Zefanya 3:14-18,
Lukas 1:39-56
Shalom,
Kabar yang disampaikan malaikat Gabriel kepada Maria, adalah sesuatu yang terlalu dahsyat untuk dimengerti seorang gadis desa yang masih remaja.
Ketika dia bertanya, bagaimana hal itu dapat terjadi pada dirinya, Gabriel ‘hanya’ mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada hal yang mustahil.
Sebagai bukti kuasa Tuhan yang tidak ada batasnya, Gabriel menyampaikan kabar bahwa Elisabet yang masih keluarganya, di masa tuanya saat itu tengah hamil 6 bulan, padahal selama ini dia dikatakan mandul.
Terdorong untuk mendapat peneguhan bahwa apa yang dia dengar, bukan suatu halusinasi saja, Maria bergegas melakukan perjalanan jauh, lintas provinsi, untuk mengunjungi Elisabeth yang tinggal di dekat Yerusalem di provinsi Yudea.
Lihat juga: Peringatan Wajib St. Perawan Maria Bunda Gereja
Lihat juga: Paus Fransiskus Minta Bunda Maria Melindungi Korban Bom Katedral Makassar
Setibanya di rumah Elisabet, baru saja Maria memberi salam (belum sempat bercerita apa-apa), Elisabeth mendapat karunia sabda pengetahuan dari Roh Kudus sehingga dia berseru: “Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimnu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
Oleh kuasa Roh Kudus, Elisabet tahu bahwa Maria yang saat itu belum menikah, sedang hamil dan lebih hebat lagi dia tahu bahwa Bayi dikandungannya adalah Bayi Mesias!.
Pertemuan kedua wanita yamg sangat diberkati Tuhan ini, bukan hanya memberikan keteguhan dan kegembiraan kepada keduanya, tetapi juga kepada semua orang yang terpanggil untuk percaya, karena Elisabet bernubuat: ‘Berbahagialah ia (bukan engkau) yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana’.
Kelak nubuat Elisabet ini juga diajarkan Kristus kepada orang-orang yang sedang mendengarkannya:
‘Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang meme lliharanya (di dalam hatinya) (Lukas 11:28).
Lihat juga: Kasih adalah Dasar Kebahagiaan
Lihat juga: Kunci Bahagia: Nikmati Momen Saat Ini
Nabi Zefanya adalah salah satu nabi yang bernubuat tentang akan lahirnya Mesias:
‘Bersukacitalah dan berria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni Tuhan, ada di antaramu, engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi’ (Zefanya 3:14-15).
Yang dimaksud puteri Yerusalem bukan hanya kaum wanita Yerusalem saja, tetapi semua orang Yahudi saat itu, karena di dalam menantikan kedatangan Mesias, mereka memposisikan diri sebagai seorang mempelai puteri yang sedang menantikan kedatangan memperlai pria, yang di dalam kasih akan membawanya ‘ke dunia’ lain yang penuh kebahagiaan.
Nubuat ini menyampaikan bahwa kedatangan Mesias adalah untuk melepaskan kita semua dari kutukan dosa.
Mesias akan menebus kita yang disandera oleh kenikmatan-kenikmatan dosa yang pasti membawa penderitaan, kalau mau percaya dan mentaati Dia.
Lihat juga: Pesan Terakhir Kristus Menjelang Kenaikan ke Surga
Lihat juga: Damai Sejahtera dari Kristus
Setelah perjumpaan yang meneguhkan itu, Maria berdoa dan bersyukur kepada Allah:
‘Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambanya. Sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan namanya adalah kudus’.
Maria mengatakan bahwa semua orang akan mengatakan bahwa dia adalah wanita yang paling berbahagia, padahal kehidupan dia selanjutnya penuh dengan tantangan dan kebingungan.
Hal ini dapat terjadi karena sejak menerima kabar dari Gabriel, Maria telah memposisikan diri sebagai hamba Allah.
Kebahagiaan seorang hamba adalah kalau dapat melakukan tugasnya dengan baik, sehingga menyenangkan tuannya.
Karena itu meskipun bunda Maria mengalami banyak hal yang sangat sulit dan menyedihkan untuk ditanggung seorang ibu, hatinya tetap bersyukur karena dia dimampukan melakukan semua tugasnya sebagai seorang hamba Allah yang setia.
Lihat juga: Ikatan Batin Ibu-Anak Pengaruhi Tumbuh Kembangnya
Lihat juga: Ayah Ibu Miliki Peran Sama dalam Asuh Anak
Mari kita teladani kerendahan hati dan kesetiaan bunda Maria dalam memposisikan diri sebagai hamba Allah.
Janganlah terus memaksa Allah mengikuti apa yang kita kehendaki, karena seorang hamba tidak punya hak untuk memaksa tuannya mengikuti kemauannya.
Di dalam kesetiaan dan ketaatan sekalipun tidak mengerti, pada saatnya kita akan melihat kesempurnaan rencana Allah yang tidak mampu kita pikirkan sebelumnya.
Semoga dengan membuka diri untuk dipimpin Roh Kudus, kita dapat meneladani kesetiaan dan kerendahan hati Bunda Maria, agar damai sejahtera senantiasa ada pada diri kita.
Tuhan membekati kita.
Lihat juga: Damai Sejahtera Bersama Yesus (Yoh 14:27-31)
Lihat juga: Damai Sejahtera dari Kristus
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












