Dengarkanlah Dia

Daniel 7:9-10, 13-14
Lukas 9:28-36

Shalom,

Sekitar 8 hari setelah Kristus mengatakan bahwa di Yerusalem Dia akan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh tetapi dibangkitkan pada hari ke 3 (Lukas 9:22), Kristus mengajak ke 3 rasul utamanya: Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke atas gunung untuk berdoa.

Alkitab tidak menyebut nama gunungnya tetapi tradisi meyakini bahwa itu adalah Gunung Tabor.

Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajahNya berubah dan pakaianNya menjadi putih berkilau-kilau.

Hal ini menggambarkan kesucian hatiNya yang tidak ternoda dosa apapun dan dari kesucian itu terpancar (sehingga terlihat berkilauan) kasih yang memberi kehangatan dan terang kepada semua orang.

Kemudian tampaklah nabi Musa dan nabi Elia bercakap-cakap denganNya tentang tujuanNya untuk pergi ke Yerusalem.

Sayangnya, pada saat percakapan itu terjadi ketiga rasul telah tertidur, sehingga mereka tidak mendengar apa yang dibicarakan.

Mereka tidak mendengar bahwa kemuliaan Kristus akan digenapi dengan penyerahan nyawaNya untuk menebus dosa manusia di Yerusalem.

Karena itu setelah terbangun, Petrus malahan ingin mempertahankan kemuliaan Kristus di atas gunung itu.

Lihat juga: Keberanian Berkorban untuk Mendapat Harta Terpendam

Lihat juga: Bersama Kristus Mengatasi Badai

Lalu tampaklah Kristus berbicara dengan nabi Musa dan nabi Elia.

Nabi Musa melambangkan kitab Taurat yang diterimanya dari Yahwe di gunung Sinai.

Sedangkan nabi Elia melambangkan Kitab Para Nabi, karena dialah nabi yang dinubuatkan akan datang kembali sebelum Mesias datang (Maleakhi 4:5-6).

Dengan begitu, Allah menunjukkan bahwa penderitaan dan wafat Kristus sebagai Putera Allah yang segera akan digenapi, tidak bertentangan dengan kitab Taurat dan kemuliaan Mesias yang dinubuatkan dalam kitab para nabi. Malahan Kristus menggenapi nubuat itu.

Kemudian datanglah awan menanungi mereka dan dari dalam awan terdengar suara: ‘Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia’.

Perintah Allah untuk mendengarkan Kristus yang berasal dari Allah Bapa, menunjukkan bahwa Allah sendiri telah memberi kuasa penuh kepada Kristus.

Inilah penggenapan dari nubuat Daniel yang diperolehnya dari penglihatannya: ‘Tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia. Datanglah ia kepada yang lanjut usianya itu, dan ia dibawa kehadapanNya. Lalu diberikan kepadaNya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap dan kerajaanNya kerajaan yang tidak akan musnah’ (Daniel 7:13-14).

Lihat juga: Mengikuti Bimbingan Allah

Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia

Pesan Allah Bapa itu mengulang kembali pesan yang telah Dia sampaikan saat Kristus dibaptis di sungai Jordan. Ini menunjukkan betapa pentingnya perintah itu.

Tetapi dalam pergulatan hidup, yang sering terjadi, kita justru begitu sibuk berseru-seru agar Tuhan yang mendengarkan doa-doa permohonan kita.

Begitu sibuknya sehingga lupa dengan apa yang dipesan Allah Bapa, untuk mendengarkan Kristus.

Akibatnya, banyak orang yang merasa letih sendiri dan mengeluh bahwa Tuhan tidak mau mendengarkan permohonan-permohonannya.

Berikanlah ruang dan waktu untuk mendengarkan Roh Kristus di dalam keheningan untuk mencoba memahami apa yang dikehendaki Bapa dari peristiwa yang sedang kita hadapi, sama seperti yang dilakukan Kristus ketika mengajak ketiga rasul utamaNya naik ke atas gunung, meninggalkan segala keramaian dunia.

Renungkanlah Firman Tuhan, karena di dalam FirmanNya tersimpan pesan-pesan Allah yang mungkin telah terlupa atau yang selama ini kita abaikan.

Dengarkanlah dulu suara Allah melalui Roh Kudus yang selalu membimbing kita untuk dapat memahami betapa sempurnanya rancangan-rancanganNya (Yeremia 29:11).

Jangan cepat menggerutu dan malahan menyesali Allah, di saat kita masih berada di dalam kegelapan. Ingatlah pesan Kristus: Berbahagialah orang yang mau mendengarkan Firman Tuhan dan dengan tekun melaksanankannya.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Kebahagiaan Hamba Allah

Lihat juga: Kasih adalah Dasar Kebahagiaan


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Mengabaikan Kebaikan Orang Lain Berarti Menolak Berkat Tuhan

    Malam ini, hari Rabu, 14 Januari 2026, saya duduk di depan laptop milik adik saya untuk mengetik refleksi yang telah direnungkan sepanjang jalan arah pulang kerja dari Jakarta menuju ke

    Wartakanlah Injil dengan Kasih

    1 Korintus 9:16-19, 22-23 Markus 16:15-20 Shalom, Sebelum Kristus kembali ke surga untuk bersatu dengan BapaNya, Dia memerintah kan semua muridNya untuk mewartakan Injil: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Pendidikan Bernafas Eros

    Pendidikan Bernafas Eros

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading