terhadap kegiatan anak-anak, seperti bermain gim, berolahraga, atau hobi anak-anak lainnya,” katanya.

Lihat juga: Ikatan Batin Ibu-Anak Pengaruhi Tumbuh Kembangnya

Tak jarang, katanya, pelaku pun sering kali berusaha menyembunyikan niat jahat mereka, menggunakan berbagai cara untuk menjaga agar tindakan mereka tidak terdeteksi.

Namun, beberapa pelaku mungkin memiliki riwayat pelecehan seksual atau perilaku menyimpang di masa lalu.

Lihat juga: Tiga Dampak Bullying Anak Berawal dari Rumah

Adapun pihak yang dapat menjadi pelaku yakni orang dewasa yang dikenal termasuk keluarga, guru atau orang dewasa lain yang memiliki akses ke anak dan orang asing yang berinteraksi dengan anak-anak baik secara langsung maupun melalui platform online.

Dalam beberapa kasus, ditemukan remaja atau anak yang lebih tua dapat menjadi pelaku terhadap anak yang lebih muda.

Lihat juga: Pentingnya Mengobrol dengan Anak-Remaja

Selain itu, pelaku dapat menggunakan media sosial, aplikasi pesan, atau platform gim untuk menjalin hubungan dengan anak-anak dan pekerja sosial atau konselor dapat menyalahgunakan posisi mereka untuk melakukan grooming.

Kasandra turut menyebutkan bahwa para korban yang digemari pelaku biasanya adalah anak-anak yang merasa kesepian, merasa terisolasi atau tidak memiliki banyak teman sering kali menjadi target karena mereka lebih mudah terpengaruh, kurang percaya diri, memiliki masalah di rumah, memiliki pengetahuan yang terbatas dan menaruh minat pada media sosial maupun platform online lainnya.

Lihat juga: Tips Cegah Pelecehan Seksual Pada Anak

Menurutnya, setelah mengetahui karakteristik anak yang akan dijadikan korban, pelaku sering kali berusaha menghabiskan waktu untuk membangun kepercayaan dengan anak, menciptakan ikatan yang kuat sebelum mengarahkan hubungan ke arah yang lebih berbahaya.

Mereka juga gemar memberikan perhatian yang berlebihan dan pujian, pelaku membuat anak merasa istimewa dan diinginkan, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka terhadap pelaku.

Lihat juga: Lima Tips Hadapi Bullying Game Online

Korban pun diberikan rasa aman yang dapat membuatnya mudah berbagi cerita atau informasi pribadi dan rahasia.

“Pelaku dapat menggunakan teknik manipulasi, seperti gaslighting, untuk membuat anak merasa bingung atau meragukan diri mereka sendiri, sehingga lebih mudah untuk dikendalikan hingga berusaha mengisolasi anak dari teman-teman dan keluarga, sehingga anak lebih bergantung pada pelaku untuk dukungan emosional,” ujarnya.

Lihat juga: Sikap Asertif Selesaikan Konflik Keluarga

Proses child grooming dapat berlangsung dari beberapa minggu hingga beberapa tahun, tergantung pada strategi pelaku dan seberapa cepat mereka dapat membangun kepercayaan dengan anak.

Pelaku sering kali meluangkan waktu untuk menciptakan hubungan yang kuat sebelum melakukan eksploitasi.

Lihat juga: 10 Rahasia Buat Anak Jadi Lebih Cerdas


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Kecemasan Orang Tua Memperparah Alergi Anak

    HATIYANGBERTELINGA.COM – Dokter spesialis anak dari Universitas Indonesia dokter Tiara Nien Paramita M.Sc Sp.A mengatakan alergi yang terjadi pada anak dapat semakin parah jika orang tua terlalu panik dan cemas

    Kiat Persiapkan Anak Masuk Sekolah

    HATIYANGBERTELINGA.COM – Psikolog klinis anak dan remaja lulusan Universitas Padjajaran Michelle Brigitta Shanny M.Psi Psikolog mengatakan selain usia, banyak yang perlu diperhatikan orang tua untuk mempersiapkan anak masuk ke lingkungan

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Pendidikan Bernafas Eros

    Pendidikan Bernafas Eros

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading