Kisah Para Rasul 14:19-28,
Yohanes 14:27-31a
Shalom,
Setelah Kristus berjanji untuk mengutus Roh Kudus yang akan menolong para muridNya sampai akhir zaman, Kristus juga berjanji memberi damai sejahteraNya kepada orang-orang yang mengasihiNya, yaitu orang-orang yang dengan taat mau melakukan ajaran-ajaranNya.
Damai sejahtera (shalom) yang dijanjikan, bukan suatu keadaan aman, tenang, menyenangkan menurut pengertian dunia, tetapi kedamaian karena percaya penuh bahwa Allah selalu memberi yang terbaik, sehingga dengan penuh iman kita mau berserah: ‘Jadilah kehendakMu’.
Selain itu, damai sejahtera Kristus berupa kekuatan kasih di dalam diri kita untuk dapat menerima/memahami semua orang dengan segala kekurangan, kelebihan dan keunikannya.
Dengan pemahaman-pemahaman itu damai sejahtera yang berasal dari Kristus ini tidak banyak tergantung dari situasi kondisi di sekitar kita yang harus dihadapi.
Kedamaian seperti inilah yang membuat murid-murid Kristus dapat terus bertahan di saat mereka diutus ke tengah masyarakat yang memusuhi atau malahan menganiaya mereka.
Lihat juga: Hidup Baru yang Membawa Kedamaian
Lihat juga: Pastor Kopong MSF Ajak Perdamaian Tanpa Merusak, Tidak Ada Bela Israel Atau Bela Hamas!
Ketika Paulus dengan kuasa Kristus menyembuhkan orang yang kakinya lumpuh sejak lahir di Listra, orang-orang yang menyaksikannya mengira dia dan Baranabas dalah dewa-dewa yang datang ke dunia. Tetapi kemudian datang orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium.
Mereka meyakinkan orang-orang untuk tidak mau percaya kepada keduanya karena yang mereka ajarkan adalah pemahaman-pemahaman ‘sesat’ dari hukum Taurat.
Mereka sangat marah kepada Paulus dan Barnabas karena mengajarkan bahwa keselamatan dari Allah bukan hanya untuk orang-orang Yahudi saja.
Orang-orang ini mempengaruhi penduduk di Listra sehingga Petrus dan Barnabas dirajam batu.
Karena mengira dia sudah mati, mereka menyeret ‘jenazah’ Paulus sampai ke luar kota dan meninggalkan dia di situ.
Tetapi ketika orang-orang yang telah percaya kepada Kristus datang mengelilinginya, terjadilah mujizat.
Lihat juga: Membawa yang Lumpuh ke Hadapan Kristus
Lihat juga: Menghayati Mujizat di Kana
Paulus sembuh dari luka-lukanya dan kekuatannya juga pulih. Dengan berani dia masuk lagi ke dalam kota Listra.
Baru besoknya dia dan Barnabas pergi ke Derbe yang masih satu provinsi.
Di Derbe keduanya terus mewartakan Injil Kristus dan memperoleh banyak murid.
Setelah itu dengan sangat berani mereka kembali lagi ke Listra, Ikonium dan Antiokhia, kota-kota di mana mereka hampir saja dibunuh.
Semangat dan keberanian Paulus dan Barnabas dalam mewartakan Injil, menunjukkan bahwa damai sejahtera Kristus telah menetap di dalam diri mereka.
Mereka bukan hanya dapat mengalahkan rasa takut karena pernah disiksa dan mengalami pencobaan pembunuhan, tetapi keduanya juga tidak menaruh dendam kepada orang-orang yang telah menolaknya dengan sangat keras dan brutal di ketiga kota tersebut.
Lihat juga: Iri Hati dan Cemburu
Lihat juga: Berbelas Kasih
Sebagai murid-murid Kristus saat ini, apakah kita juga punya sikap hati seperti Paulus dan Barnabas: tidak mendendam, tidak menyerah ketika pelayanan kasih kita ditolak, disalahartikan atau tidak dihargai?
Di dalam kehidupan, bahkan di dalam pelayanan sering kita harus berhadapan dengan situasi yang sulit, bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, yang tidak punya komitment atau yang terbiasa berbicara tajam menyakitkan dan berpikir dari sisi yang paling negative sehingga melemahkan semangat.
Orang-orang seperti ini selalu mencari-cari dan membesar-besarkan kesalahan atau kekurangan orang lain untuk menonjolkan diri.
Dalam menghadapi tantangan seperti ini, mari kita melihatnya bukan sebagai suatu rintangan apalagi sebagai alasan untuk mundur, tetapi sebagai ujian yang dibiarkan terjadi oleh Tuhan, untuk menguji apakah sungguh damai sejahtera yang dianugerahkan Kristus kepada setiap kita, benar-benar telah ada dan menetap di dalam diri kita.
Lihat juga: Penampakan Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Lihat juga: Menjadi Murid Kristus
Kristus mengatakan lebih dulu kepada para rasul tentang kepergianNya, tentang wafatNya di kayu salib, agar para rasul dan murid-muridNya tetap percaya bahwa Dia adalah Mesias dan Putera Allah yang mampu mengetahui segalanya.
Dia rela mengalami penderitaan dan penghinaan hebat, karena tahu bahwa inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan semua orang dari kutukan dosa dan sebagai jalan yang diinginkan Allah untuk Dia kembali bersatu dengan Bapa.
Kristus mengalami segala kekejian yang dilakukan penguasa dunia yaitu iblis yang memperalat pemimpin-pemimpin agama Yahudi dan penguasa Roma, bukan karena tidak mampu menghadapinya, tetapi untuk memberi kesaksian bahwa Ia sangat mengasihi kita dan Ia mau taat kepada Bapa sampai wafat.
Lihat juga: Komitmen dan Kesetiaan Mengasihi Allah
Kalau saat ini Tuhan membiarkan kita bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang menjengkelkan, yang sering menyakitkan hati dengan kata-kata dan perbuatannya, yang membenci dan selalu sinis terhadap diri kita, janganlah kalah dan kemudian jatuh di dalam kebencian, kemarahan atau dendam.
Dengan memohon kekuatan dari Roh Kudus, jadikanlah segala hal tersebut sebagai sarana untuk membuktikan bahwa kita sungguh mau mencintai Allah, mau taat kepada ajaran-ajaran Kristus.
Dengan sikap hati dan pemikiran seperti ini, damai sejahtera akan selalu ada di dalam diri kita.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Bersaksi Setelah Disembuhkan
Lihat juga: Ngubah Hati Najis Jadi Berkat
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












